Tampilkan postingan dengan label Marriage Life. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Marriage Life. Tampilkan semua postingan

Jumat, 01 September 2017

I'm Officially a Stay-at-Home Mom Now!


Pernah denger istilah 'zona nyaman'? Misal bagi pekerja kantoran, 'zona nyaman' itu ketika elo punya kerjaan mapan dan dapet penghasilan tetap tiap bulan. Mau elo masuk atau absen, mau perusahaan elo tembus omset atau nggak, elo nggak perlu khawatir karena tiap bulan elo tetep dapet duit dengan jumlah yang sama yang ditransfer ke ATM elo. Paling nggak, elo nggak terlalu khawatir gimana survive untuk sebulan ke depan.

Saat elo udah pasti dapet income yang tetap tiap bulan, apa elo masih berani keluar dari 'zona nyaman' dan mencoba sesuatu yang baru--yang mungkin lebih baik walau belum pasti? Gue berani taruhan, nggak semua orang mau. Gue pun ogah.

At least sampe bulan lalu.

Yup. Bulan lalu, pada akhirnya gue berani lompat dari 'zona nyaman' gue. Sebuah keputusan yang bisa dibilang gambling. Tapi gue yakin untuk hal lain yang lebih baik. Gue resign. Total hampir 6 tahun gawe di sebuah perusahaan importir valve dari Malaysia, gue akhirnya memutuskan resign. Untuk kerja di perusahaan lain? Nope. Untuk jadi ibu rumah tangga.

Yup (again)... setelah bertahun-tahun bahkan dari selesai kuliah udah jadi wanita karir di beberapa perusahaan, mulai hari ini, gue resmi berganti status dari "Working Mom" menjadi "Stay-at-Home Mom".

Hahaha... shock? Yeeaah... it's been a while since I updated you guys dan tetiba gue udah ganti status aja. Hahaha!

Enihao, memutuskan resign untuk jadi seorang mamak rumah tangga atau istilah kerennya stay-at-home mom atau ada juga yang bilang full time mom, bukan hal yang gampang sebenernya. Mungkin karena gue terlalu terbiasa dengan kesibukan ala kantoran. Mungkin karena gue butuh keluar rumah untuk bersosialisasi dan mengeksplor kemampuan diri. Mungkin karena gue pengen jadi wanita mandiri yang berpenghasilan sendiri. Atau mungkin juga karena emang gue pengen terus dapet duit bulanan yang pasti.

Dunno.

Tapi kalau boleh jujur, sebelum mutusin berani keluar dari 'zona nyaman', jangankan meyakinkan orang lain, meyakinkan diri gue sendiri aja butuh waktu. Gue sampe suka bengong kayak orang bego cuma gegara mikirin resign atau nggaknya dari kantor. Gue emang tipikal yang kalau mikir masa depan suka kejauhan. Mana yang dipikirin seringnya jelek-jelek mulu pula. Pikiran gue ya nggak jauh-jauh seputaran gimana nanti kalau gue udah resign, gue bakal bosen setengah mampus atau nggak di rumah mulu, gue bakal berubah jadi mamak-mamak galau atau nggak gegara nggak ada kegiatan, gimana duit gaji bulanan yang nggak bakal didapet lagi, bisa nggak ya survive dari yang double income jadi single income, endebre endebra. Jadi jangan ditanya soal cemas, khawatir, atau apa aja deh istilahnya. Pasti ada lah. Manusiawi juga menurut gue.

Ya kalau elo ragu, kenapa juga resign? Pasti ada kan yang gatel pengen komen gitu?

Guys, kata emak gue, perempuan itu 'langkahnya pendek'. Saat perempuan udah memasuki usia 25 tahun ke atas dan belum merit, mulai banyak bisik-bisik tetangga yang kepo nanyain jodohnya. Saat perempuan mulai masuk usia 30 tahun ke atas dan belum merit juga, mereka bakal kasih julukan baru "perawan tua". Yang udah merit juga nggak lepas dari segala bebisikan itu. Saat merit baru beberapa bulan aja, udah ditanyain mulu "udah ngisi belom?". Saat merit udah bertahun-tahun dan masih belum hamil, mulai pada sibuk berkhayal jangan-jangan si itu mandul. Saat akhirnya udah punya bayi pun, banyak yang ribetin "ih kok minumnya sufor sih, kayak aku dong ASI", "kok ASI nya dipompa?", "kok lambat ya pertumbuhannya?", "kok belum lancar sih ngomongnya padahal udah berapa tahun.", "kok gini... kok gitu...", bla bla bla.

