Selasa, 06 Januari 2015

SGM Bunda Presinutri Hamil

Masuk bulan kedua kehamilan, gue mengalami gejala mabok macem mual-muntah. Nyaris semua makanan atau minuman yang awalnya gue suka, nggak bisa ketelen lagi. Salah satunya susu. Padahal sampe akhir bulan pertama, gue masih rajin minum susu bumil tiap hari. Tapi saat mulai mabok, boro-boro minum, liatnya aja udah eneg.

Sebelumnya, gue konsumsi susu bumil merk Pr*n*g*n. Sejak gue promil, merk susu inilah yang emang selalu mendampingi obat dokter. Tapi saat mulai mabok, tetiba gue muntah mulu tiap minum susu ini, terutama yang rasa coklat. Dari situ gue mogok minum susu sampe jelang trisemester kedua. Akibatnya, stok susu Pr*n*g*n di rumah jadi nganggur dan ujungnya diminum sendiri sama Pipi yang emang dari awal hamil rajin bikinin susu buat gue. Daripada mubazir ya mending dia yang minum, tho? Wkwkwk! Eh tapi, Pipi sempet protes sih ke gue. Secara doi takut kalau si baby kurang nutrisi gegara emaknya ogah minum susu lagi. Jujur, gue juga agak khawatir. Tapi ya gimana... dipaksa juga tetep aja nggak ketelen. Hiks!

Sampe akhirnya gue liat temen kantor ada yang beli SGM Bunda Presinutri Hamil rasa mangga untuk istrinya yang juga lagi ngisi. Dia bilang, cuma susu ini aja yang bisa ketelen sama istrinya dan nggak bikin eneg. Entah gue yang nggak gahol atau gimana, tapi baru kali itu gue tau kalau ternyata ada juga susu bumil yang varian rasanya nggak cuma di seputaran coklat atau vanila aja, tapi juga ada rasa buah. Dan kalau denger dari ceritanya yang di mana nih susu sama sekali nggak bikin eneg, mual, apalagi muntah, plus gue juga udah kelewat kasian sama si baby kalau mogok minum susunya berkelanjutan mulu, maka tertariklah gue untuk mencoba. Jadilah saat itu juga gue ngesot bentar ke Giant di sebelah kantor untuk beli satu kotak merk susu yang sama, dengan varian rasa stroberi. Setelah balik ke kantor lagi, langsung aja gue icip-icip tuh susu. Daaan... setelah sebulan lebih mogok minum susu, finally gue sukses minum susu lagi, sodara-sodara! Tanpa eneg, mual, apalagi muntah pastinya! Yaaayy! :D



So, dari situlah gue mulai kebiasaan minum susu bumil lagi tiap hari dan menyetok beberapa kotak SGM Bunda untuk di rumah dan di kantor. Selain stroberi, gue juga pernah coba yang varian mangga dan jeruk. Tapi kalau untuk lidah gue sih gue tetep lebih demen yang stroberi. Menurut gue, yang rasa mangga aneh dan yang rasa jeruk bikin mual kumat. Selain tiga varian buah tersebut, SGM Bunda juga ada yang rasa coklat. Tapi gue belum pernah coba karena masih kebayang gimana eneg-nya rasa coklat dari susu bumil yang gue konsumsi sebelumnya. Yah, tapi ini sih selera gue aja. Tiap lidah bumil kan pastinya beda, ya? Hihihi.

SGM Bunda ini bisa diseduh dengan air hangat atau diminum dingin pake es, tergantung selera. Kalau gue sih lebih demen pake es karena rasanya jadi lebih seger dan mengurangi eneg. Satu kotak SGM Bunda ukuran 150 gram bisa dikonsumsi untuk lima hari dan cukup sehari sekali aja minumnya. Harga per kotaknya juga terjangkau banget. Kalau di Giant sekitar Rp18.000-an aja yang ukuran 150 gram itu. Untuk komposisi dan standar gizinya sih menurut gue nggak jauh beda sama susu bumil lainnya. Rasanya? Haduh nggak usah ditanya lagi lah ya. Enyaaaaak bingits!


