Tampilkan postingan dengan label Japan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Japan. Tampilkan semua postingan

Selasa, 27 September 2016

Review Wolf Girl and Black Prince Live Action


Film yang dibintangi oleh si aktor ganteng yang lagi laris manis di Jepang, Yamazaki Kento, ini dirilis pertama kali pada 28 Mei 2016. Film ini merupakan live action adaptasi dari manga dan anime karya Ayuko Hatta dengan judul "Ookami Shoujo to Kuro Ouji" yang artinya kalau diromajikan ya "Wolf Girl and Black Prince".

Kiri: versi live action. Kanan: versi manga/anime.


Inti ceritanya tentang Erika Shinohara (Fumi Nikaido), seorang siswi SMA yang pengen keliatan ngeksis di antara temen gank-nya di sekolah. Jadi si Erika ini, sejak pertama masuk ke SMA, kayak semacam terobsesi pengen nge-gank dan takut sendirian nggak punya temen. Walau akhirnya Erika berhasil nge-gank, tapi ternyata teman-teman gank Erika itu adalah cewek-cewek yang doyan gosip, dendong, dan ahli dalam hal pacaran. Sementara Erika? Well, doi tuh jomblo akut sejak orok. Grook! -_-

Fumi Nikaido sebagai Erika Shinohara

Tapi demi bisa tetap dianggep keren sama gank-nya, Erika ngarang cerita kalau doi juga punya cowok ikemen dan terdengar begitu ahli dalam berpacaran. Dan demi mendukung cerita khayalnya, doi kadang sampe minta Ayumi Sanda (Mugi Kadowaki), sohibnya dari kecil, untuk nelpon doi di tiap jam istirahat dan berpura-pura kalau itu telepon dari pacarnya Erika.

Sampe saat Erika lagi terima telepon dari sohibnya itu di toilet, doi nguping temen-temen gank-nya yang kepo gimana cowok Erika sebenernya. Mereka terdengar mulai curiga kalau Erika cuma omdo alias ngemeng doang kalau doi beneran punya cowok secara Erika nggak pernah nunjukkin cowoknya kayak apa. Ngedenger itu, Erika galau. Doi nggak mau kalau gegara ini doi didepak dari gank dan punya masa SMA suram sendirian tanpa temen.

Waktu Erika lagi curhat soal kegalauannya ini dengan sohibnya si San-Chan di cafe, tetiba doi ngeliat sesosok cowok ikemen yang heboh dikepoin pengunjung cafe lagi jalan di luar. Dan tetiba ide nggak masuk akal itu kepikiran sama Erika. Nggak pake pikir panjang, Erika dan San-Chan stalking si cowok sepanjang jalan. Dan saat ada kesempatan... jepret! Erika langsung moto muka si cowok ikemen dari depan dengan hapenya dan kabur gitu aja!


Besoknya, dengan sok iyes banget, Erika pamerin foto si cowok ikemen nggak dikenal itu sebagai pacarnya di depan gank-nya. Jelas aja, gank-nya ter-wow-ria liat foto 'pacar' Erika yang emang beneran ikemen kayak yang selama ini diceritain. Tapi salah satu temen gank-nya tetiba inget kalau si 'pacar' Erika itu nggak lain nggak bukan adalah cowok yang dijuluki Pangeran di sekolah mereka, Sata Kyouya (Yamazaki Kento). Dan saat mereka beneran yakin kalau foto itu adalah Kyouya, mereka buru-buru ngibrit ke kelas Kyouya untuk buktiin keyakinan mereka. Terus Erika? Panik setengah hidup!

Yamazaki Kento sebagai Sata Kyouya

Begitu sampe di depan kelas Kyouya, ternyata cowok yang dimaksud nggak ada di dalem dan justru berdiri di belakang mereka. Saat itu, Kyouya tetiba inget dengan Erika si cewek mesum yang kemarin udah moto dia diem-diem di jalan. Tapi sepersekian detik berikutnya, dengan panik Erika buru-buru narik Kyouya menjauh dari gank-nya. Melihat 'keakraban' antara Kyouya dan Erika itu, teman-temannya mulai yakin kalau mereka benar berpacaran.


Di kolam renang sekolah, saat situasi udah dirasa aman tanpa teman-temannya, Erika menjelaskan situasi sebenarnya pada Kyouya dan alasan kenapa kemarin dia nekad mengambil foto Kyouya. Tanpa diduga, Kyouya memaklumi alasan Erika dengan tersenyum. Bahkan saat Erika memberanikan diri untuk meminta Kyouya berpura-pura menjadi pacarnya agar teman-temannya nggak curiga, Kyouya langsung setuju dengan tetap tersenyum manis. Erika berpikir, pantes aja nih cowok disebut Pangeran. Selain ganteng setengah busyet, doi juga ramah dan baik hati banget! Erika jadi beneran melted dengan Kyouya.

Etapiiii... itu cuma pikiran sesaat Erika aja. Karena tetiba sikap Kyouya berubah saat doi mengajukan syarat untuk menjadi pacar boongan si Erika. Nggak ada lagi senyum manis khas Pangeran yang ditunjukkin Kyouya. Bahkan doi ngasih syarat aneh kalau Erika minta doi jadi pacarnya: Erika kudu muter tiga kali, abis itu menggonggong sambil pegang tangannya Kyouya kayak doggy. Dan selama mereka nanti berstatus 'pacaran', maka selama itu juga Erika resmi menjadi 'anjing peliharaan' Kyouya. Ebusyeeet!