Itu belum seberapa. Gue masih inget banget, dulu saat gue masih kerja dan nggak bisa 24 jam ngurus anak, banyak banget 'intel akhirat' yang bilang kalau working mom kayak gue gini tipe ibu nggak sayang anak lah, lupa kodrat lah, egois lebih mentingin diri sendiri lah, bukan contoh ibu yang baik lah, bla bla bla. Yang bikin sedih, mereka bilang gitu dengan entengnya. Mereka nggak tau kalau gue suka nangis saat tetiba kangen anak di kantor, gue ngerasa nyesek saat moment-moment berharga pertamanya anak nggak bisa gue saksikan langsung, gue ikutan sakit saat gue nggak bisa izin buat ngurus anak yang lagi sakit, dan karena full time gue cuma di weekend jadi sebisa mungkin weekend gue habisin untuk quality time bareng anak dan keluarga sampe nyaris nggak kepikiran lagi buat me-time sendirian. Dan ajaibnya, saat gue akhirnya mutusin untuk resign, tetep juga muncul komen, "ih kok resign? Sayang amat...", "mau ngapain cuma di rumah aja?", "sayang dong gelar sarjananya...", dan bla bla bla.

Iya. BLA BLA BLA. Saking banyaknya komen cantik nan sotoy yang bikin kuping merah.

Ha-ha. Lucu, ya? Apapun yang dilakukan, pokoknya salah. Jadi perempuan emang rempong. Titik.

Tapi gue bersyukur punya suami yang nggak mengekang gue. Mau berkarir di luar silakan, mau jadi ibu rumah tangga biasa pun silakan. Yang mungkin agak sulit emang meyakinkan orang tua dan mertua. Kami harus pelan-pelan ngomong ke mereka. Mungkin kekhawatiran mereka hampir sama dengan kekhawatiran gue. Tapi kalau gue yang bakal menjalani aja pada akhirnya bisa yakin, kenapa mereka nggak? Pastinya kami tetap menenangkan mereka kalau gue resign justru untuk hal lain yang semoga lebih baik. Dan gue butuh restu mereka. Alhamdulillah mereka pun setuju dan support.

Iya, gue resign demi hal lain yang semoga lebih baik.

Well, gue dan Pipi sadar, dengan resignnya gue dari kantor, otomatis akan berkurang satu sumber pendapatan tetap. Pipi udah beberapa tahun ini fokus berwirausaha aja, jadi income per bulan nggak bisa pasti, tergantung banyak sedikitnya omset. Gue sendiri emang mulai ngikutin jejak suami untuk merintis usaha, tapi ya namanya masih merintis dan belum ada setahun, hasilnya belum begitu keliatan. Belum lagi kami juga masih ada kreditan di bank. Dan satu hal yang pasti, kami bukan dari kalangan keluarga berada. Bukan horang kayah. Jadi nggak mungkin kami nyantai aja nadahin tangan ke orang tua. Apalagi kalau sampe ada yang bilang kami hidup di ketek orang tua. Cukup senyumin aja. Coz the truth is... kami kudu jungkir balik jengkang cari duit ke sana-sini, dari hasil keringet sendiri.

Tapiiii... saat ini keyakinan kami cuma satu, rezeki udah ada yang atur. Apa yang emang untuk kami, nggak bakal ketuker dengan orang lain. Rezeki yang Allah kasih untuk tiap hamba-Nya nggak bakal mungkin salah kamar. Dan gue yakin, rezeki gue bukan cuma dari kantor gue. Justru dengan resign, gue pengen lebih fokus mengembangkan usaha yang tengah gue rintis sekarang. Walau saat ini gue sebut usaha gue adalah hobi yang dibayar, tapi mimpi semoga usaha ini bisa terus lancar, besar, dan sukses suatu hari nanti pasti tetap selalu gue minta sama Allah.

Dan ya... to be honest... alasan spesial dari semuanya... hal lain yang semoga lebih baik... adalah gue bisa punya lebih banyak waktu untuk Ryu. Gue ibunya, yang dari sejak dia hadir di perut gue selalu pengen bersama dia 24 jam. Merawat dan mendidik dia dengan tangan gue sendiri. Terlepas apapun kata orang tentang stigma seorang working mom kayak yang dulu gue lakonin, terlepas apakah gue tetap bekerja di luar atau jadi ibu rumah tangga, gue adalah seorang ibu. Siapa pun dia, apa pun pekerjaannya, setiap ibu pasti selalu pengen bersama dengan anaknya di tiap detik hidupnya. Jadi kalau ada yang bilang seorang ibu nggak sayang anaknya hanya karena memilih menjadi working mom, hati mereka pasti lebih busuk dari bangkai.