Sampe sekarang mau masuk trisemester akhir, gue nggak pernah berpaling ke merk susu bumil lainnya. Udah cucok sama yang ini aja, bok! Selain murah, rasanya enak, dan yang paling penting sih nggak bikin eneg. Sooo... sambil tunjuk tangan, gue cuma mau bilang, "aku anak SGM lah pokoknya!". Nyahahaha!

Rabu, 31 Desember 2014

Catatan (Singkat) Akhir Tahun

Secara personal, gue bersyukur bisa menutup tahun dengan baik. Melewati tahun pertama pernikahan dengan kebahagiaan. Mendapat kepercayaan untuk hamil di tahun ini. Pun menjadikan 2014 sebagai tahun atas suatu fase titik balik hidup gue setelah usia ke-26, yaitu fase di mana gue akhirnya memutuskan belajar berhijab. Ujian dan kerikil bukan berarti nggak gue alami setahun ini. Tetap ada. Tapi gue bersyukur, Allah selalu mendampingi gue menghadapi tiap masa sulit itu. Well, walau nggak melulu mulus, tapi overall segala urusan dilancarkan. Tahun penuh rahmat, berkah, dan hikmah. Tahun yang hebat. Syukron. :)

Setelah pamitan dengan 2014, lantas apa resolusi gue untuk 2015?
  • Melengkapi kebahagiaan keluarga kecil gue, semoga tahun depan gue bisa melahirkan dengan lancar dan normal. Anak gue tumbuh menjadi anak yang sehat, cakep, dan cerdas. Aamiin.
  • Memiliki kehidupan pernikahan bersama Pipi yang lebih bahagia, lebih sejahtera, lebih saling setia, menyayangi, dan mencintai. Aamiin.
  • Dimudahkan dan dilancarkan dalam segala urusan; karir, rezeki, kesehatan, etc. Aamiin.
  • Diberikan kebahagiaan hidup dan menyusun kebahagiaan akhirat. Aamiin.
  • Orang tua dan keluarga gue selalu dalam naungan damai, bahagia, sehat, berlimpah rahmat dan rezeki. Aamiin.
  • Semoga bisa segera dan dilancarkan niat beriwausaha. Aamiin.
  • Terus belajar menjadi istri dan (calon) ibu yang lebih baik, lebih baik, dan lebih baik lagi. Aamiin.
  • Dan terakhir... semoga bisa naik gaji 2x lipat! Hahaha. Aamiin.

Eniwei... tahun yang alhamdulillah penuh anugerah bagi gue ini, kontras dengan yang dialami sebagian masyarakat Indonesia lainnya. Ini bukan akhir tahun yang cukup baik bagi mereka. As we all know, setelah musibah tanah longsor, kita dikagetkan dengan musibah kecelakaan pesawat Air Asia QZ8501 rute Surabaya-Singapore yang jatuh di Selat Karimata yang terjadi pada 28 Desember lalu. Sampe saat tulisan ini gue buat, evakuasi jenazah dan puing-puing pesawat masih terus dilakukan. Gue berdoa agar amal ibadah para korban diterima di sisi-Nya dan pihak keluarga bisa diberi ketabahan. Gue yakin ada hikmah yang dititipkan Tuhan atas semua yang terjadi. I put this hastag #prayforQZ8501 sebagai bentuk solidaritas dan simpati terhadap musibah yang terjadi. Semoga ini menjadi kecelakaan pesawat terakhir di Indonesia. Aamiin.

So... this is it. Sebuah catatan singkat yang gue tulis demi menyongsong tahun yang baru.

Tahun yang baru akan kita hadapi dengan semangat yang baru.

Tahun yang baru akan menjadi awal baru dari segala kebaikan yang telah kita rencanakan.

Tahun yang baru adalah lembaran baru memperbaiki berbagai coretan khilaf yang pernah dilakukan.

Tahun yang baru akan kita kubur segala kesedihan dan duka di tahun sebelumnya.

Semoga kita semua menjadi pribadi baru yang lebih baik di tahun yang baru.

Last, I present this to all of you guys...

