Kamis, 23 Juni 2016

Happy 3rd Wedding Anniversary

June 23rd, 2013...

3 tahun telah berlalu sejak tanggal itu. Di sinilah kita sekarang. Kamu, aku, dan dia. Sempurna sudah kebahagiaan keluarga kecil kita.

Terima kasih telah memilihku menjadi istri dan ibu anakmu. Terima kasih telah setia mendampingi, tulus menyayangi, dan ikhlas memaklumi segala kurangku.

Semoga bahtera kita akan berlayar selamanya dengan dipenuhi kebahagiaan, berkah nikmat rezeki, tawa, dan cinta.

Happy 3rd Wedding Anniversary. You know how much I love you.


Kamis, 16 Juni 2016

Review J-Movie: Orange (Orenji)


Menurut elo, dunia paralel itu ada, nggak? Itu lho, dunia yang menghubungkan antara masa lalu dan masa depan. Gue masih ragu sama segala yang berkaitan dengan penjelajahan waktu. But who knows?

Well at least, apa yang dialami Takamiya Naho (Tao Tsuchiya) pada musim semi yang bertepatan di hari upacara penerimaan siswa baru di sekolahnya, nunjukin kalau dunia paralel itu emang ada. Saat itu Naho tetiba mendapati surat yang dikirim untuknya yang saat ini berusia 16 tahun dan masih duduk di bangku kelas 2 SMA, dari dirinya sendiri di 10 tahun mendatang di masa depan.


Dalam surat tertulis bahwa Naho di masa depan meminta pada Naho yang masih duduk di bangku SMA untuk membantunya mengubah semua hal di masa lalu yang disesali Naho di masa depan. Dan semuanya bermula dari hari itu. Dalam surat dikatakan, pada hari itu akan ada siswa pindahan dari Tokyo bernama Naruse Kakeru (Yamazaki Kento) dan dia akan duduk di sebelah Naho. Dan bener aja, bertepatan saat itu, guru Naho memperkenalkan seorang siswa baru dari Tokyo bernama Naruse Kakeru dan memintanya duduk di sebelah Naho. Persis. Semua persis seperti yang ditulis di surat. Sampai di sini, Naho mulai curiga dan takut. Apakah seseorang tengah mengerjainya?

Naruse Kakeru (Yamazaki Kento)

Saat pulang sekolah, Naho mengecek kembali isi suratnya. Lagi-lagi, apa yang tertulis di surat, sungguh terjadi pada dunia Naho sebenarnya. Di sana tertulis kalau Naho dan para sahabatnya, antara lain Hiroto Suwa (Ryo Ryusei), Saku Hagita (Dori Sakurada), Takako Chino (Hirona Yamazaki), dan Azusa Murasaka (Kurumi Shimizu), akan mengajak Kakeru untuk jalan bersama mereka sepulang sekolah. Di surat, 'Naho' meminta agar jangan sampai Kakeru ikut dengan mereka. Pokoknya jangan. Nyatanya, mereka memang mengajak Kakeru dan Kakeru sempat menolak tapi kemudian atas bujukan para sahabatnya, Kakeru pun bersedia ikut bersama mereka. Naho ragu untuk mengikuti permintaan di surat atau nggak. Tapi pada akhirnya Naho berpikir kalau mengajak Kakeru adalah keputusan yang tepat karena membuat suasana semakin seru dan menjadi awal keakraban mereka. Naho saat itu, sama sekali nggak pernah menyangka apa yang bakal terjadi selanjutnya akibat telah memilih sebuah keputusan yang bertolak belakang dengan permintaan dalam surat.

"Orange" versi live action. Dari ki-ka: Takako, Azu, Hagita, Naho, Kakeru, Suwa.

"Orange" versi manga.

Setelah hari itu, Kakeru absen selama dua minggu. Nggak ada petunjuk apapun di surat mengenai absennya Kakeru. Namun saat Kakeru kembali masuk sekolah, Naho nggak melihat ada yang aneh pada diri Kakeru dan Kakeru tetap mengikuti pertandingan sepak bola sekolah sebagai pemain cadangan. Naho kembali teringat pada isi surat. Pada hari itu, Naho diminta untuk menghapus penyesalan lainnya. Dan di atas itu semua, pada hari yang sama, tertulis kalau Naho akan mulai jatuh cinta pada Kakeru.


