Kamis, 19 Desember 2013

Save the Day, Save the Budget!

"...dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan." (QS. Al-'A`raf [7] : 31)
Nggak sedikit temen gue para capeng yang nanya tentang segala tetek-bengek perkewongan, saat sebelum atau setelah gue merit. Dengan gaya bak seorang guru besar dalam hal perkewongan, gue menjawab semua pertanyaan mereka dengan berbagai jawaban super yang canggih nan diplomatis. Mereka pun bertepuk tangan riuh merasa terpuaskan atas jawaban gue. Oh okay, itu cuma imajinasi gue aja. The truth is gue menjawab pertanyaan mereka lebih kayak curhat ketimbang sharing. Ha-ha. Iya, kalau yang ini gue serius. Intinya adalah gue cuma bisa kasih jawaban sesuai sama pengalaman yang udah gue lewati. That's it.

Kebanyakan temen gue itu menanyakan berapa budget yang mesti dipasrahkan keluar untuk sebuah pesta kewongan. Maklum, hari gini dana emang jadi momok yang bisa bikin kewongan pending atau bahkan cancel. Kalau kasusnya gini kasian juga, ya? Apalagi kalau gejongnya minim, biaya hidup bengkak, dan nabung cuma bisa recehan ala kadarnya. Kalau kayak gitu, sampe Monas pindah ke bulan juga elo nggak bakal kawin-kawin, dong! :D


Sebenernya kalau niat elo pengen sah aja secara hukum agama dan negara, cuma modal Rp500.000,- juga udah bisa, kok! Eum... teorinya sih malah jauuuh di bawah itu. Nih, buat temen-temen gue tercintah dan para capeng yang belum tahu, berdasarkan PP no.51 tahun 2000 dan PP no.47 tahun 2004, biaya pencatatan perkawinan di KUA sebenernya cuma Rp30.000,- aja! Seriusan, dengan 30.000 perak doang elo udah bisa kimpoi! Itu biayanya bahkan lebih murah dari harga paket hematnya McD, cing! Tuh, kudunya biaya kewongan mah nggak perlu jadi momok lha ya, bray!

Iya. Emang gitu. Harusnya sih. But c'mon, get real! Masalahnya sekarang adalah gimana kalau perkimpoian nan sakral elo itu kudu disangkutpautin sama pengakuan secara sosial dan budaya. Let's say, resepsi misalnya. Bagi yang mampu atau memaksakan mampu, biasanya kepentok sama yang namanya gengsi. Gengsi kalau pestanya cuma sederhana, gengsi kalau nggak di gedung mewah, gengsi kalau nggak pake vendor terkenal bin mahal, dan segala gengsi lainnya. Oh, dan jangan lupakan orang tua. Kebanyakan kasus, justru mereka yang biasanya berandil besar punya hasrat gengsi dalam pesta pernikahan anaknya. Nah, ini letak momok menakutkan itu sebenernya.

Pengalaman kewong kemarin, alhamdulillah segala per-gengsi-an itu nggak ada dalam kamus gue. Gue sejak awal mutusin untuk mengadakan resepsi sederhana di rumah. Alhamdulillah ortu asyik-asyik aja. Bermewah-mewah di gedung sebenernya bisa aja. Tapi buat apa? Apa itu menjamin gue nggak bakal mewek setelahnya karena duit bertus-tus jut-jut ludes dalam sekejab hanya demi perayaan beberapa jam? Terlebih seandainya duit tus-tus jut-jut itu ternyata hasil ngutang sana-sini? Aih, itu lebih menakutkan bagi gue daripada sekedar mengejar gengsi, ya nek!

Gue ada cerita sedikit yang bisa kita renungin sama-sama. Di salah satu forum situs yang membahas tentang berapa biaya yang dikeluarkan untuk merit, beberapa orang mengaku menipiskan dompet mereka mulai ratusan juta bahkan hingga 1 M cuma buat resepsi! Wow pake banget! Angka yang super fantastis buat gue yang rakyat jelata ini. Kalau beli es cendol bisa untuk persediaan berapa tahun tuh? Entah mereka adalah para pengejar gengsi atau cuma orang-orang yang kebingungan buang duit ke mana saking banyaknya. Tapi anehnya, setelah pengakuan dosa itu, mereka terkesan menyesali tiap rupiah yang mereka kucurkan itu. Kayaknya mereka sadar kalau pada akhirnya begitulah sosial-budaya menjalankan perannya. Apa para tamu yang dijamu dengan segala kemewahan resepsi bakal peduli kalau duit yang punya hajat ludes demi jamuan tersebut? Nggak. Nenek-nenek salto juga tahu. Ujungnya tinggal gigit jari sama gengsi. :p