 

Kamis, 25 Desember 2014

Cerita Trisemester Pertama

Di pernikahan yang memasuki usia setahun lebih sebulan, alhamdulillah gue dan Pipi diberi kepercayaan momongan sama Allah. Surprise banget waktu kami tau kalau gue hamil. Soalnya di saat itu kami tengah santai-santainya dengan yang namanya promil alias program hamil. Fyi, beberapa bulan setelah merit, gue dan Pipi emang gencar melakukan promil mulai ke dokter SpOG sampe ke semacem dukun beranak yang katanya bisa pijet biar cepet hamil. Kalau ngomongin berapa duit yang udah keluar untuk promil, weleh... lumayan juga lah. Tapi tetep aja hasilnya nihil.

Nah, pada saat gue dan Pipi tengah rehat sejenak dari tetek-bengek promil itu demi kumpulin tabungan lagi, eh... tetiba Allah jawab doa kami selama ini. Gue ketauan positif lima minggu (pernah gue sharing ceritanya di sini). Entahlah, tapi gue ngerasa ini kayak semacem 'hadiah' terindah yang Allah kasih buat kami, khususnya gue. Soalnya Allah kasih 'hadiah' ini di saat baru kurang lebih sebulan setelah gue mutusin berhijab (klik sini untuk baca cerita awal gue berhijab). Yup! Gue makin yakin kalau tangan Allah bekerja dengan cara yang misterius. Di saat gue udah memasrahkan diri atas seluruh hidup gue yang salah satunya dengan berhijab, di saat itulah Allah kirim secara tiba-tiba jawaban dari doa yang selama ini selalu gue minta. Inikah salah satu hikmah dari ber-husnuzdon sama Allah, atau justru.... inikah hikmah berhijab? Dunno! Yang pasti gue percaya, yang namanya rezeki nggak bakal ketuker dan bakal dateng di saat yang tepat. Anak kan rezeki dari Allah, jadi hak mutlak Allah mau kasih kapan. So, alhamdulillah! It's kinda amazing, isn't it? :)

Eniwei, setelah dipastikan dokter kalau gue beneran hamil, nyokap mulai banyak banget kasih wejangan seputar kehamilan. Pipi juga makin perhatian. Mertua gue malah sampe melukin dan ciumin gue. Hehe. Wajarlah ya pada girangnya kebangetan. Secara kehamilan gue adalah kehamilan yang ditunggu which is cucu pertama di keluarga gue dan Pipi. :)

Gue sendiri juga mulai rajin tanya sana-sini dan googling tentang segala hal yang berkaitan dengan kehamilan. Apa aja pantangan bumil, makanan/minuman yang boleh dan nggak boleh dikonsumsi, sampe make up yang cucok buat bumil. Banyak banget makanan/minuman yang awalnya gue demen banget, tetiba gue kurangin drastis konsumsinya semasa hamil, kayak nugget, sosis, corned beef, mie instan, segala makanan bakar, fast food, dan soda. Gue juga coba mengurangi dandan dan sebisa mungkin menghindari produk perawatan yang mengandung pemutih. Efeknya emang muka gue jadi lebih kucel dibanding sebelum hamil dan Pipi sempet protes soal ini. Tapi asal si baby tetep sehat, emaknya ini rela dah mau kucel kayak apa juga! Hehe. Untuk mitos seputar kehamilan, gue nemuin banyak banget. Salah satunya yang katanya bumil kudu pake gunting dan bengle demi menghindari janin dari 'kejahilan' yang gaib. Nyokap dan mertua ngotot gue juga mesti pake. Hadeh... aja-aja ada! *tepok jidat*

Well, di minggu-minggu awal bulan pertama kehamilan, gue nggak ngalamin masalah berarti, termasuk fisik. Gue bisa jalanin aktivitas sewajarnya, malah kadang tetep pecicilan gegara kelupaan kalau lagi hamil. Hihi. Yang gue rasa agak berubah justru dari selera makan. Dulu, makan sekali sehari aja udah cukup buat gue yang emang dari orok males makan ini. Tapi sejak hamil, bawaannya nih perut laper mulu. Baru juga diisi, sejam kemudian minta diisi lagi. Rakus banget! Nyokap, mertua, dan banyak orang bilang istilahnya 'ngebo'. Kata mereka sih kondisi gitu bagus, secara bisa kasih asupan nutrisi yang cukup untuk perkembangan si baby. Yah, pokoknya gue cukup menikmati awal-awal kehamilan gue dan sempet mikir kalau hamil itu nggak se-hektik yang gue denger.