Daaan... sejak itulah dimulai drama dalam hidup Erika. Semua karena Kyouya. Yup, Sata Kyouya, cowok yang dijuluki Pangeran di sekolah itu, aslinya nggak lebih dari seorang cowok tersadis yang pernah dikenal Erika. Dan entah kenapa, kesadisan Kyouya cuma ditunjukkin di depan Erika aja.

Well, untuk selanjutnya? Yeah, same as you think! You know lah standar drama cecintaan gimana endingnya! Uhuks!

* * *

Berbulan-bulan gue galau tingkat kecamatan nungguin link download film ini. Dan begitu link-nya nongol... oh well... gimana ya ngomongnya... eerrr... sorry to say, tapiii... gue ngerasa agak nggak worth it gitu penantian selama berbulan-bulan! T_T

Untuk manganya, gue emang cuma baca setengahnya aja. Tapi versi animenya, gue udah nonton sampe khatam. Jadi at least, sebelum nonton live action ini, gue udah tau inti cerita dan para tokohnya. Jadi yaaah... gitu deh... jujur aja gue kecewa dengan penggarapan live action ini yang nggak sesuai ekspektasi awal. Padahal yang maen Yamazaki Kento. Which is doi dijuluki Shoujo Manga Prince (baca: Pangeran yang muncul dari dalam shoujo manga/komik cewek Jepang karena seringnya doi main live action shoujo manga didukung pula dengan tampang dan fisiknya yang ikemen). Sebenernya gue juga lagi kesintingan banget sama Kento. Jadi segala film dan doramanya gue pantengin (review gue tentang film live action doi yang lain "Orange", ada di sini). Makanya gue pikir pasti keren deh nih live action kalau yang maen Sang Shoujo Manga Prince. Ekspektasi gue sih bakal seseru filmya Kento dulu, "Heroine Shikakku". Nyatanyaaa...

  • Pertama, alurnya lambaaaaaaat banget! Tipikal kebanyakan film Jepang emang gitu sih, tapi gue nggak berpikir kalau live action ini bakal punya alur selambat gitu juga! Huhu. Secara kalau dibandingin dengan manga atau animenya, keduanya seru banget diikutin dan nggak bikin ngantuk. Waktu nonton live action ini, baru beberapa menit pertama aja gue udah bosen. Gue pikir itu cuma di awal doang dan bakal ada kemajuan alur atau kejutan di scene-scene berikutnya. Ternyata... ya gitu, deh!
  • Kedua, ceritanya dibuat sedikit berbeda dengan versi manga/anime. Well, banyak sih live action dibuat dengan cerita yang beda dengan versi asli manga/animenya. So, bagi gue it's not a big deal. Toh inti ceritanya tetep sama. Tapi... heeeiii... mereka hilangin ke mana humor dan kekocakan khas live action Jepang? Garing sumpah!
  • Ketiga, menurut gue pengambilan angle kamera dan editing film ini buruk! Gue bukan ahli sinematografi, tapi sebagai orang awam pecinta film dan dengan background gue di Ilmu Komunikasi (which is waktu kuliah gue juga mempelajari basic dunia perfilman), film ini jadi kayak digarap sama orang-orang amatir. Please deh, kenapa harus selalu ngambil long shot mulu? Gue sampe nggak tau di mana dan gimana ekspresi si tokoh yang lagi ngobrol karena selalu disorot dari jarak jauuuuh banget dan yang keliatan cuma jalanan doang! Long shot oke, tapi seenggaknya ngeditnya kasih effort dikit, kek! Gonta-ganti angle dengan close up ke wajah para tokohnya bisa, doooong? Selain itu, ada beberapa scene yang menurut gue nggak penting untuk ditampilin dengan durasi yang kepanjangan. Misalnya, saat Erika pulang dari apartemen Kyouya sambil nyanyi sepanjang jalan, atau waktu Erika nangis pulang sepanjang jalan setelah berantem dengan Kyouya di cafe. Gue pikir dengan durasi begitu bakal ada kejutan di jalan, ternyata ya flat gitu doang! *tepok jidat*
  • Keempat, oh my God... what happen to you, Kento? Ke mana Sang Shoujo Manga Prince yang mampu memerankan tokoh cowok ikemen dari shoujo manga dengan perfect? Apa dia nggak inget kalau dia berperan sebagai Kuro Ouji alias Black Prince? Well, semua pasti setuju kalau Kento aslinya emang beneran punya aura Pangeran yang bisa bikin cewek manapun klepek-klepek (termasuk eikeh... uhuks!). Tapi untuk sampe ke level Black Prince... gue rasa nggak! Kento itu masih terlalu sweet untuk dijuluki Black Prince. Gue rasa yang cucok dijuluki sampe setingkat Black Prince itu ya si Nakajima Kento (iye, namanya sama-sama Kento!) di live action "Kurosaki-kun no Iinari ni Nante Naranai". Cowok sadis dengan mata iblis tapi tetep hot! Eeaaaa...!

Tapiiii... walau dengan segala minusnya, live action ini tetep gue kelarin juga dan masih banyak orang yang kepo melototin live action ini sampe sekarang. Makasih buat Kento. Iya, walaupun akting Kento nggak sesuai ekspektasi, tapi pamor live action ini ketolong banget dengan adanya doi. Ya iyalah, fans Kento tuh bejibun dari seluruh dunia dan emang doi PLN (Pasaran Lagi Naik) banget sekarang. Apalagi di live action ini Kento tampil beda dengan ngecat blonde rambutnya. Jadi mau gimana juga nih bentuk live action, gue yakin, selama yang maen si Kento sih aman ajalah! *ditimpuk bata sama massa*

Masih ada beberapa live action Kento yang dijadwalkan launching akhir tahun ini dan tahun depan. Semoga di beberapa live action itu Kento bisa tampil lebih maksimal sesuai julukannya sebagai Shoujo Manga Prince. Eh, tapi kalau orang ganteng mah bebas, sih! Mau gimana juga, Kento tetep ganteng! *apasih*

Yang kepo tapi ragu pengen ikut nonton, monggo ceki dulu trailernya di bawah...


