Kamis, 21 Februari 2013

Punggung Bernama "Shinta"

Gue dapet kado spesial di hari ulang tahun gue tanggal 14 Februari lalu dari orang yang juga spesial bagi gue, yang nggak lain dan nggak bukan, my beloved Pipi.

Dan, inilah dia penampakan kado spesial itu...


Eh... bukan orangnya... itu mah gue... masa gue dijadiin kado buat ultah gue sendiri? Ngehe. -__-
Tapi jersey dan hotpant yang gue pake itu lho... specially from Pipi! ^^

Eits, ada yang lebih surprise buat gue. Ternyata Pipi sengaja order jersey ini secara customized. Ada tanggal ultah dan nama gue di punggung si jersey. Jelas ini the one and only jersey. Nggak mungkin ada orang lain yang bakal nyamain dong, ya! Aciik!!!

Nih, gue pamerin punggung jersey yang gue maksud. Ada nama gue di sana! Ahay!


Ternyata Pipi juga order jersey yang sama, tentunya ada nama dia juga di punggungnya. Berarti, couple jersey dunk! ^^



Hari Minggu kemarin, kita iseng pakai jersey couple buat jalan ke mall. Dan ternyata banyak orang yang ngeliatin kita (atau jersey kita?) dengan tampang penasaran dan sedikit binal. Lumayan deh bisa jadi artis dadakan! Jiakakak!

Selain jersey, di kado dari Pipi juga nyelip surat ini nih...


Uh... co cuit banget si Pipi ini! Jadi makin lope, deh!

Terakhir, bukan cuma dari Pipi, ternyata calon mertua juga ngasih ini nih untuk ultah gue...


Banyak hadiah di ultah tahun ini. Uuh, jadi terharu! Makasih chayanx, makasih mama, makasih ibu, makasih semuanya! Lopyu pul...!!!

Si Biru yang Menghantui

H-4 menjelang prewed.

Jantung makin deg-degan nggak karuan. Bukan cuma karena nyiapin segala keperluan prewed yang makin deket, tapi juga karena ada kecelakaan kecil yang gue alamin kurang lebih dua hari lalu, which is gue jatuh dari motor waktu perjalanan berangkat kantor. Gara-gara kecelakaan itu, speedometer motor gue retak, kaca spion dan batok motor juga lecet-lecet. Tapi itu sih masih gue anggap 'aman'. Yang buat gue khawatir adalah kaki kiri gue yang memar dan lecet karena jatuh kebentur pinggiran semen selokan. -_-

Alhasil, gue galau banget gimana gue harus prewed nanti dengan keadaan kaki kiri begini. Secara kostum prewed nanti gue bakal pake rok tartan yang mini ala seifuku gitu. Nggak lucu kan kostum udah keren-keren, eh... ada gambar duit gopekan receh warna biru keunguan di paha mulus gue! T_T

Dan, inilah bukti dari memar dan luka di kaki kiri gue...

Memar di paha kiri

Luka di lutut kiri

Sekarang kondisi si biru dan si kuning itu masih adem ayem aja di tempatnya masing-masing. Paha gue juga masih agak bengkak dan sedikit nyeri walau udah gue kompresin terus pakai es batu. Tapi semoga aja dua hari ke depan kondisi kaki gue bisa kembali mulus seperti semula. Jadi gue nggak perlu galau lagi mesti gimana nutupin memar dan luka ini biar kaki gue bisa keliatan semlehoi aduhai di foto. Aamiin!

Jumat, 15 Februari 2013

Because Valentine's Day is My Birthday...

14 Februari.

Sebagian orang di seluruh dunia menanggap hari ini adalah hari penuh dengan cinta kasih.
Yes, today is Valentine's Day.
Dan di tanggal yang sama ini, aku LAHIR di dunia.
So, yes... Aku suka tanggal ini.
I love when Valentine's Day comes not because the Valentine itself.
Because Valentine's Day is MY BIRTHDAY.
That's why I love Valentine's Day ^^

Gue nggak tahu persis kenapa Valentine's Day harus disebut Valentine's Day dan kenapa harus di tanggal 14 Februari, jika alasan perayaan itu sendiri hanya bertujuan untuk menunjukkan kasih sayang. Gue nggak tahu dan nggak mau tahu. Menurutku kasih sayang bisa ditunjukkan setiap hari, nggak mesti ada hari khusus untuk itu. Dan lagi gue seorang muslim. Bukan hal yang pantas bagi gue merayakan sesuatu yang nggak sesuai dalam ajaran agama gue. Oh, nggak. Gue bukan muslim fanatik atau apa. Hanya saja, ini keyakinan gue. Silakan kalau ada yang mau merayakan. Lagipula tujuan tulisan kali ini bukan untuk membahas Valentine's Day. Gue cuma pengen sharing tentang hari ulang tahun gue yang bertepatan dengan tanggal peringatan itu.