Jadi yaah... intinya hari ini gue pengen menyelamati diri gue sendiri yang akhirnya berani mengambil keputusan final untuk melangkah keluar dari 'zona nyaman' setelah galau cukup lama. Dengan status baru gue ini, semoga harapan yang lebih baik itu bakal terwujud. Karena bagi gue, stay-at-home mom itu artinya gue bisa selalu ngangon anak, dengan cuma pake daster kucel, sambil tetap berpenghasilan sendiri dari usaha yang gue jalanin, yang semuanya dilakukan CUMA dari rumah.

Dan gue bersyukur karena akhirnya gue bisa memilih keputusan ini saat ini, karena mungkin masih banyak para working mom di luar sana yang sebenernya ingin mengambil keputusan yang sama, tapi masih dihadapkan pada sikon yang belum memungkinkan.

Last, gue cuma mau bilang...

Tiap pilihan pasti ada alasan. Dan tiap alasan pasti ada konsekuensinya. Entah memilih pengen berpenghasilan tetap atau tetap berpenghasilan. Entah menjadi working mom atau stay-at-home mom. Dan ribuan pilihan lainnya. Yang pasti, bertanggungjawablah pada pilihan yang diambil, lakukan yang terbaik, dan pasrahkan hasilnya sama Allah. Hasil toh nggak bakal mengkhianati proses. Dan Allah juga nggak pernah meminta kita untuk sukses dan berhasil. Dia hanya meminta kita untuk mencoba.

Thanks for reading. Have a good day dan jangan lupa bersyukur! :)

Kamis, 18 Agustus 2016

(Late) Honeymoon Day 2: Singapore Part 1

Yang mau baca postingan ini, saran gue mending baca dulu deh cerita (Late) Honeymoon Day 1. Di situ gue jelasin awal mula hanimun yang tertunda ini dan cerita hanimun hari pertama kami di Jambi dan Batam.

Kalau udah, yuk mari kita lanjut ke next day, tujuan utama hanimun, Singapore tentunya! Baidewei, berhubung banyak cerita seru selama jalan ke Singapore dan bakal panjang kalau dijadiin 1 postingan doang, makanya gue bagi jadi 2 part. :)

* * *

Hari Kedua. Sabtu, 26 Maret 2016. Singapore.

Balik dari Nagoya Hill di malem sebelumnya, niat awal sih gue pengen bobok cantik dengan damai sentosa. Tapi apalah daya namanya juga mamak-mamak yang lagi jauh sama bocilnya. Mata sih merem, tapi otak nggak bisa diajak istirahat. Kepikiran mulu sama Ryu di Bandar Lampung, yang saat itu lagi dititipin ke Kung dan Utinya. Kangen banget sama doi. Secara tiap malem Ryu kan boboknya bareng gue. Jadi kalau semalem aja nggak bareng dia tuh rasanya aneeeh banget! Tapi mau nelpon ke rumah, liat jam udah tengah malem. Takut ganggu. Jadilah cuma nahan doang kangennya. Huhuhu.  :'(

Setelah gegulingan galau yang entah-berapa-lama, akhirnya ketiduran juga gue. Tapi cuma sebentar karena alarm hape yang gue set ke jam 3 subuh tetiba bunyi berisik mampus. Mata masih kriyep-kriyep, tapi gue kudu bangun buat prepare ke Pelabuhan Batam Centre Point. Soalnya kami bakal check-in ferry pertama menuju Singapore. Kesiangan dikit, bisa gagal berangkat.

Setengah jam beres mandi dengan penerangan lampu kamar mandi kedap-kedip disko (lampunya rusak dan nggak bisa dibenerin, ceritanya liat di Honeymoon Day 1), ganti baju, dan ngelenong, gue langsung keluar kamar. Ngetokin satu per satu kamar temen-temen kantor buat bangunin mereka. Dan bener aja, ternyata mereka masih pada bobok manja kalau nggak dibangunin. Malah salah satu temen kantor gue yang kebetulan belum berkeluarga (baca: jomblo) dan bobok sendirian di kamar 316, ternyata masih bobok kebo. You know, ini semacem istilah bobok level tertinggi di mana kalau kita lempar granat ke sampingnya juga dia nggak bakalan bangun. Capek gedorin pintu kamarnya tapi nggak ada respon, akhirnya gue minta kunci duplikat kamarnya ke resepsionis. Begitu pintu berhasil dibuka, terpampang nyata tuh makhuk jomblo dengan nistanya masih tergolek sok ganteng di kasurnya.