Oke, cinta. Jadi ini film cecintaan? Mungkin. Tapi mungkin juga bukan. Karena kisah tentang isi surat Naho mengenai penyesalannya di masa depan dan--tentu aja--Kakeru, masih berlanjut...

Jadi, sejak jalan bareng di hari upacara penerimaan siswa baru, Kakeru, Naho, dan para sahabat Naho menjadi akrab. Tapi ternyata hal itu nggak lantas membuat Kakeru membuka diri begitu aja dengan mereka. Naho dan para sahabatnya sama sekali nggak tau bahwa ternyata Kakeru selama ini menyimpan kepedihan yang begitu mendalam akibat kematian ibunya yang bunuh diri tepat di hari upacara penerimaan siswa baru. Kakeru terus memendam penyesalan karena sebelumnya telah bertengkar dengan ibunya dan nggak bisa berada di sisi ibunya saat itu. Kakeru merasa ibunya bunuh diri karena dia. Naho di masa depan menulis jika dia begitu menyesal karena nggak pernah menyadari beban kepedihan yang ditanggung sendiri oleh Kakeru tersebut. Naho di masa depan juga menulis ada begitu banyak hal lain yang disesalinya karena nggak dia lakukan untuk Kakeru, meski dia begitu ingin melakukannya. Dan yang paling utama, Naho di masa depan menyesal karena dia dan para sahabatnya nggak bisa menyelamatkan dan memenuhi janji mereka pada Kakeru. Karena di 10 tahun mendatang, Kakeru nggak lagi bersama dengan mereka. Kakeru telah meninggal karena kecelakaan. Nggak, mungkin lebih tepatnya kecelakaan yang disengaja. Kakeru bunuh diri menabrakkan sepeda yang dinaikinya ke arah mobil akibat nggak kuat lagi menahan kepedihan dan rasa bersalahnya atas kematian ibunya.

Kakeru membayangkan ibunya masih hidup dan berada di depannya

Naho, tentu aja, nggak mau hal yang tertulis dalam surat menjadi kenyataan dan menimpa Kakeru. Untuk itulah, Naho yang masih duduk di bangku SMA bertekad akan menghapus semua penyesalan Naho di masa depan, termasuk menyelamatkan dan memenuhi janji mereka pada Kakeru.

Namun, Naho berpikir nggak mungkin semudah itu menghapus segala penyesalan yang ada, terlebih menyelamatkan Kakeru. Lagipula, surat dari dirinya sendiri di masa depan? Siapa yang bakal percaya?

Tapi ternyata sesuatu yang lain mengejutkan Naho. Bukan hanya dia yang menerima surat yang ditulis oleh dirinya sendiri di masa depan. Sahabatnya, Suwa, juga menerima surat yang sama, yang ditulis oleh dirinya sendiri dari 10 tahun di masa depan. Dan apa yang tertulis di surat yang diterima Suwa, nggak beda jauh dengan apa yang tertulis pada surat Naho. Tentang segala hal mengenai Kakeru dan tentang penyesalan Suwa serta para sahabatnya yang nggak bisa memenuhi janji mereka pada Kakeru.

Meski awalnya sempat menyembunyikan perihal surat mereka pada Hagita, Takako, dan Azu, namun pada akhirnya Naho dan Suwa menceritakan semua kepada ketiganya. Walau mereka sulit percaya pada surat dari masa depan, tapi demi Kakeru, mereka bersedia melakukan apapun. Mereka akan menghapus penyesalan mereka di masa depan, karena berdasarkan yang tertulis di surat, dulu mereka nggak peka atas beban dan kepedihan yang ditanggung sendiri oleh Kakeru. Maka saat ini, mereka ingin Kakeru menyadari bahwa dia nggak sendirian. Mereka ingin agar Kakeru tau bahwa dia punya para sahabat yang akan selalu melindungi dan bersedia berbagi beban yang disembunyikannya. Dan tentu aja, mereka ingin menyelamatkan Kakeru. Mereka nggak mau Kakeru bunuh diri karena terlalu berat menanggung semuanya sendiri.