Nah, ini gue cuma sekedar berbagi ya, bukan bermaksud doktrin apalagi menggurui, gue punya tips tersendiri untuk menghemat budget kewongan kemarin. Anggep aja ini sekaligus menjawab pertanyaan temen-temen yang udah nanya ke gue. Gue cuma menulis ulang pengalaman gue berdasarkan pemikiran simple gue tentang prinsip hemat bin irit (bukan pelit) dalam budgeting perkimpoian. Hopefully helpful! ^_^

1. Se-galaksi bima sakti juga tahu, kalau pengen hemat ya adain resepsi sederhana aja di rumah. 
Yup! Itu bisa memangkas biaya sewa gedung, dekorasi, transportasi, charge vendor, dan printilan lainnya. Terbukti, setelah hitung-hitungan bareng nyokap, budget resepsi gue bisa mencapai 2x lipat kalau di gedung. Buat gue, itu duit yang gede banget. Bisa buat DP rumah, kebeli motor baru, dan biaya beranak. Tapi kalau rumah elo nggak memungkinkan, cari alternatif gedung yang murah atau resto juga bisa. Tapi jangan langsung tergiur harga sewa murah. Tanya lagi detail harga di luar biaya sewa. Justru biasanya yang bikin bengkak anggaran itu ya karena ada charge tambahan lagi di sana-sini dari pihak gedungnya.

2. Semakin banyak tamu yang diundang, semakin langsing dompet elo! :D
Makanya, pastiin bener-bener list undangan elo. Soalnya ini berkorelasi sama porsi catering yang dipesen, undangan yang dicetak, souvenir, dan seterusnya. Pengalaman gue, jumlah tamu yang bakal diundang kudu didiskusiin bener-bener dulu sama ortu. Kalau udah ada dealing sekian orang, bisa memudahkan budgeting printilan lainnya. Yang pasti, make sure apakah mengundang sekian orang dan menghabiskan sekian rupiah untuk jamuan mereka itu sesuai kemampuan finansial elo atau nggak? Kalau nggak, ya jangan dipaksain! Undang orang-orang terdekat aja yang elo kenal, kayak keluarga, para sahabat, dan tetangga kiri-kanan.

3. Makanan memonopoli 50% (bahkan lebih) dari total anggaran.
Makanan adalah hal yang paling krusial dari sebuah pesta. Faktanya, tamu yang datang ke resepsi pasti mengincar makanan yang ada di pesta itu. Bahan gosip hits emak-emak sekompleks dari sebuah resepsi pernikahan mayoritas disebabkan karena makanan yang disajikan, bukan karena dekorasi atau printilan lainnya. Kalau nggak mau repot, elo bisa pesen catering. Nggak mesti catering terkenal nan mehong, yang penting elo yakin catering itu punya jaminan kualitas dan cita rasa masakannya jempolan. Kalau mau lebih hemat, minta bantuan keluarga atau tetangga elo yang pinter masak. Selain rasa, jumlahnya juga harus mencukupi. Perhitungan porsi buffet yang elo sajikan kudu jumlah tamu dikali 2, dengan asumsi tamu yang diundang biasanya mengajak orang lain untuk menemaninya. Perhitungan ini mutlak kalau elo nggak mau malu di hajatan elo sendiri karena kekurangan makanan. Terbukti, dengan perhitungan macam gini, para tamu yang dateng ke resepsi gue (yang ternyata lebih rame dari yang diperkirakan), semua kebagian makanan sampe acara kelar. Makanannya malah sisa banyak jadi besoknya masih bisa berbagi rezeki lagi ke para tetangga. Alhamdulillah, ya! :D