Gegara gemes dongkol, langsung aja gue teriakin, "woi, jomblo! Bangun!"

Kontan, tuh makhluk di atas kasur gelagapan bangun ngeliat gue dan si resepsionis yang lagi ngakak denger teriakan gue.

Setelah bangunin temen-temen kantor, gue balik ke kamar. Ternyata Pipi udah bangun dan rapi jali. Sambil nunggu yang laen siap-siap, gue dan Pipi sarapan bubur instan dulu di kamar. Yah, lumayan buat ganjel perut selama antri di imigrasinya Harbour Front Singapore. Kalau udah masuk Singapore, rencana sih pengen sarapan lagi yang lebih ngenyangin.

Setelah semua rombongan siap, sebelum adzan subuh kami udah berangkat menuju Pelabuhan Batam Centre Point dengan guide Manager Cabang Batam kantor gue. Kebetulan saat itu doi juga mau ikut liburan ke Singapore. Untuk urusan tiket ferry PP Batam-Singapore dan penukaran dolar pun doi yang urus secara doi udah sering banget nyebrang ke Singapore. Kami sih tinggal tau beres aja. Huehehehe.

Sampe di Pelabuhan Batam Centre Point, parkirannya penuh persis di Nagoya Hill semalem! Jadilah kami muter-muter dulu cari parkiran. Dan meski masih subuh, ternyata udah rame aja di sana. Well, mungkin karena saat itu lagi long weekend kali, ya?

Nyampe langsung narsis! :p

Setelah dapet parkiran, kami langsung ke lobby dan nunggu dulu sampe gate tiket di lantai atas dibuka. Di lobby ini, gue dan Pipi sempet beli hotdog untuk bekal perjalanan ke Singapore di Bonza Cafe. Nggak lama nunggu, gate tiket pun dibuka. Setelah dari gate tiket dan melewati pemeriksaan barang kayak di bandara, kami masih harus antri di bagian imigrasi. Ternyata di sana udah banyak orang yang antri. Baik yang mau pergi atau pulang ke Singapore.

Lobby bawah Pelabuhan Batam Centre Point

Dari bagian imigrasi, kami turun pake eskalator ke ruang tunggu di lantai bawah. Di sini, kami masih harus nunggu lagi sampe gate tiket ferry dibuka. Ada beberapa ferry yang pagi itu berangkat ke Singapore. Kami naik ferry MV. Queen Star 3. Kalau di tiket sih tertera boarding time jam 05.20 WIB, boarding gate close 07.10 WIB, dan departure time jam 07.20 WIB. Tapi nyatanya waktu itu gate baru dibuka jam setengah 8 pagi dan ferry berangkat sekitar jam 8 lewat atau setengah 9-an. -_-

Ruang tunggu boarding gate ferry

Tuh, keliatan kan waktunya?

Akhirnya, siap boarding ke ferry!

Perjalanan dengan ferry dari Batam ke Singapore memakan waktu kurang lebih sejam. Cuaca waktu itu cerah dan kondisi ombak juga bagus, jadi perjalanan naik ferry terasa nyaman. Pipi yang biasanya mabok laut pun malah sampe ketiduran. Gue juga akhirnya jadi ikutan merem-melek sambil sesekali tetep ngintip ke luar jendela ferry, kepo sama laut Singapore itu pegimane. Hihihi.

Nggak afdol kalau nggak selfie di dalem ferry! :p

Penampakan dari dalem jendela ferry

Begitu ferry berlabuh di Harbour Front Singapore, kami langsung berhadapan lagi sama yang namanya antrian di imigrasi. Dan ternyata antrian yang ini jauuuuh lebih puaanjaaaaang dari antrian di imigrasi Pelabuhan Batam Center Point tadi pagi. Weleh, kalau ngantrinya sepanjang ini, mau jam berapa masuk Singapore? Huhuhu. Emang sih sebelum berangkat, kami udah dikasih tau Boss kalau antrian imigrasi Singapore bisa panjang dan lama banget. Makanya kami kudu prepare logistik dan air minum selama ngantri, terutama bagi yang belum sarapan. Untungnya perut gue dan Pipi udah diganjel bubur instan pas di hotel subuh tadi.