Yang butuh link buat sedot filmnya, nih gue kasih...
Versi Subtitle Bahasa Inggris
Versi Subtitle Bahasa Indonesia

Happy watching! Okehtengsbai!

*) Gambar: berbagai sumber

Kamis, 16 Juni 2016

Review J-Movie: Orange (Orenji)


Menurut elo, dunia paralel itu ada, nggak? Itu lho, dunia yang menghubungkan antara masa lalu dan masa depan. Gue masih ragu sama segala yang berkaitan dengan penjelajahan waktu. But who knows?

Well at least, apa yang dialami Takamiya Naho (Tao Tsuchiya) pada musim semi yang bertepatan di hari upacara penerimaan siswa baru di sekolahnya, nunjukin kalau dunia paralel itu emang ada. Saat itu Naho tetiba mendapati surat yang dikirim untuknya yang saat ini berusia 16 tahun dan masih duduk di bangku kelas 2 SMA, dari dirinya sendiri di 10 tahun mendatang di masa depan.


Dalam surat tertulis bahwa Naho di masa depan meminta pada Naho yang masih duduk di bangku SMA untuk membantunya mengubah semua hal di masa lalu yang disesali Naho di masa depan. Dan semuanya bermula dari hari itu. Dalam surat dikatakan, pada hari itu akan ada siswa pindahan dari Tokyo bernama Naruse Kakeru (Yamazaki Kento) dan dia akan duduk di sebelah Naho. Dan bener aja, bertepatan saat itu, guru Naho memperkenalkan seorang siswa baru dari Tokyo bernama Naruse Kakeru dan memintanya duduk di sebelah Naho. Persis. Semua persis seperti yang ditulis di surat. Sampai di sini, Naho mulai curiga dan takut. Apakah seseorang tengah mengerjainya?

Naruse Kakeru (Yamazaki Kento)

Saat pulang sekolah, Naho mengecek kembali isi suratnya. Lagi-lagi, apa yang tertulis di surat, sungguh terjadi pada dunia Naho sebenarnya. Di sana tertulis kalau Naho dan para sahabatnya, antara lain Hiroto Suwa (Ryo Ryusei), Saku Hagita (Dori Sakurada), Takako Chino (Hirona Yamazaki), dan Azusa Murasaka (Kurumi Shimizu), akan mengajak Kakeru untuk jalan bersama mereka sepulang sekolah. Di surat, 'Naho' meminta agar jangan sampai Kakeru ikut dengan mereka. Pokoknya jangan. Nyatanya, mereka memang mengajak Kakeru dan Kakeru sempat menolak tapi kemudian atas bujukan para sahabatnya, Kakeru pun bersedia ikut bersama mereka. Naho ragu untuk mengikuti permintaan di surat atau nggak. Tapi pada akhirnya Naho berpikir kalau mengajak Kakeru adalah keputusan yang tepat karena membuat suasana semakin seru dan menjadi awal keakraban mereka. Naho saat itu, sama sekali nggak pernah menyangka apa yang bakal terjadi selanjutnya akibat telah memilih sebuah keputusan yang bertolak belakang dengan permintaan dalam surat.

"Orange" versi live action. Dari ki-ka: Takako, Azu, Hagita, Naho, Kakeru, Suwa.

"Orange" versi manga.

Setelah hari itu, Kakeru absen selama dua minggu. Nggak ada petunjuk apapun di surat mengenai absennya Kakeru. Namun saat Kakeru kembali masuk sekolah, Naho nggak melihat ada yang aneh pada diri Kakeru dan Kakeru tetap mengikuti pertandingan sepak bola sekolah sebagai pemain cadangan. Naho kembali teringat pada isi surat. Pada hari itu, Naho diminta untuk menghapus penyesalan lainnya. Dan di atas itu semua, pada hari yang sama, tertulis kalau Naho akan mulai jatuh cinta pada Kakeru.


Oke, cinta. Jadi ini film cecintaan? Mungkin. Tapi mungkin juga bukan. Karena kisah tentang isi surat Naho mengenai penyesalannya di masa depan dan--tentu aja--Kakeru, masih berlanjut...

Jadi, sejak jalan bareng di hari upacara penerimaan siswa baru, Kakeru, Naho, dan para sahabat Naho menjadi akrab. Tapi ternyata hal itu nggak lantas membuat Kakeru membuka diri begitu aja dengan mereka. Naho dan para sahabatnya sama sekali nggak tau bahwa ternyata Kakeru selama ini menyimpan kepedihan yang begitu mendalam akibat kematian ibunya yang bunuh diri tepat di hari upacara penerimaan siswa baru. Kakeru terus memendam penyesalan karena sebelumnya telah bertengkar dengan ibunya dan nggak bisa berada di sisi ibunya saat itu. Kakeru merasa ibunya bunuh diri karena dia. Naho di masa depan menulis jika dia begitu menyesal karena nggak pernah menyadari beban kepedihan yang ditanggung sendiri oleh Kakeru tersebut. Naho di masa depan juga menulis ada begitu banyak hal lain yang disesalinya karena nggak dia lakukan untuk Kakeru, meski dia begitu ingin melakukannya. Dan yang paling utama, Naho di masa depan menyesal karena dia dan para sahabatnya nggak bisa menyelamatkan dan memenuhi janji mereka pada Kakeru. Karena di 10 tahun mendatang, Kakeru nggak lagi bersama dengan mereka. Kakeru telah meninggal karena kecelakaan. Nggak, mungkin lebih tepatnya kecelakaan yang disengaja. Kakeru bunuh diri menabrakkan sepeda yang dinaikinya ke arah mobil akibat nggak kuat lagi menahan kepedihan dan rasa bersalahnya atas kematian ibunya.