Tapiiii... memasuki bulan kedua dan puncaknya di bulan ketiga, baru deh yang namanya morning sickness, segala mual-muntah, lidah pait, air liur banyak, nggak doyan makan, dan hal-hal nggak nyaman laennya yang biasa dialami bumil, gue rasain. Nafsu makan gue turun drastis. Gue jijik banget minum aer putih karena rasanya pait dan aneh banget di lidah. Gue selalu muntah tiap minum susu. Gue nggak doyan sayuran dan nasi lagi, pasti gue muntahin kalau masuk mulut. Gue mulai pilih-pilih makanan yang nggak bikin mual dan buah yang bener-bener bisa ketelen pun cuma pear atau apel doang. Mulut gue langsung berasa aneh pengen muntah tiap abis gosok gigi. Penciuman gue lebih sensitif dan gue paling nggak tahan masuk ke dapur atau tempat cucian piring atau tempat-tempat berbau menyengat laennya. Badan gue jadi gampang capek, lemes, dan kepala sempoyongan. Alhasil, sepanjang masa-masa mabok gitu, gue lebih doyan tiduran dan males banget jalan ke mana-mana, termasuk ke mall. Yang terakhir ini sih termasuk ajaib bagi gue ya, bok! Secara dari zaman perawan, gue tuh paling demen ngelilingin mall seharian penuh! :p

Perubahan laen yang gue rasain adalah polah gue yang jadi pengen lebih bermanja sama Pipi. Tiap makan, gue pengennya disuapin Pipi. Tiap malem, gue pengen Pipi elus-elus perut gue sampe gue tidur. Bahkan tiap saat, kalau bisa sih gue pengennya di deket Pipi terus. Kangen Pipi mulu gitu rasanya. Uhuk! Berasa kayak abegeh cabe-cabean yang baru jadian sama terong-terongan gitu ya, bok! Nyahahaha!

Untuk perkara ngidam, gue juga ngalamin waktu usia kandungan sekitar enam atau tujuh minggu. Waktu itu gue tetiba pengen banget makan kue lapis legit basah khas Lampung dari tetangga gue yang kebetulan lagi hajatan di deket rumah. Tetangga gue ini kebetulan emang orang Lampung dan biasanya lapis legit disuguhkan tiap ada acara adat Lampung. Sempet sih ditawarin tetangga gue yang laen, lapis legitnya biar dia yang bikin untuk gue atau gue beli aja di toko. Tapi gue ngotot nggak mau lapis legit laen, kecuali lapis legit dari yang punya hajat! Ihiks! Alhamdulillah, si empunya hajat akhirnya kasih tiga potong lapis legit buat gue setelah nyokap laporan soal ngidamnya gue. Rasanya kalau udah kesampean ngidamnya itu... plong girang tiada terperi yak, pemirsa! Nyahahaha! Sumpah, geli juga ternyata kalau dipikir mah perkara bumil ngidam macem gini. Baru tau gue rasanya ngidam ternyata bisa se-ngotot gitu kalau pengen. :D

Eniwei, secara kehamilan pertama ini begitu berharga bagi gue, rasanya nggak mau sedetik pun gue lewatin masa ini untuk nggak didokumentasikan. Jadi, di trisemester pertama ini, selalu ada foto yang diambil yang nunjukkin perkembangan janin gue. Rencananya sih foto macem gini bakal terus gue capture sampe usia kandungan sembilan bulan. Setelahnya, gue bakal kumpulin foto-foto itu di satu album khusus beserta hasil USG tiap bulannya, yang gue maksudkan sebagai bentuk kenangan terindah yang gue persembahkan untuk anak gue.