Oke. Jadi hari ini adalah ulang tahun gue. Satu hari di mana usia gue bertambah lagi satu angka. Dan itu menunjukkan betapa sudah lamanya (atau singkat?) gue hidup di dunia.

25 tahun. Selama itulah gue sudah hidup di dunia. Lantas selama itu pula, apa yang sudah gue lakukan? Belum banyak. Gue belum meraih apa yang menjadi mimpi gue. Ini baru separuh jalan. Gue belum menjadi seorang anak yang cukup bisa membuat orang tua gue bangga. Gue masih belum melakukan apapun. Masih banyak yang harus gue kejar. Begitu banyak hal yang gue rencanakan. Dan, di tahun ini, ada satu impian besar gue yang insyaallah akan terwujud. Tahun ini, adalah tahun di mana saatnya gue akan menikah...

Ya, usia ke-25 adalah target usia saat gue memutuskan salah satu mimpi gue harus terwujud. Menyempurnakan agama. Menikah. Alhamdulillah, harapan itu insyaallah bisa terlaksana tahun ini. Semoga semua dilancarkan. Aamiin.

Gue nggak selalu merayakan ulang tahun. Hanya beberapa kali dalam hidup, sebuah pesta diadakan untuk merayakan pertambahan usia gue. Gue ingat lagi bahkan saat mencapai usia ke-17, usia yang dianggap 'sakral' bagi sebagian orang di bumi sebagai usia yang menunjukkan awal kedewasaan seseorang, gue nggak pernah berharap untuk mengadakan pesta Sweet Seventeen seperti remaja lain pada umumnya. Gue sudah cukup bahagia jika bisa merayakan hari itu bersama keluarga di rumah. Tapi terima kasih pada para sahabat di masa SMA-ku, merekalah justru yang menyiapkan 'pesta gerilya' untuk gue di sebuah kos-kosan salah satu teman sekelas. Nggak meriah. Nggak penuh dengan hiasan balon atau musik hingar-bingar. Nggak yang seperti itu. Hanya sebuah kesederhanaan dengan kue tart blackforest yang dipersembahkan mereka untuk gue. Dan tentu saja, budaya menyiram tubuh dengan telur dan blau saat ulang tahun, juga gue rasakan saat itu. Sungguh, itu semua entah kenapa membuat gue terkesan. Bukan kemewahan, hanya kesederhaan. Tapi bukankah itu sudah cukup menunjukkan bahwa ternyata masih banyak orang yang menyayangi gue, hingga mau susah payah menyiapkan sebuah pesta 17 tahun demi gue? Itu sangat manis.

Dan era itu sudah lewat. Gue kini memasuki fase dewasa. Kurasa lebih sedikit balon, kado, dan kue tart yang gue dapat untuk tiap pertambahan usia sekarang. Apresiasi cinta kasih orang-orang di sekeliling gue pada ulang tahun gue memang telah berubah. Doa dan harapan. Itulah bagi gue yang terpenting. Semua kebaikan yang mereka inginkan gue untuk mendapatkannya. Dan itu lebih berharga dari kado termewah apapun juga. Terima kasih untuk para sahabat, keluarga, dan kekasih. Terima kasih.

Ah ya, ini ada foto sebuah tart yang gue dapat dari ibu gue hari ini. Gue tahu belakangan ibu disibukkan dengan pekerjaannya. Tapi seorang ibu tetaplah seorang ibu. Mana mungkin dia akan melupakan hari di mana dia bertaruh nyawa melahirkan buah hatinya. Tart ini memang berukuran kecil. Tapi makna kasih seorang ibu di balik pemberian itu, jauh lebih besar bahkan dibandingkan dengan tart terbesar di dunia sekalipun. Thank you, Mom. Love you so and always!