Kakeru membayangkan ibunya masih hidup dan berada di depannya

Naho, tentu aja, nggak mau hal yang tertulis dalam surat menjadi kenyataan dan menimpa Kakeru. Untuk itulah, Naho yang masih duduk di bangku SMA bertekad akan menghapus semua penyesalan Naho di masa depan, termasuk menyelamatkan dan memenuhi janji mereka pada Kakeru.

Namun, Naho berpikir nggak mungkin semudah itu menghapus segala penyesalan yang ada, terlebih menyelamatkan Kakeru. Lagipula, surat dari dirinya sendiri di masa depan? Siapa yang bakal percaya?

Tapi ternyata sesuatu yang lain mengejutkan Naho. Bukan hanya dia yang menerima surat yang ditulis oleh dirinya sendiri di masa depan. Sahabatnya, Suwa, juga menerima surat yang sama, yang ditulis oleh dirinya sendiri dari 10 tahun di masa depan. Dan apa yang tertulis di surat yang diterima Suwa, nggak beda jauh dengan apa yang tertulis pada surat Naho. Tentang segala hal mengenai Kakeru dan tentang penyesalan Suwa serta para sahabatnya yang nggak bisa memenuhi janji mereka pada Kakeru.

Meski awalnya sempat menyembunyikan perihal surat mereka pada Hagita, Takako, dan Azu, namun pada akhirnya Naho dan Suwa menceritakan semua kepada ketiganya. Walau mereka sulit percaya pada surat dari masa depan, tapi demi Kakeru, mereka bersedia melakukan apapun. Mereka akan menghapus penyesalan mereka di masa depan, karena berdasarkan yang tertulis di surat, dulu mereka nggak peka atas beban dan kepedihan yang ditanggung sendiri oleh Kakeru. Maka saat ini, mereka ingin Kakeru menyadari bahwa dia nggak sendirian. Mereka ingin agar Kakeru tau bahwa dia punya para sahabat yang akan selalu melindungi dan bersedia berbagi beban yang disembunyikannya. Dan tentu aja, mereka ingin menyelamatkan Kakeru. Mereka nggak mau Kakeru bunuh diri karena terlalu berat menanggung semuanya sendiri.


Tapi, tepat di tanggal 31 Desember, tanggal kematian Kakeru seperti yang tertulis di surat, Kakeru nggak bisa dihubungi dan nggak datang ke tempat janjian mereka untuk merayakan tahun baru bersama. Naho dan para sahabatnya mulai khawatir. Akankah apa yang tertulis di surat menjadi nyata? Akankah Kakeru benar-benar meninggal karena bunuh diri hari itu? Akankah mereka mengulang penyesalan yang sama di masa depan karena nggak mampu menyelamatkan Kakeru? Lantas, seandainya Kakeru berhasil diselamatkan, apakah mereka yakin masa depan akan berubah?

* * *

Aaaaahh~~~~ it moved my heart! Truly, really, deeply!

Berulang kali nonton film ini, tetep aja gue mewek. Terutama di scene-scene tertentu yang nunjukin gimana tulusnya Naho dan para sahabatnya yang siap sedia berbagi beban, melindungi, dan melakukan apapun demi Kakeru. Kayak nemuin harta karun kalau punya sahabat kayak gitu. Iya, nggak, sih? T_T *lap mata*

Awalnya gue cuma penasaran aja pengen nonton semua film dan doramanya Yamazaki Kento alias Yamaken sejak liat dia di live action "Another" lanjut perannya sebagai L di "Death Note" dorama (yang "Death Note" agak bikin kecewa sih karena penggambaran karakter L versi Yamaken beda sama penggambaran versi manga asli dan live action movie-nya). Tapi finally, dari sekian film dan dorama Yamaken yang udah gue tonton, "Orange" adalah salah satu yang paling bikin hati gue nyesss klepek-klepek gimana gitu. Yah, emang dasarnya gue lebih demen film dan dorama persahabatan dibanding cecintaan, jadi waktu nonton ini gue dengan gampangnya langsung melted lebay.

Film "Orange" (atau "Orenji" dalam pelafalan Bahasa Jepangnya) ini merupakan live action dari manga karya Ichigo Takano dengan judul yang sama yang diterbitkan pada tahun 2012. Film ini rilis di Jepang pada Desember 2015 dan disutradarai oleh Kojiro Hashimoto. Gue belum baca manganya, jadi nggak bisa komen banyak, apalagi ngebandingin dengan versi live actionnya ini. Tapi menurut gue, Yamaken yang berperan sebagai Kakeru cukup oke berakting menjadi seorang cowok frustasi tapi tetep pengen keliatan tegar di depan sahabat-sahabatnya. Terbukti, gue jadi pengen banget ikutan puk-puk doi tiap liat ekspresi putus asanya itu. Pake sedikit peyuk-peyuk manja juga nggak apa-apa deh biar lebih varokah, vroh! *eh*

Dari segi cerita, walau nggak masuk ke otak gue gimana caranya surat dari masa depan bisa terkirim ke masa lalu, tapi alurnya enak diikutin dan berhasil buat gue kepo bakal kayak apa endingnya. Ikatan persahabatan antara Naho, Kakeru, Suwa, Hagita, Takako, dan Azu yang begitu kuat, ngajarin kita sesuatu. Persahabatan sejati itu nggak melulu soal hepi-hepi bareng. Justru di titik terendah di hidup kita, ketulusan persahabatan itu diuji. Orang-orang yang masih setia di sebelah kita, bahkan rela melakukan apapun demi kita, itulah yang pantas disebut sahabat sejati.