Semua foto berikut udah pernah gue publikasikan di instagram gue. Ini mungkin bukan foto-foto yang keren bahkan cuma diedit ala kadarnya. Tapi gue cuma mau bilang, semua foto ini adalah bukti bahwa betapa gue begitu bahagia menantikan buah hati gue lahir ke dunia. Sehat terus dan lahirlah dengan sempurna ya, Nak! Aamiin! :*





 

Rabu, 24 Desember 2014

Touching Video from My Friend Part 2

Sohib gue si Rei yang dulu pernah kasih kado kewongan gue berupa video ini, beberapa waktu lalu tetiba bikinin video lagi. Kali ini konsepnya sih lebih kayak kisah perjalanan gue dan Pipi dari zaman pacaran, tunangan, sampe akhirnya merit. Untuk lagunya masih pake lagu yang sama dari One Ok Rock, "Wherever You Are". Ini kayaknya jadi semacem lagu soundtrack gue dan Pipi, deh! Soalnya nih lagu juga gue pake di video dokumentasi nikahan gue yang digarap sama Infra Photoworks. Cucok bingits sih sama aransemen dan liriknya! :)

Eniwei, hontou ni arigatou yak, Rei! Sukaaa, deh! Nonton pilem pendek yang isinya galeri foto gue dan Pipi, jadi semacem flashback awal ketemuan sama Pipi sampe gue resmi jadi bininya. Biar kata narsis mah tapi teuteup... cooo cuiiiitt!!! *cipok Rei sampe basah*

Rabu, 17 Desember 2014

Review Souvenir: Ucok Souvenir Jogza


Sama dengan undangan, dalam hal souvenir perkewongan, gue mempercayakan vendor dari Jogja dibanding vendor di seputaran Bandar Lampung. Tapi jangan dulu nyangka kalau vendor atau toko souvenir di Bandar Lampung nggak bagus. Sebenernya ini lebih ke budget aja, sih! Hihihi. Soalnya setelah gue banding harga, order souvenir ke Jogja ternyata bisa jauh lebih murce dibanding beli souvenir langsung di toko yang ada di Bandar Lampung. Seriusan! -__-

Dalam pemilihan souvenir, gue nggak mau over budget dengan membeli souvenir mahal yang cuma jadi pajangan doang. Tapi gue juga nggak mau souvenir yang asal pilih atau asal ada--yang penting murah. Gue pengen souvenir yang walau harganya minimal tapi bisa fungsional dan pastinya berkesan tradisional sesuai konsep nikahan gue. *manten banyak maunya*

Setelah ngubekin gugel, akhirnya gue kepincut sama souvenir centong nasi kayu sonokeling. Souvenir macem gini pasti bermanfaat banget buat tamu, apalagi emak-emak yang doyan masak. Secara kan ya... siapa sih yang di rumahnya nggak masak nasi dan nggak butuh centongnya? Gue rasa centong berbahan kayu sonokeling gitu juga dapet banget kesan tradisionalnya. Soal harga? Alhamdulillah kalau untuk souvenir model gini masih dalam zona aman bagi kantong. :D

Gue memilih Ucok Souvenir Jogza sebagai vendor souvenir gue. Sejauh pengecekan di gugel, vendor ini membandrol harga yang murahnya kebangetan untuk centong kayu sonokeling dibanding vendor lain. Gue dikasih harga Rp2.250,- aja per pcs, udah termasuk bungkus tile serut dan sablon nama di gagangnya. Untuk ongkir dari Jogja ke Bandar Lampung pun cuma kena charge Rp101.500,- aja. Jadi, kalau ditotal untuk pemesanan 650 pcs plus ongkirnya, duit gue dan Pipi cuma keluar Rp1.564.000,- aja, bok! Murah? Bangeeeetttttzzz...!!!


Fyi aja sekedar banding harga, nih! Gue pernah iseng cek ke toko souvenir di Bambu Kuning Bandar Lampung. Untuk centong kayu putih biasa yang bahannya lebih tipis dibanding kayu sonokeling, harga yang dibandrol sekitar 4.000-an perak dengan bungkus plastik doang dan belum termasuk sablon nama! Nah, kalau dibandingin dengan yang gue dapet dari Ucok Souvenir Jogza tadi, jelas tho selisih harganya jauh pake bingits, cing! Bayangin, berapa duit yang bisa gue hemat? Sejeti lebih, mak! Ebusseet...!! Tuh kan... wajarlah ya kalau gue lebih milih order souvenirnya ke Jogja daripada beli di toko! *nyengir kuda*