Maaf, kualitas gambarnya kacau. Maklum cuma dari hape 2 empe _ _"

Jadi, benar. Kasih sayang bisa ditunjukkan setiap hari. Tapi khusus hari ini, di tanggal yang sama setiap tahunnya, ada banyak kasih sayang yang gue dapatkan dari orang-orang terdekat. Bukan karena hari ini adalah Valentine's Day. Bukan...

I love when Valentine's Day comes not because the Valentine itself.
Because Valentine's Day is MY BIRTHDAY.
That's why I love Valentine's Day ^^

Minggu, 10 Februari 2013

(Calon) Manten Galau


Rempong. Mungkin itu yang bakal gue bilang kalau ditanya gimana rasanya nyiapin pernikahan sendiri tanpa bantuan Wedding Organizer atawa WO. Terus gue bakal lanjutin jawab: rasanya juga pening, capek, ribet, sutris, deg-degan, jantung berdebar, bimbang, lemah, lesu, lunglai *sindrom lebay kronis: on*, tapi sekaligus seneng dan puas. Ya. Semua komplikasi itu gue rasain dalam waktu bersamaan. Dan akhirnya sodara-sodara sebangsa dan se-Tanah Air Beta, udah bisa ditebak ujungnya bakal berakhir dengan "galau ending"! *ngarang*

Sejak awal gue niat merit, gue memang nggak mau dan nggak pernah kepikiran pakai jasa WO. Bukan cuma soal budget yang keluar bisa dua kali lipat, tapi gue juga ngerasa kurang ada kepuasan batin kalau big day di hidup gue disiapin sama orang lain. Well, mungkin bagi sebagian capeng yang sibuk dan pastinya punya dana berlebih, menggunakan jasa WO adalah hal yang lumrah. Terutama WO yang pro dan udah punya nama. Tapi buat gue, susahnya kita nyiapin dan ngurus ini-itu demi sebuah pernikahan impian secara swadaya, bakalan lebih berkesan. Seenggaknya kita bisa punya cerita yang bisa kita bagi ke anak-cucu kita untuk sekedar sharing pengalaman yang terjadi sekali seumur hidup. Iya, nggak? Iya, dong! *maksa membabi-buta*

Jadi kayak yang gue bilang di awal, efek samping dari kemandirian itu bisa mentok pada kegalauan tak berujung. Gue lagi ngalamin itu. Pasalnya, saking banyaknya hal yang harus diurus, gue sampe bingung dari mana gue mesti mulainya. Nggak tanggung-tanggung, untuk ngatasin ke-telmi-an, gue udah nyoretin satu buku yang gue siapin khusus sebagai Wedding Planner. Isinya mulai dari apa aja yang kudu disiapin, budgeting, list berbagai vendor, schedule tiap bulan, daftar tamu undangan, sampai resep sayur asem *lho?*, semua gue tulis di situ. Maksudnya sih biar gue punya acuan untuk nyiapin hari H nanti. Tapi planning tinggal planning. Toh kenyataannya, banyak yang berubah dari rencana awal. Tapi nggak semuanya sih. Syukurnya. Dan itu pun dikarenakan sikon di lapangan lebih binal dari yang tertulis di kertas. T_T

Misalnya aja planning yang mau beli segala printilan kekurangan merit setelah prewed. Bulan ini, gue dan Pipi udah dijadwalkan untuk foto prewed. Dan gue baru tahu, ternyata persiapan prewed itu sama ribetnya dengan nyiapin pernikahan itu sendiri. Bedanya, keribetan prewed masih dalam skala yang jauh lebih kecil. Jadilah gue dan Pipi harus fokus untuk nyiapin prewed dulu sebelum nyiapin yang lain. Tapi emang dasar capeng ganjen bin centil, sambil nyiapin prewed yang tinggal bentar lagi, gue iseng-iseng tanya berbagai vendor yang jualan souvenir dan box hantaran pernikahan. Iseng tanya beberapa box yang gue mau untuk melengkapi box seserahan dan angsulan yang masih kurang, ternyata ujungnya gue malah shopping di salah satu vendor yang menurut gue harganya lumayan miring dibanding vendor sejenis lainnya. Malah akhirnya bukan cuma box yang gue beli, tapi juga tutup mika dan hiasan pita untuk box sekalian. Naluri emak-emak doyan borongnya tiba-tiba nongol! Haha! Abisnya malu hati juga, udah SMS-an sama si mbaknya yang punya vendor itu dari siang sampai malem, terus ditanya, "jadi gimana, mbak? Mau yang mana? Berapa?", eh... ujungnya nggak jadi beli. Tengsin, cong! Jadilah gue manut aja ngikutin kemauan si mbak-mbak vendor untuk beli dagangan dia. Wkwk! Bilang aja modus pengen belanja! *kabur genjot becak*