Judul "Orange" ini juga lumayan bikin gue penasaran dari awal. Simple tapi bikin bertanya-tanya. Apalagi kalau belum baca sinopsisnya. Orange? Cerita tentang jeruk? Hehe. Well, elo kudu nonton film ini sampe akhir dulu dan cermati. Setelahnya, elo baru bisa nyimpulin sendiri kenapa film ini dikasih judul "Orange". Hehe. Oh dan baidewei, setelah nonton film ini, gue jadi mikir, seandainya dunia paralel itu beneran ada, apa gue juga minat untuk kirim surat ke diri gue sendiri di masa lalu? Karena kayaknya gue juga punya banyak penyesalan yang pengen gue ubah di masa ini. Hmmm...

So? Recommended? Iyes, pake banget! Cerita yang ringan tapi juga complicated. Banyak pesan moral yang bisa dipetik dan dihayati dari film ini. :)

Last, di internet banyak yang bilang masih susah cari link donlot film ini. Tapi mungkin kalau ada yang mau sedot, bisa gue bantu untuk klik sini aja. Di situ udah pake subtitle Bahasa Indonesia, kok! :)

Bagi yang sekedar pengen kepoin dulu trailernya, monggo ceki videonya ini...

Versi pendeknya...


Versi agak panjangnya...


Yak, sekian! Happy watching! Ja neee...!


*) Gambar: berbagai sumber.

Kamis, 29 Mei 2014

Pipi Rukie, My Beloved 'Reita'!

WARNING!
POSTING INI BAKAL DIPENUHI FOTO-FOTO MUKA PIPI YANG NGEKSIS DAN BERCECERAN DARI AWAL SAMPE AKHIR!
*info absurd* #plak

*****************************

Rukie adalah nama Jejepangan Pipi kalau nge-band di panggung--dulu.

Nggak tau, sih... tapi tiba-tiba aja kangen liat penampilan Pipi waktu zaman nge-band dulu. Penampilannya yang cosplay ala Reita "the GazettE" tiap mau manggung...





Kebiasaan Pipi: pasti authis kalau udah main gadgetnya, nggak peduli mau manggung sekalipun! >_<


Pipi dengan kaos the GazettE-nya

Well, itu foto-foto Pipi pake selotip hidung noseband khas Reita. Kadang Pipi juga suka tampil tanpa selotip hidung noseband-nya. Tapi make-up mah teuteup nampol ya, bok! :D


Di foto ini, banyak yang bilang sepintas Pipi justu lebih mirip Aoi, gitarisnya the GazettE :3

Dan sama kayak Reita, Pipi juga bassis di band-nya dulu! ^_^






Pegimane? Cucok eemm laki eike zaman nge-band dulu? Haha! Pipi langsung menjelma jadi seorang ikemen (baca: cowok cantik) kalau udah dilenongin begindang. Eike minder kalau udah liat Pipi tampil kayak gitu. Secara ya doi bisa lebih cantik dibanding eike yang cewek tulen ini! Hiks! *remukin cermin*

Oh baidewei, mau tau siapa make-up artist yang bisa merubah penampilan Pipi jadi kayak gitu? Nggak lain dan nggak bukan... GUE SENDIRI...! Hoho! (cih, pasti pada nggak percaya! -__-"). Believe it or not, perdendongan yang ngeksis di muka Pipi itu BENERAN adalah hasil prakarya tangan gue sendiri, bok! Suwer tekewer-kewer! Yah walaupun nggak semantap MUA profesional, tapi lumayan lah buat amatiran kayak gue. Maklum, namanya juga belajar make-up otodidak, cyiin! Wkwk! :p

Penampilan Pipi ini menyesuaikan dengan genre musik band-nya dulu yang mengusung Visual Kei. Secara khusus, kiblat musik mereka adalah band the GazettE dan mereka sering meng-cover lagu-lagu the GazettE di panggung. FYI bagi yang belum tau, Visual Kei atau disingkat V-Kei adalah salah satu jenis genre musik dari Jepang. Istilah Visual Kei sendiri diambil dari kata 'Visual' (bahasa Inggris) dan 'Kei' (bahasa Jepang) yang mempunyai arti 'gaya'. Ciri khas V-Kei yaitu para personil band-nya yang mayoritas cowok itu tampil dengan visualisasi kostum, hair style, dan make-up yang dramatis. Nah, the GazettE adalah salah satu dari sekian banyak band V-Kei fenomenal dari Jepang. Further information, monggo ceki sendiri di Google. :p

the GazettE. Jelas ya si Reita yang mana. Ada namanya, tuh! :p

Jadi intinya, pemirsaaa... gue lagi kangen berat dengan penampilan V-Kei Pipi! Gue kangen make-up-in Pipi. Gue kangen liat dia betot bass di panggung. Gue kangen pose cool ala ikemennya. Gue kangen, kangeen, kangeeen...!!!