Suasana antrian di imigrasi Harbour Front

Beberapa saat antri di luar, akhirnya giliran gue dan Pipi bisa lanjut antri di dalem gedungnya. Oya, untuk bisa antri di dalem gedung, nggak bisa sembarangan masuk. Ada petugas imigrasi yang ngatur satu per satu orang yang mau masuk. Kalau antrian di dalem masih penuh dan belum bergerak maju, yang ngantri di luar ya kudu sabar. Mirip kayak kita ngantri makan di Pizza Hut pas lagi full-booked gitu, deh! Hmmm... baru sampe di sini aja gue udah kagum sama budaya antri di Singapore. Teratur banget. Suwer, beda kali lah sama di Indonesia yang demen nyerobot dan nggak sabaran! Nah, soal budaya antri warga Singapore ini bakal gue ceritain lebih lanjut lagi di bawah deh, ya! Makanya baca terus postingan ini sampe kelar. Wkwkwk.

Di dalem gedung, gue nganga dong liat antrian di sana yang ternyata nggak kalah puanjaaang dari di luar! Untung AC di dalem gedungnya adem, jadi dijamin nggak kegerahan selama ngantri. Ruangannya juga bersih. Nah, kalau udah di dalem gedung, kita dilarang pake kamera, berisik, dan lebih baik juga nggak usah ngemil-ngemil makanan yang bisa bikin kotor. Untuk sistem antriannya sama kayak di Pelabuhan Batam Centre Point yang dibuat zig-zag dengan besi pembatas. Ada beberapa petugas imigrasi di loket depan yang siap ngecek dan kasih cap di paspor. Berhubung gue baru pertama masuk ke sini, jadi gue sempet ter-wow ngeliat para petugas imigrasi di sana yang terdiri dari banyak ras dan suku bangsa. Ada Melayu, India, Tionghoa, Arab, Negroid. Pokoknya campur aduk. Gue ngupingin percakapan mereka pun di-mix pake Bahasa Inggris, Bahasa Melayu, Bahasa Mandarin, Bahasa Hindi, dan entah bahasa apa lagi. Yang pasti cuma mereka dan Tuhan yang ngerti. *plak* Tapi anehnya, dengan ngobrol campur aduk bahasa gitu, mereka tetep ngerti maksud omongan masing-masing, cing! Weew!

Setelah sekian jam ngantri di imigrasi, akhirnya gue, Pipi, dan rombongan baru bisa masuk Singapore jam setengah 11 siang waktu Indonesia atau setengah 12 siang waktu Singapore. Sambil nunggu Boss dan Manager Cabang Batam yang lagi ngurus tiket pulang, kami ngaso dulu di Vivo City Mall. Ini mall masih di kawasan Harbour Front juga. Gue dan Pipi sempet nuker dolar di salah satu money changer di situ. Sebelumnya kami udah nuker Rp1.000.000,- di Batam, tapi karena takut kurang jadi nuker lagi Rp500.000,- buat cadangan. Kurs SGD$ waktu itu Rp9.800,- per SGD$ 1. Jadi total duit SGD$ yang gue dan Pipi bawa di dompet waktu itu SGD$ 153.02. Menurut gue duit segitu udah cukup untuk modal gue dan Pipi jalan keliling Singapore seharian.





Di sini tempat kami nuker dolar di Harbour Front

SGD$ yang dituker di Harbour Front...

... ditambah SGD$ yang sebelumnya udah dituker duluan di Batam

Sambil nunggu, saat itu sebenernya gue pengen nyari makan dulu, tapi ternyata Boss udah dateng lagi sambil bagiin tiket ferry pulang kami. Dengan muka dilipet, Boss bilang kalau rencana kami pulang dengan ferry terakhir jam 9 malem waktu Singapore terpaksa batal karena semua ferry jam segitu udah full-booked. Yang ada cuma ferry jam setengah 6 sore waktu Singapore. Woooott??? Kalau diliat dari jam yang udah lewat angka 12 waktu Singapore, terus kami kudu boarding jam 4 sore waktu Singapore, itu artinya kami cuma punya waktu kurang dari 4 jam untuk keliling ke tempat-tempat tujuan kami di Singapore??? Ngajak bercanda nih, Boss??? *nangis di pojokan*