Dan, kebetulan baru aja si mbaknya SMS ngagetin kalau orderan gue udah kelar dibuat. Foto salah satu orderan gue, yaitu pita hias customized, di-upload di FB si mbaknya. Nih, sekalian aja gue pamerin ya? ^^

Order from www.rumahhantaran.com or you can add FB ownernya: "Yenny Ikarini" :-)

Eniwei, nyinggung soal prewed lagi, sebenernya planning prewed kami pun bergeser dari tanggal yang udah disepakatin sebelumnya. Untungnya, gesernya sih nggak jauh-jauh. Cuma diundur seminggu dari jadwal yang ditetepin. Sempet sedikit shock dan (lagi-lagi) galau, waktu Mas Irfan si fotografer prewed gue, tiba-tiba nelpon minta tanggal prewed kami harus diubah karena alesan tertentu. Setelah konfirm ulang tanggal, akhirnya diputusin kalau kami bakalan difoto prewed hari Minggu, tanggal 24 Februari 2013. Gue sengaja minta hari Minggu karena sekolah biasanya sepi di hari itu. Eh, sekolah? Yup! Gue pake sebuah SD swasta di kota gue sebagai lokasi foto prewed kami. Gue nggak mau dong kalau pas lagi serius pose, ada banyak anak SD ngerubungin kami kayak lagi nonton topeng monyet. Jadi bukan cuma harus fix ulang tanggal dengan pihak sekolah, gue juga harus konfirmasi lagi ke salon yang bakal gue pakai untuk make up-in waktu prewed. Soalnya, si mbak-mbak yang bakalan ngelenongin gue nanti bakal ngintil kami prewed seharian. Tuh kan rempong, cyin?

Oke, nggak cukup sampai di situ kegalauan gue. Gue juga galau soal mahar. Awalnya gue minta mahar ke Pipi sejumlah uang koin sesuai tanggal merit kami nanti. Tapi di suatu malam yang dingin dan senyap tanpa suara tokek, gue tiba-tiba minta beberapa uang koin yang udah disiapin Pipi sebagai mahar diganti dengan uang kertas dan semuanya kudu uang kuno. Alesannya sih biar hias maharnya nanti lebih mudah. Soalnya, niatnya gue memang pengen hias mahar sendiri supaya lebih irit (atau pelit? _ _" ). Kalau koin semua, ide gue mentok. Tapi kalau ada uang kertasnya, ada aja ide yang nyelip. Eh, pas Pipi udah sanggup untuk ganti mahar yang gue minta, tiba-tiba gue bilang kalau hiasnya nanti di vendor aja. Alesannya, biaya yang dikeluarin kalau kita hias sendiri dan hias di vendor nggak beda jauh. Biar Pipi yakin, gue jabarin rincian biayanya dengan gaya sok jadi akuntan dadakan. Wkwk! Giliran Pipi udah ACC, eh... gue malah ngomong lagi kalau gue mau coba hias sendiri aja, nggak jadi pakai jasa vendor. Gubrak! *Pipi langsung ngasah golok*

See? Kegalauan laknat ini bener-bener lagi nyerang gue dengan riang gembira. Sampe-sampe gue juga galau gue ini cantik atau manis, sih? Jiakakak! *readers minggat sambil ngupil*

Oke, lupakan! Intinya, persiapan pernikahan bukanlah sesuatu yang mudah. Nggak semudah yang tertulis di Wedding Planner, nggak semudah yang diajarin guru agama gue soal syarat nikah, dan nggak semudah yang pernah gue tonton di film kartun waktu Cinderella nikah sama pangerannya. Karena Cinderella nggak perlu minta surat keterangan ke Ketua RT-nya atau ngurus administrasi ke KUA buat nikah.
 

Blog Template by BloggerCandy.com

Full Edited by lovelyshironeko.blogspot.com