Sayangnya, sekarang Pipi mutusin vakum dari dunia perdendongan permusikan V-Kei itu sejak kita mulai serius menyiapkan kewongan kita dulu. Gue sih berharap, walaupun nggak bisa fokus kayak dulu lagi (karena sekarang Pipi udah gawe dan jadi calon 'bapak-bapak' :p), at least Pipi bisa come back ke panggung untuk sekedar have fun--tentunya tetep dengan style V-Kei ala Reita. Well, let's see deh, ya! :D

Oh, tapi seengaknya waktu kami prewed, kangennya gue dengan style V-Kei Pipi sedikit terobati. Walaupun nggak full make-up, tapi aura ikemen V-Kei Pipi keliatan, bok! Syukron! Oya, foto-foto prewed kami ada di sini, nih!












Wokeh! Terakhir, gue cuma pengen pamerin foto gue bareng Pipi saat dia transform jadi Reita. Sebenernya agak memalukan, sih! Secara bakal keliatan jelas gimana kebantingnya tampang no make-up gue yang ala kadarnya ini disejajarkan dengan 'kecantikan' Pipi! Dammit! T_T


Pertanyaannya: kira-kira gimana tanggapan anak kami nanti kalau tau bapaknya dulu pernah nge-band dan doyan ngelenong ala V-Kei begindang, dan lenongannya adalah kerjaan emaknya pula? Shock! Banyak istighfar aja ya, Nak! Nyehehehe! *emak durhaka*

Udahan ah pamer foto zaman ngalay dahulu kala. Nah, postingan ini terlalu absurd agaknya. Jaa...!!

Jumat, 23 Mei 2014

K "Moi dix Mois" Meninggal Dunia


Kabar duka baru aja terdengar dari jagat dunia musik V-Kei Jepang. K, vokalis sekaligus gitaris band Moi dix Mois, secara mengejutkan ditemukan meninggal dunia pada 19 Mei 2014 lalu di rumahnya. Berita kematian K ini disampaikan melalui situs resmi Moi dix Mois. Hingga kini, penyebab kematian K masih simpang siur dan belum ada keterangan resmi, baik dari pihak keluarga maupun Moi dix Mois sendiri.

Melalui sebuah blog, Mana-sama, gitaris dan leader Moi dix Mois, mengomentari kematian K, "sangat tiba-tiba dan mengejutkan. Saya tidak bisa menemukan kata-kata mengenai hal ini."

K "Moi Dix Mois". Left: without make up. Right: with make up.

Akibat kematian mendadak K tersebut, Moi dix Mois harus membatalkan sejumlah schedule mereka, yang di antaranya tampil dalam program "Duo Music Exchange" pada 24 Mei 2014 mendatang dan rencana manggung di Rusia pada musim panas tahun ini.

Saat mendengar berita ini, jujur, gue juga kaget. Pasalnya, setelah udah lama gue nggak denger kabar dari Moi dix Mois, sekarang malah berita duka yang gue dapet dari band ini.

Moi dix Mois adalah salah satu V-Kei band favorit gue. Sebelumnya, Mana-sama tergabung dalam band Malice Mizer yang disband pada 2002. Pasca bubarnya Malice Mizer, Mana-sama kemudian membentuk proyek band baru bernama Moi dix Mois yang berarti "Aku Sepuluh Bulan" dalam Bahasa Perancis. Moi dix Mois sempet beberapa kali berganti personil, hingga formasi yang terakhir adalah Mana (gitar, keyboard, leader), Seth (vokal), K (gitar, vokal), Sugiya (bass), dan Hayato (drum, perkusi).

Mana-sama sendiri termasuk sosok 'legenda' dalam dunia V-Kei dan fashion di Jepang. Dalam dunia fashion Jepang, Mana-sama terkenal sebagai pencetus subkultur fashion Harajuku yang happening banget sampe sekarang di seluruh dunia, yang disebut Gothic Lolita.

Mana-sama

Well, ini berita duka yang memang sangat mengejutkan bagi para penggemar V-Kei dan Moi dix Mois. Tapi semoga kematian K nggak membuat Mana-sama dan personil Moi dix Mois lainnya kehilangan semangat untuk kembali menghasilkan karya-karya keren. K, semoga arwahmu tenang di sisi-Nya, ya! :)
K (gitar, vokal), Sugiya (bas), dan Hayato (drum, perkusi). - See more at: http://m.liputan6.com/showbiz/read/2052162/vokalis-band-gothic-jepang-wafat-secara-misterius#sthash.LqognbxJ.dpuf
K (gitar, vokal), Sugiya (bas), dan Hayato (drum, perkusi). - See more at: http://m.liputan6.com/showbiz/read/2052162/vokalis-band-gothic-jepang-wafat-secara-misterius#sthash.LqognbxJ.dpuf
K (gitar, vokal), Sugiya (bas), dan Hayato (drum, perkusi). - See more at: http://m.liputan6.com/showbiz/read/2052162/vokalis-band-gothic-jepang-wafat-secara-misterius#sthash.LqognbxJ.dpuf

Rabu, 21 Mei 2014

Review: SHARK (Japanese Drama)


Profile:
  • Title: SHARK
  • Genre: Music
  • Broadcast network: NTV, YTV
  • Format: Renzoku
  • Episodes: 12
  • Viewership ratings: 2.4%
  • Broadcast period: 2014-Jan-11 to 2014-Mar-30
  • Air time: Saturday 24:50
  • Theme song: Keep Walking by SHARK
(Sumber: DramaWiki)


Review:
 
"SHARK" adalah dorama Jepang yang baru khatam gue tonton minggu ini. Yang bakal gue review ini adalah season pertama dari total 2 season doramanya yang tayang sejak awal tahun 2014 di Jepang. Yes, the dorama is still fresh from the oven, guys! So, kayaknya gue sama sekali nggak telat review kali ini! Yosh! *lempar pom-pom*