Tapi yah mau gimana lagi. Emang sikon long weekend gitu bikin semua tiket full-booked. Itinerary awal yang pengen ke Sentosa Island, Marina Bay, Bugis Street, dan terakhir ngaso di Orchard Road pun terpaksa dipangkas. Kami mutusin batal ke Orchard Road demi menyingkat waktu. Niat nyari makan di Vivo juga batal. Kami langsung buru-buru keluar Harbour Front menuju halte Shuttle Bus Resort World Sentosa. Tapi sebelum ke halte, kami nyempetin dulu foto-foto di sekitar taman Smoking Area-nya Harbour Front. Kebetulan juga Manager Cabang Batam kami juga lagi pengen ngerokok bentaran dulu di situ. FYI bagi yang belum tau, di Singapore emang nggak bisa sembarangan ngerokok dan buang sampah. Kalau mau ngerokok kudu di Smoking Area dan buang sampah ya kudu di tempat yang udah disediakan. Kalau sampe ketauan ngelanggar, dendanya bisa ribuan dolar! Nggak heran, jalanan Singapore jadi keliatan bersih banget. Kalau sistem denda gini diterapin juga di Indonesia, diprotes massa nggak, ya? :p

Smoking Area Harbour Front





Di ujung sana yang banyak orang antri itu tuh haltenya!

Dari situ, kami lanjut jalan menuju halte. Sepanjang jalan, gue liat mayoritas orang Singapore jalan pada buru-buru kayak kebelet nyariin toilet. Dan mereka yang terburu-buru itu selalu ambil jalan di sebelah kanan. Well, dari yang pernah gue baca, warga Singapore emang begitu menghargai waktu dan kedisiplinan. Jadi sebenernya wajar kalau mereka bergerak terkesan terburu-buru macem gitu. Perhaps mereka kudu sampe ke suatu tempat tanpa terlambat. Dan kenapa pada di sebelah kanan? Karena emang begitu aturannya. Bagi yang belum paham, kalau kita mau jalan nyantai, kudu ambil lajur kiri, kalau buru-buru kudu di kanan. Jangan kebalik. Lha kalau kita di sini? Ya kali sempet mikirin mana kanan mana kiri kalau udah buru-buru. Yang ada senggol bacok kalau nggak mau minggir. -_-

Nggak lama nunggu di halte, Shuttle Bus Resort World Sentosa pun nongol. Untuk menuju Sentosa, kita kudu naik Shuttle Bus dengan nomor bus RWS 8. Tarif busnya SGD$ 2 per orang, yang kudu dibayar dengan uang pas saat pertama masuk bus. Duitnya bukan dikasih ke sopir atau kondektur (please... Shuttle Bus nggak ada kondektur! -_-), tapi kudu dimasukkin ke dalem tempat uang yang udah disediakan di deket sopir. Untuk itulah kita kudu bayar dengan uang pas karena sopir nggak nyiapin kembalian. -_-

Eniwei, sekedar info, selaen Shuttle Bus, kalau mau ke Sentosa dari Vivo atau Harbour Front, kita juga bisa naik taksi, MRT, Cable Car, atau jalan kaki di Boardwalk. Panduan selengkapnya bisa intip sini.

Shuttle Bus Sentosa


Jalanan Singapore dari dalam bus


Gerbang Sentosa

Sekitar 15 menitan perjalanan naik Shuttle Bus, akhirnya sampe juga di tujuan pertama kami, Sentosa Island. Kami turun di halte Resort World Sentosa. Untuk masuk ke Sentosa, nggak perlu bayar tiket. Kecuali kalau pengen ke wahananya macem Universal Studio, baru dikenain charge.


Berhubung Pak Manager Cabang Batam niatnya ke Singapore cuma pengen ke Casino Sentosa sementara kami bakal keliling Singapore, akhirnya kami pisah di depan Casino. Jadi untuk beberapa saat, kami puas-puasin keliling Sentosa. Dan pastinya spot foto wajib di Sentosa adalah Universal Globe, dong! Belum ke Sentosa kalau belum foto di sini. Hehehe. Sayangnya, kami cuma sampe di lantai kedua tempat Universal Globe itu aja dan nggak masuk ke wahana Universal Studio-nya. Selain waktu mepet, kami nggak bawa duit lebih buat masuk ke situ. Tapi kalau toh bawa duit lebih, masih mikir-mikir lagi sih kalau mau masuk. Secara mehong bingits kan, bok? Nyahahaha!