Tapi, tepat di tanggal 31 Desember, tanggal kematian Kakeru seperti yang tertulis di surat, Kakeru nggak bisa dihubungi dan nggak datang ke tempat janjian mereka untuk merayakan tahun baru bersama. Naho dan para sahabatnya mulai khawatir. Akankah apa yang tertulis di surat menjadi nyata? Akankah Kakeru benar-benar meninggal karena bunuh diri hari itu? Akankah mereka mengulang penyesalan yang sama di masa depan karena nggak mampu menyelamatkan Kakeru? Lantas, seandainya Kakeru berhasil diselamatkan, apakah mereka yakin masa depan akan berubah?

* * *

Aaaaahh~~~~ it moved my heart! Truly, really, deeply!

Berulang kali nonton film ini, tetep aja gue mewek. Terutama di scene-scene tertentu yang nunjukin gimana tulusnya Naho dan para sahabatnya yang siap sedia berbagi beban, melindungi, dan melakukan apapun demi Kakeru. Kayak nemuin harta karun kalau punya sahabat kayak gitu. Iya, nggak, sih? T_T *lap mata*

Awalnya gue cuma penasaran aja pengen nonton semua film dan doramanya Yamazaki Kento alias Yamaken sejak liat dia di live action "Another" lanjut perannya sebagai L di "Death Note" dorama (yang "Death Note" agak bikin kecewa sih karena penggambaran karakter L versi Yamaken beda sama penggambaran versi manga asli dan live action movie-nya). Tapi finally, dari sekian film dan dorama Yamaken yang udah gue tonton, "Orange" adalah salah satu yang paling bikin hati gue nyesss klepek-klepek gimana gitu. Yah, emang dasarnya gue lebih demen film dan dorama persahabatan dibanding cecintaan, jadi waktu nonton ini gue dengan gampangnya langsung melted lebay.

Film "Orange" (atau "Orenji" dalam pelafalan Bahasa Jepangnya) ini merupakan live action dari manga karya Ichigo Takano dengan judul yang sama yang diterbitkan pada tahun 2012. Film ini rilis di Jepang pada Desember 2015 dan disutradarai oleh Kojiro Hashimoto. Gue belum baca manganya, jadi nggak bisa komen banyak, apalagi ngebandingin dengan versi live actionnya ini. Tapi menurut gue, Yamaken yang berperan sebagai Kakeru cukup oke berakting menjadi seorang cowok frustasi tapi tetep pengen keliatan tegar di depan sahabat-sahabatnya. Terbukti, gue jadi pengen banget ikutan puk-puk doi tiap liat ekspresi putus asanya itu. Pake sedikit peyuk-peyuk manja juga nggak apa-apa deh biar lebih varokah, vroh! *eh*

Dari segi cerita, walau nggak masuk ke otak gue gimana caranya surat dari masa depan bisa terkirim ke masa lalu, tapi alurnya enak diikutin dan berhasil buat gue kepo bakal kayak apa endingnya. Ikatan persahabatan antara Naho, Kakeru, Suwa, Hagita, Takako, dan Azu yang begitu kuat, ngajarin kita sesuatu. Persahabatan sejati itu nggak melulu soal hepi-hepi bareng. Justru di titik terendah di hidup kita, ketulusan persahabatan itu diuji. Orang-orang yang masih setia di sebelah kita, bahkan rela melakukan apapun demi kita, itulah yang pantas disebut sahabat sejati.

Judul "Orange" ini juga lumayan bikin gue penasaran dari awal. Simple tapi bikin bertanya-tanya. Apalagi kalau belum baca sinopsisnya. Orange? Cerita tentang jeruk? Hehe. Well, elo kudu nonton film ini sampe akhir dulu dan cermati. Setelahnya, elo baru bisa nyimpulin sendiri kenapa film ini dikasih judul "Orange". Hehe. Oh dan baidewei, setelah nonton film ini, gue jadi mikir, seandainya dunia paralel itu beneran ada, apa gue juga minat untuk kirim surat ke diri gue sendiri di masa lalu? Karena kayaknya gue juga punya banyak penyesalan yang pengen gue ubah di masa ini. Hmmm...