SHARK adalah nama sebuah band indie yang beranggotakan 5 personil yang tengah mengejar mimpi mereka untuk debut di major label. Sayang, di tengah perjuangan tersebut, mereka harus kehilangan sang vokalis Kitagawa Kazuki (Fujii Ryusei), yang meninggal akibat kecelakaan. Sepeninggal Kazuki, keempat personil SHARK lainnya, yaitu Hagiwara Kai (Hamada Takahiro), Ryuzaki Ayumu (Motsumura Hokuto), Satomi Kenzo (Iwamoto Hikaru), dan Adachi Teppei (Kamiyama Tomohiro) seolah kehilangan semangat bermusik. Perlahan, SHARK mulai ditinggalkan fans dan hubungan di antara keempat personilnya merenggang akibat konflik internal. Wonder Records sebagai perusahaan rekaman yang pada awalnya berminat merilis debut album SHARK pun mendadak memutuskan untuk me-cancel kontrak mereka. Pihak Wonder Records menganggap SHARK nggak mampu lagi menghasilkan profit karena mereka udah kehilangan nilai jual utama mereka, yaitu sang vokalis yang kharismatik.

Kazuki

Kecelakaan Kazuki

Keempat personil SHARK yang merasa kehilangan, kerap mengunjungi TKP tewasnya Kazuki

Saat semua orang merasa SHARK udah berada di ujung kehancuran, Komatsu Ichika (Yamashita Rio) yang merupakan karyawan di Wonder Records sekaligus manajer SHARK, justru merasa sebaliknya. Cewek ini nggak pernah putus asa untuk menjaga eksistensi SHARK dan memperjuangkan debut mereka. Ichika mencoba bernegosiasi ulang tentang debut SHARK pada atasannya, Yoshimura Takahiro (Okada Kohki). Melihat semangat pantang menyerah Ichika, Yoshimura mengatakan akan mempertimbangkan kembali kontrak debut SHARK, dengan 1 syarat: SHARK harus mencari vokalis baru--tentu aja, vokalis yang memiliki kharisma yang menyamai atau minimal mendekati kharisma Kazuki sang vokalis terdahulu.

Ichika

Keputusan untuk mencari vokalis baru membuat Ichika galau. Pasalnya, sejak kematian Kazuki, Kai sang gitaris lah yang menggantikan posisi vokalis sekaligus menjadi leader SHARK. Ichika sadar Kai pasti bakal sakit hati kalau Ichika merekrut vokalis lain. Tapi demi debut SHARK, Ichika memutuskan kali ini terpaksa mengorbankan perasaan Kai.

Kai

Singkatnya, Ichika akhirnya berhasil menemukan sosok yang tepat menjadi vokalis baru SHARK. Ichika secara nggak sengaja 'mendapatkan' si calon vokalis baru di sebuah pesta pernikahan rekan kantornya. Suara Kurata Mizuki (Hirano Sho) si vokalis incaran itu sukses membuat Ichika jatuh hati. Terlebih, Ichika speechless melihat adanya kemiripan style bernyanyi antara Kazuki dengan Mizuki. Seolah sosok Kazuki 'hidup' di dalam raga Mizuki. Kai yang saat itu menjadi pengisi acara pesta juga menyadari hal tersebut. Namun, Kai tegas menolak Mizuki bergabung menjadi vokalis SHARK. Bukan hanya karena Kai merasa SHARK nggak butuh vokalis baru, tapi juga karena attitude Mizuki yang nyebelin parah.

Mizuki

Secara mengejutkan, Ichika dan Kai menyaksikan Kazuki 'hidup' dalam raga Mizuki

Mizuki bernyanyi layaknya Kazuki bernyanyi di atas panggung

Yup! Di atas panggung, Mizuki emang sosok vokalis bersuara khas yang keren dan 'menjual'. Tapi selepas itu, karakter Mizuki bener-bener minus. Dia egois, emosian, arogan, ceplas-ceplos, tukang kritik, nggak tau sopan santun, suka merendahkan orang lain, selalu menganggap dirinya jenius, dan merasa yang paling hebat. Yeah, emang segitu nyebelinnya! Menurut Kai, cowok dengan karakter yang bertolak belakang banget sama Kazuki itu sama sekali nggak pantas jadi frontman SHARK. Sosok seperti Mizuki justru bakal membuat SHARK hancur total.

Mizuki yang doyan berantem

Mizuki yang nggak peduli tata krama

Mizuki yang mudah terpancing emosi, bahkan sama orang yang nggak dikenalnya! *tepok jidat*

Namun, Ichika yakin intuisinya nggak salah. Dia berusaha keras membujuk Mizuki untuk menjadi vokalis SHARK. Meski pada awalnya Mizuki sempat merendahkan SHARK dan dengan angkuhnya menolak bergabung dengan alasan dia udah direkrut untuk debut oleh label lain, tapi karena suatu hal akhirnya Mizuki memutuskan menerima tawaran Ichika.

Ichika terus merayu Mizuki agar mau menjadi vokalis SHARK

Formasi SHARK setelah Mizuki bergabung. Depan (ki-ka): Mizuki, Ayumu, dan Kai. Belakang (ki-ka): Teppei dan Kenzo.

Mizuki di atas panggung

Sesaat setelah Mizuki bergabung, apa yang dikhawatirkan Kai terjadi juga. Konflik internal di antara personil SHARK makin memanas akibat tersulut sikap arogan Mizuki hingga berujung pada bubar jalannya SHARK. Masing-masing personil sibuk dengan urusannya dan merasa nggak peduli lagi pada mimpi debut SHARK di major label. Masalah pun semakin kompleks karena ternyata Mizuki menyimpan kisah masa lalu yang disembunyikannya rapat dari para personil SHARK lainnya, termasuk Ichika, dan masa lalu Mizuki itulah yang justru bisa membuat mimpi debut SHARK di major label pupus sepenuhnya.