Oya, di vendor ini gue cuma order centongnya aja tanpa thanks card. Kalau mau pake thanks card, cuma nambah Rp100,- aja per lembarnya dengan cetak full color dan bisa pake foto sekalian. Tapi setelah diskusi dengan Pipi dan keluarga gue, thanks card kayaknya nggak penting, deh! Soalnya berdasarkan pengalaman, tiap dapet souvenir nikahan orang, yang namanya thanks card itu nyaris terabaikan. Cuma diliat sepintas terus dibuang. Malah ada yang maen langsung buang aja tanpa baca sedikit pun tulisan di thanks card. Walaupun harganya amat sangat terjangkau, tapi kalau kurang manfaat gitu mending nggak pake aja, deh! Toh ngucapin makasih ke tamunya bisa secara personal pas salaman di pelaminan. Untuk nama mantennya juga kan udah disablon di centongnya. Nah, jadi buat apa lagi thanks card-nya? Ihiks! Entah ini modus ngirit atau pelit. Huahahaha!

Dari segi pelayanan, pihak Ucok Souvenir Jogza sabar banget ngadepin gue yang ngeselin doyan nanya via SMS dan inbox fb-nya. Dikarenakan centongnya handmade, proses pengerjaan souvenir gue butuh waktu agak lama, sekitar 2 bulanan. Dari awal mereka juga udah kasih tau estimasi pengerjaannya yang nggak bisa cepet itu. Gue pun maklum dan nggak terlalu memburu. Asalkan hasilnya maksimal, gue sih manut aja. Toh masih ada jeda sebulan dari hari H setelah souvenirnya jadi.

Proses pengiriman dan packing juga nggak ada masalah. Setelah sampe di rumah dengan selamat dan liat penampakan aslinya si centong, gue suka banget! Walaupun ukuran dan bentuk tiap centong nggak sama karena dibuatnya handmade, tapi finishingnya cukup memuaskan. Centongnya halus. Sablon namanya jelas. Warna maroon untuk bungkus tilenya sesuai rikues gue.


Minusnya sih menurut gue cuma karena ada dua biji centong yang patah. Mungkin ketindih saat proses packing atau pengirimannya. Untungnya, setelah dihitung, gue dapet bonus beberapa centong lagi, euy! Gue jadi ngerasa nggak terlalu rugi karena dua centong yang patah itu ada gantinya. Alhamdulillah... kalau emang rezeki nggak bakal ke mana, ya? :)

Finally, gue puas dengan souvenir gue! Tanpa perlu merogoh kocek kelewat dalem, gue bisa dapetin souvenir yang cucok. Senengnya lagi, setelah acara, saudara dan temen gue bilang souvenir gue bisa langsung dipake untuk nyentong nasi di rumah mereka. Hahay! Di rumah gue pun, nih centong juga masih suka dipake sampe sekarang. Aahh... kalau gitu mah puasnya dobel gue, cing! :D

Sayangnya, souvenir yang memuaskan hati itu nggak dibarengi dengan pembagiannya ke para tamu yang justru mengecewakan di hari H. Huhu. Atas saran nyokap, sengaja souvenirnya baru dikasih setelah tamu salaman dan menjelang tamu pulang. Tapi karena panitia souvenirnya nggak stenbei di tempat dan malah asik keluyuran, alhasil banyak banget tamu yang nggak kebagian souvenir! Padahal kata adek ipar gue yang merhatiin sikon itu, banyak banget tamu yang pengen souvenirnya, tapi ragu mau ambil sendiri. Gegara greget liat sikon gitu, adek ipar gue lah yang akhirnya terpaksa ambil alih tugas sebagai panitia souvenir. Hufft! Eh tapiii... berhubung pembagian souvenir yang nggak rata gitu, di akhir acara malah tersisa banyak souvenir yang ujungnya bisa dialihkan untuk dibagiin ke keluarga besar di Jogja atau tetangga atau temen-temen yang belum dapet souvenir. Syukurlah nggak ada yang terbuang sia-sia! *narik nafas lega*

Yak, sekian review-nya! Next, gue mau bahas vendor nail art gue. Ditunggu aja ya, gaesss! Okehtengsbai!

Ucok Souvenir Jogza
CP: 087839325003
Alamat web-nya: www.ucokjogjasouvenir.com
FB-nya: Ucok Souvenir Jogza II
 

Blog Template by BloggerCandy.com

Full Edited by lovelyshironeko.blogspot.com