Okay, now let these photos tell the rest! :D
















 

And this is it... spot wajib-kudu-mesti-harus-fardu'ain bagi yang pengen berselfie-ria di Sentosa. Universal Globe! Sah... sah... sah... udah pernah nyangsang di USS! Nyahahaha!








Dan kudu foto-foto juga di tempat unyu ini... Candylicious!








Jangan takut nyasar di Sentosa. Ada petanya, kok!

Puas foto-foto narsis keliling Sentosa, kami mutusin cuss ke tujuan berikutnya, yaitu Marina Bay. Tempat ini juga adalah tempat wajib dikunjungi kalau ke Singapore. Secara di situlah lambang Singapore, Si Patung Merlion, berada. Dan kali ini, untuk ke Marina Bay, kami mutusin naik taksi aja biar lebih cepet nyampe ke lokasi.

Untuk naik taksi, kami turun pake eskalator di deket Universal Globe menuju halte di bawah. Di sana berderet taksi yang lagi ngantri nunggu calon penumpang di lokasi khusus pemberhentian taksi. Nah, di sini timbul lagi kekaguman gue sama budaya antri warga Singapore.

Eskalator turun menuju pemberhentian taksi

Jadi, waktu itu kami belum ngeh kalau mau naik taksi kudu dari antrian taksi di baris paling depan. Karena belum paham dan ngejer waktu, kami langsung datengin aja taksi terdekat dari kami di deretan belakang. Ternyata si sopir taksi langsung kasih kode pake tangannya kalau kami kudu naik dari taksi yang ada di antrian paling depan. Dan begitu kami ke depan, untuk naik taksi, kami kudu antri juga dengan calon penumpang lain. Setelah 1 taksi dinaikin penumpangnya, taksi berikutnya baru maju ke depan. Begitu seterusnya. Calon penumpang lain yang ikut antri bareng kami pun dengan sabar menunggu giliran taksi mereka dateng. Nggak ada yang saling serobot atau sok melas minta duluan sambil misalnya bilang gini, "sori nih, kucing gue mau ngelahirin, gue duluan boleh, ya?". Nggak ada! Semua antri dengan tertib dan sabar. Ya taksinya, ya calon penumpangnya. Salut!

Setau gue, dalam 1 taksi nggak boleh lebih dari 5 penumpang. Jadi waktu itu dari rombongan kami, masing-masing keluarga naik 1 taksi. Berhubung gue dan Pipi cuma berdua, kami mutusin setaksi bareng temen gue Beni. Si Beni yang dimaksud ini adalah jomblo-sok-ganteng-yang-tidurnya-kayak-kebo. Inget, kan? Maksudnya setaksi bareng sih biar bayarnya lebih hemat secara bisa dibagi ongkos gue dan Pipi bareng doi juga. Uhuks! Itungannya, ongkos taksi kami dari Sentosa ke Marina Bay waktu itu kena SGD$ 13. Kalau dibagi bareng Beni, akhirnya gue dan Pipi cuma ngeluarin SGD$ 9 untuk taksi. Tuh, lebih hemat, tho? Maklumlah ya, di negeri orang apa-apa kudu dihemat biar nggak ngegembel. Apalagi kalau bawa duit cuma pas-pasan. *kekep dompet*

Di dalam taksi

Jalanan Singapore dari dalam taksi

Eh iya, saat ngantri taksi ada kejadian yang bikin greget. Jadi sebelumnya kan gue, Pipi, dan Beni udah sepakat kalau bakal naik taksi bertiga. Nah, ada istrinya temen gue yang ribet banget. Doi mau Beni ikut naik taksi bareng doi dan keluarganya aja. Gue udah jelasin kalau naik taksinya mending per keluarga aja karena bla bla bla. Tapi doi ngotot tetep pengen setaksi sama Beni. Bahkan sampe doi dan keluarganya udah dapet taksi dan di belakangnya giliran gue, Pipi, dan Beni mau naik taksi juga, tetiba taksi yang ditumpangi doi berhenti lagi dan dari jendela taksi doi masih ngotot ngajakin Beni ikut mereka. Akibatnya antrian taksi ngadat gegara ulah doi. Karena nggak mau bikin tambah ngadat antrian, akhirnya sopir taksi kami cuss gitu aja nyuekin teriakan si istri temen gue itu. Saat itu, kami yang di dalem taksi cuma geleng-geleng gemes aja sama ulah doi. Duh, dikira Indonesia kali ya bisa berhentiin taksi seenak udel? Bikin malu hati sama calon penumpang lain di sono! -_-

Sampe di Marina Bay, gue ketemu sama temen gue lainnya yang udah sampe duluan bareng keluarganya. Ternyata temen gue dan istrinya yang ribet tadi belum sampe. Padahal tadi taksinya ngekor persis di belakang taksi kami. Nunggu beberapa saat, taksi yang dimaksud belum nongol juga. Agak was-was juga  takutnya mereka nyasar. Tapi kalau toh nyasar, mestinya mereka tinggal ke kantor polisi atau imigrasi aja, kan? Hihihi. Jadilah kami mutusin pergi duluan ke Merlion Park dan berharap temen gue beserta istri ribetnya itu udah ada di sana.