Foto SHARK di meja kerja Ichika. Kiri: foto SHARK versi Kazuki. Kanan: foto SHARK versi Mizuki.

SHARK di 'markas' mereka

Yak, cukup! Udah terlalu banyak spoiler berceceran kayaknya. Untuk tau cerita lengkapnya, langsung tonton aja doramanya, yee...! Wkwk!


Kenapa kudu nonton "SHARK"?

Bagi penggemar dorama bergenre musik (esp. Band), menurut gue dorama ini layak dipelototin. Bagi yang nggak demen genre musik juga kalau mau ikut mantengin nih dorama ya monggo. Cukup menghibur dan asik diikutin kok ceritanya! Dorama ini sukses bikin gue merasakan berbagai emosi jiwa sekaligus. Mulai dari ngakak, dongkol, gemes, kagum, penasaran, ngerasa simpati, sampe mewek sesengukan. Intinya, gue sangat menikmati tiap episode "SHARK" dari awal sampe finish.

Gue tertarik dengan tokoh Mizuki. Walau gue akui fisiknya oke secara doi ikemen, tapi syumpeh... karakternya itu bikin greget pengen nabok, mak! Sepintas sih gue sebel sendiri dengan sifat Mizuki yang nggak tau malu dan nggak ngerti menghargai orang. Terlebih, di sepanjang episode kita disuguhi arogansi dia melulu. Eneg nggak, tuh? Tapi setelah dicermati, Mizuki itu sebenernya orang paling tulus di antara yang lain. Dia ceplas-ceplos begitu karena berusaha untuk jujur tentang apa yang ada di pikirannya, sedangkan orang lain munafik menampilkan image diri mereka. Yah... mungkin cara Mizuki mengungkapkan kejujuran itu dianggap kurang tepat oleh banyak orang. Tapi toh orang-orang yang pernah 'kecipratan ludah' Mizuki pada akhirnya sadar kalau semua omongan Mizuki emang bener dan hal itu justru jadi spirit mereka. Namun, di balik sikap kerasnya, Mizuki sebenernya rapuh. Saking rapuhnya, tanpa disadari dia lah yang paling terluka saat melihat teman-temannya hancur dan rela melakukan apapun bahkan jika harus mengorbankan dirinya sendiri demi kebahagiaan mereka.

Seorang Mizuki yang sangat arogan pun bisa menangis

Seperti 2 sisi koin, nggak ada seorang manusia pun yang sempurna (karena kesempurnaan hanya milik Tuhan *cekipriw!*). Begitu juga dengan Mizuki. Di satu sisi, sikap arogan, egois, dan gampang emosi Mizuki emang nggak patut ditiru. Tapi di sisi lainnya, gimana Mizuki menunjukkan kejujuran, ketulusan, apa adanya, kesetiakawanan, dan rela berkorbannya adalah poin pembelajaran penting yang bisa kita petik tentang sisi humanis yang coba digambarkan tokoh Mizuki. Karakternya yang unik ini bisa kita jadikan refleksi diri sendiri dalam kehidupan sehari-hari. Lantas pertanyaannya: dalam real life, apakah kita yakin orang lain bakal baik-baik aja menerima kalau kita 'se-jujur-apa-adanya' kayak Mizuki? Oh, well... pe-er buat kita, nih! :)

Hal lain yang bisa kita maknai dari cerita dorama ini adalah arti sebuah ikatan persahabatan yang sebenernya, semangat untuk nggak gampang menyerah, dan pentingnya menjaga mimpi agar terwujud--nggak peduli seberat apapun rintangan untuk menggapainya. Gue suka banget penggalan kalimat yang diucapkan Ayumu di salah satu scene episode 3 dorama ini, "hidup kadang emang nggak mudah. Tapi ada banyak hal lain yang dapat membuat kita untuk tetap bahagia.". So damn true, Ayumu-kun!

IMHO, nih... walau inti ceritanya terkesan klise, tapi "SHARK" tetep nggak lupa menyisipkan pesan moral yang dalem buat penonton. Pastinya beda banget kalau dibandingin cerita sinetron-sinetron di tipi saat ini yang episodenya nggak kelar-kelar dan makin lama makin gaje nggak layak tonton (dan entah kenapa, tetep aja laku!). Ehem! See, just my honest opinion. No need to offense, ya! :)

So, why don't you give it a try? Nonton dan silakan cuap-cuap sendiri. Oh ya, soundtrack "SHARK" yang judulnya "Keep Walking" dan "Answer" patut dikupingin juga. Aransemen dan liriknya keren, euy!

Nih gue kasih video cuplikan scene "SHARK" favorit gue dan paling bikin gue cengeng di antara scene lainnya, dengan diiringi lagu "Answer" yang liriknya ditulis oleh mendiang Kazuki. Video gue comot dari Youtube (uploader by addshot13). Anggep aja ini sekaligus trailer "SHARK" yang bisa gue sharing bagi siapa aja yang penasaran pengen nonton doramanya, yak! :D


Terakhir, fyi aja, dorama ini berlanjut di "SHARK 2nd Season". Udah sempet ngintip sinopsisnya tapi gue masih belum bisa komen. Secara sampe detik ini gue belum nonton sekuelnya, cing! Hehe. So, we'll wait and see what happens on the next season deh ya, bok! Semoga gue bisa nulis reviewnya kembali. Jaa, minna...!! ^_^


*) Foto: berbagai sumber
 

Blog Template by BloggerCandy.com

Full Edited by lovelyshironeko.blogspot.com