So? Recommended? Iyes, pake banget! Cerita yang ringan tapi juga complicated. Banyak pesan moral yang bisa dipetik dan dihayati dari film ini. :)

Last, di internet banyak yang bilang masih susah cari link donlot film ini. Tapi mungkin kalau ada yang mau sedot, bisa gue bantu untuk klik sini aja. Di situ udah pake subtitle Bahasa Indonesia, kok! :)

Bagi yang sekedar pengen kepoin dulu trailernya, monggo ceki videonya ini...

Versi pendeknya...


Versi agak panjangnya...


Yak, sekian! Happy watching! Ja neee...!


*) Gambar: berbagai sumber.

Rabu, 15 Juni 2016

DIY Cake Stand


Demi ultah pertamanya Ryu yang udah gue ceritain di sini, gue bikin sendiri cake stand untuk taro kue ultahnya Ryu. Tadinya sih pengen beli aja. Tapi bolak-balik ngubekin online shop, cake stand yang harganya murce di bawah gocap nggak ada, bok! Duh, kalau kudu beli yang mehong untuk barang yang mungkin nantinya bakalan jarang dipake setelah acara macem cake stand ini kok ya sayang duitnya? *perhitungan*

Daaan... tetiba suatu hari gue liat ada sterofoam bekas yang udah nggak dipake nangkring di atas meja kantor. Dan kebetulan tuh sterofoam warnanya biru yang emang gue butuhin untuk disesuain dengan tema ultahnya Ryu. Triiing! Tetiba mikirlah otak gue yang nggak seberapa ini. Kenapa nggak bikin sendiri aja cake stand-nya? Ada sterofoam nganggur diberdayakan aja, dong! Sisa bahannya toh udah ada di rumah. Okeh sip, tinggal eksekusi doang! Yuuuk mareeeh bikin prakarya (lagi)! :D

What you need:

  • Sterofoam (bisa polos, bisa warna, sesuai selera masing-masing aja, it's up to you pokoknya!)
  • Kaleng bekas (gue pake kaleng bekas susu S26 Gold ukuran 400g punya Ryu)
  • Kertas kado
  • Pita kain
  • Lem (gue pake FOX)
  • Gunting
  • Cutter (gue pake pisau lipat aja :p)
  • Pensil/Pena
  • Cat warna untuk sterofoam (buat yang sterofoamnya polos)

How to do:
  • Buat pola dengan ukuran yang diinginkan di sterofoam dengan pensil/pena. Gue bikin pola lingkaran dengan diameter 20cm sesuai yang gue butuhin untuk ukuran kue ultahnya.
 
  •  Potong pola yang udah dibuat dengan cutter.
  • Untuk yang sterofoamnya polos, bisa dicat dulu dengan warna yang disuka. Tapi berhubung sterofoam yang gue punya udah ada base warnanya, jadi langsung lanjut ke langkah berikutnya.
  • Lem pinggiran sterofoam, lalu hias dengan pita agar lebih rapi dan cantik.
  • Siapkan kaleng bekas dan rekatkan kertas kado pada seluruh permukaan kaleng dengan lem.
  • Lem pinggiran atas kaleng dan rekatkan pada bagian bawah sterofoam.
 
  • Tunggu lemnya merekat sempurna dan siap dipake. Oke, sampe di sini sebenernya udah selesai. Tapi biar makin cantik, bisa ditambahin sedikit lagi aksen pita. ;)
 

So easy, rite? Dengan iseng bikin sendiri DIY cake stand gini bisa ngebantu mamak-mamak macem gue hemat duit sekian rupiah. Inilah yang namanya the power of kepepet nggak ada budget! Nyahahaha! Oya, kalau mau buat cake stand bertingkat yang jadinya kayak tier gitu bisa diulangi langkah di atas dengan diameter pola yang berbeda-beda sesuai yang diinginkan dan tinggal ditempel bertumpuk mulai dari cake stand berdiameter terbesar di bawah hingga terkecil paling atas.

Selamat mencoba, buibu! Okehtengsbai!


P.S. Sori kalau foto-foto tutorialnya kurang cucok karena difoto pake hape ala kadarnya doang! :p
 

Blog Template by BloggerCandy.com

Full Edited by lovelyshironeko.blogspot.com