Dan bener aja. Ternyata temen gue dan istrinya yang ribet itu (entah gimana) udah bergentayangan duluan di Merlion Park. Waktu istrinya ngeliat kami, langsung aja doi mrepet cerita (sambil kayak pengen nangis gemes gitu) soal keribetannya di antrian taksi tadi dan ngotot pengen setaksi bareng Beni.

Okeh, jadiiii ternyataaa... istrinya temen gue ribet banget pengen ngajak Beni setaksi dengan mereka tadi karenaaaa... mereka nggak tau tujuannya mau ke mana dan nggak ngerti jelasin ke sopirnya yang cuma bisa Bahasa Inggris, sedangkan mereka cuma bisa Bahasa Indonesia. Eh tapiii... sebenernya mereka tau Beni juga nggak ngerti-ngerti amat ngomong Enggress sih... tapiiii (lagi)... seenggaknya doi tau tujuannya mau ke mana. Oooh... kay! -_-

Sooo... berhubung udah hopeless, saat di taksi tadi mereka akhirnya cuma bisa jelasin ke sopir taksi kayak gini, "itu lho... lion... lion... singa... yang ada air mancurnya... lion... lion...". Dan katanya lumayan lama si sopir taksinya baru mudeng sampe akhirnya nyahut, "oh... Merlion..."

Ngekngok!

Sumpah, gue langsung nggak kuat nahan ngakak saat itu. Jahat banget ih eike ya, bok? Ihiks! Tapi ya gimana... denger ceritanya bikin gue geli bayangin sikon di taksi mereka tadi. Ya untung mereka sempet denger gue sepintas bilang kata "lion" ke sopir taksi kami sebelum berangkat. Iya, yang kedengeran cuma "lion" doang sama mereka, padahal gue ngomongnya tuh "Merlion Park, Marina Bay". Omigot! *gelinding ke jamban*

Nah, kasus nyaris nyasar temen gue ini buat pembelajaran aja, deh! Bukan cuma buat mereka, tapi buat gue dan kita semua. Kalau mau pergi ke mana-mana tuh apalagi luar negeri which is tempat asing bagi kita, kudu prepare baik-baik sebelum berangkat. Kepoin dulu segala tetek-bengek tempat yang kita tuju. Jangan sampe kita mau ke suatu tempat tapi dodol nggak tau nama (atau at least alamat) tempatnya apa. Syukur kalau yang nganterin baik, lha kalau yang nganter niatnya jelek dan malah nyasarin kita gimana hayo? Terus satu lagi, pahami itinerary atau jadwal kunjungan lokasi ke mana aja, yak! Penting, tuh!

Dan ini sekedar sharing aja untuk yang mau dan baru pertama liburan ke Singapore. Guys, jangan takut nyasar di Singapore, because you won't! Singapore itu negaranya kecil, angkutan umumnya tertib dan terintegrasi antara satu tempat dengan lainnya macem MRT, dan pastinya ada peta penunjuk lokasi yang gampang dipahami oleh turis. Peta ini bisa didapetin di Harbour Front, Changi Airport, atau bahkan di jalan-jalan suka ada plangnya juga. Kalau masih bingung, tanya sama orang sono. Kalau kita nggak bisa Bahasa Inggris, sebagian warga Singapore sebenernya masih paham kok Bahasa Indonesia atau Melayu. Dan satu lagi, orang Singapore itu ramah-ramah! Buktinya gue berapa kali aja dibantuin mereka waktu kebingungan di MRT.

Yak, sekian! Cerita selama di Marina Bay dan tujuan terakhir Bugis Street gue lanjut di posting berikutnya. Masih banyak keseruan (dan kenorakan) lain selama di Singapore. Nyehehehe! See you soon on the next chapter! Okehtengsbai!
 

Blog Template by BloggerCandy.com

Full Edited by lovelyshironeko.blogspot.com