4. JANGAN boros cuma buat undangan dan souvenir!
Sengaja banget gue capslock "JANGAN" yang artinya ya beneran jangan, nek! Banyak capeng menganggap kesan pertama dari sebuah pernikahan dilihat dari seberapa bagus atau mewahnya undangan. Lemme say this: sebagus atau semewah apapun undangan elo, ujungnya bakal berakhir di kotak sampah! Nah, suck it! Undangan tuh yang penting siapa yang punya hajat, lokasi, dan waktunya terpampang jelas. Souvenir juga gitu. Pilihlah souvenir yang memiliki manfaat, bukan souvenir yang mehong tapi cuma bakal jadi pajangan doang. Buang-buang duit itu namanya. Kalau elo kreatif dan pengen lebih hemat, undangan dan souvenir bisa elo bikin sendiri. Kalau gue, dengan memilih undangan dan souvenir ber-range harga 2.000-an perak aja, pastinya kocek yang elo keluarin buat DP motor matic yang murah lebih gede dibanding kocek yang gue keluarin buat order 600 pcs undangan dan 650 pcs souvenir kewongan gue kemarin. Biaya itu udah termasuk ongkirnya dari Jogja ke Bandar Lampung. Meski murce meriong, nyaris semua tamu yang dapet undangannya bilang kalau undangan gue unik. Nggak sedikit juga dari mereka yang terinspirasi pengen order undangan sejenis. Tuh, yang keren nggak mesti mehong, kan? ;-)

5. Pilih dekorasi minimalis dan hindari menggunakan bunga segar.
Atas nama pengiritan, dekorlah resepsi elo seminimalis mungkin tapi tetep cantik. Nggak perlu pake bunga segar sebagai dekorasi. Sejauh pengamatan gue tiap dateng ke resepsi orang, dekorasi full bunga segar adalah pemborosan paling nyata dari sebuah pesta pernikahan. Karena selain harganya yang mahal, bunga segar ujungnya cuma bakal jadi sampah selesai acara. Solusinya, elo bisa mempercantik dekor dengan bunga imitasi, diganti pake hiasan balon, atau barang-barang daur ulang juga nggak kalah seru. Gue memilih alternatif pertama untuk dekorasi resepsi gue dan terbukti tetep manis. Percaya deh, tamu nggak bakal terlalu ngeh sama dekorasi elo. Mending duit dekornya elo alokasikan ke makanan. Soalnya seheboh atau seminim apapun dekorasi pesta, nyatanya tamu PASTI lebih peduli sama makanannya! :D

6. Baju pengantin terbaik adalah yang disewa BUKAN dijahit.
Ini kalau elo mikirnya hemat total. Dan gue setuju. Banyak gue denger cerita penyesalan manten gara-gara waktu merit lebih milih menjahit sendiri bajunya dibanding menyewa cuma demi kesempurnaan penampilan yang semu. Bahkan ada yang sampe pake jasa designer dan bajunya kudu full payet atau dihiasi segala macem batuan, mulai batu swarovski sampe batu kali. Hihi. Padahal ya pemirsa, tuh baju cuma bakal dipake sekali seumur hidup, itu pun cuma beberapa jam. Gue berani taruhan, selesai acara bajunya cuma nangkring doang menuh-menuhin lemari. Gue bisa ngomong gini karena denger curhatan temen gue sendiri. Sekian jeti dia hamburkan cuma demi menjahit seonggok gaun impian yang nggak ada gunanya sekarang. Dia sadar mestinya saat itu dia bisa lebih wise untuk menyewa aja baju pengantinnya. Biayanya jauh lebih murah dan nggak berakhir pada pemborosan bin mubazir.

7. Nggak perlu upacara adat yang kelewat lengkap.
Sangat disarankan buat elo yang emang punya dana super mepet, nih! Seringkali ketika mengadakan pernikahan anaknya, orang tua pengen pake upacara adat lengkap. Sebenernya nggak ada salahnya sih ikutin maunya ortu. Itung-itung pelestarian budaya juga. Masalahnya adalah hari gini upacara adat lengkap biasanya butuh biaya lumayan gede. Salah satu penyebab penggelembungan dahsyat anggaran merit karena upacara adat ini. Gue memilih nggak pake Siraman dan Midodareni karena alasan itu juga. Tapi demi membahagiakan ortu plus keinginan pribadi yang emang nggak mau identitas suku bangsa gue hilang, gue tetep mencomot sebagian kecil aja upacara adat Jogja di kewongan gue, yaitu Panggih dan Bubak Kawah. Gue juga mutusin memakai Paes Ageng biar identitas gue sebagai orang Jogja tetep kental. Menurut gue ini win-win solution untuk menengahi keinginan kita dan ortu, dan pastinya juga nggak keluar terlalu banyak budget.

8. Rajin survei vendor murah dan berkualitas.
Elo kudu rajin--kalau perlu lebih rajin dari anak SD yang belajar buat ulangan--untuk survei dan tanya sana-sini demi mendapatkan vendor berkualitas tapi damai di kantong. Surveilah mulai dari vendor abal-abal sampe vendor kalangan jetset (kalau yang ini harganya pasti ngajak berantem, tapi sekedar iseng cari referensi bolehlah! :p). Jangan dulu tergiur tawaran paket murah dari suatu vendor. Elo kudu perhatiin kualitas, jam terbang, portofolio, dan banding harga masing-masing vendor. Kalau perlu saat elo udah dapetin harga termurah, elo minta diskon lagi! Pasang muka tembok aja. Kan demi ngirit! *plak*. Kalau udah klik dan deal harga, pastiin setelahnya elo DP tanggal biar nggak keduluan sama yang lain. Pasalnya vendor tipe murce bin berkualitas sesungguhnya adalah vendor inceran sejuta umat! Nyahahaha!

9. Tentukan skala prioritas!
Terakhir dan ini yang menurut gue paling penting, elo kudu bikin skala prioritas! Demi mewujudkan pesta pernikahan spektakuler sepanjang abad, banyak capeng yang akhirnya terbuai pada keinginan dan kesenangan semata, bukan pada kebutuhan mereka yang sesungguhnya. Nggak heran kalau akhirnya tabungan mereka jadi terkuras sampe kering kerontang. Untuk menghindari hal ini, sebaiknya elo bikin list detail apa aja yang penting dalam pernikahan elo. Tendang jauh-jauh ke Neptunus segala hal yang nggak mesti ada. Misalnya aja dekorasi yang heboh bin mewah dan mencetak banyak-banyak foto prewed dengan frame segede gaban. Itu semua buat apaan? Mau bikin pameran tah? Pajangan doang, kan? Udah deh, batasi pengeluaran untuk hal-hal nggak penting kayak gitu!

Yak, akhirnya sampe di sinilah ocehan gue tentang segala hal menyangkut penghematan budget perkewongan. Sekali lagi, semua ini versi gue. Mungkin banyak capeng laen punya trik berbeda. Kalau ada yang mau nambahin, monggo tulis di komen. Kalau ada yang merasa cukup dengan yang gue posting ini dan pengen segera dipraktekkan, ya monggo juga! Happy wedding aja deh dari gue! :D

Rabu, 18 Desember 2013

Tukang Bohong = Penderita Gangguan Mental


Kayaknya nyaris semua orang pernah bohong. Entah itu sekedar iseng atau dengan tujuan yang jelas-jelas untuk menutupi sesuatu. Kadang, bohong sering dianggap hal yang biasa. Tapi gimana kalau bohong itu udah jadi suatu kebiasaan? Agak gerah juga ya kalau kenal sama tukang bohong gitu, cing! Hidupnya kayak panggung hiburan, penuh sandiwara! Eaaa...! :D

Gue baru tahu ternyata kebiasaan bohong bisa termasuk ke dalam penyakit mental juga. Istilah kerennya tuh Mythomania. Berdasarkan Wikipedia, Mythomania atau pembohong patologis adalah orang yang memiliki perilaku yang terbiasa atau selalu terdorong untuk berbohong. Definisi lengkapnya yaitu "Pathological lying is falsification entirely disproportionate to any discernible end in view, may be extensive and very complicated, and may manifest over a period of years or even a lifetime.".

Seorang Mythomaniac cenderung nggak sepenuhnya sadar kalau dia lagi bohong dan agak sulit membedakan antara 'kenyataan' dari imajinasinya dan kenyataan sesungguhnya. Dia berbohong bukan karena emang dia pengen berbohong, tapi lebih karena pengen diperhatikan sama orang lain. Dia nggak sadar kalau orang lain bisa terganggu dengan kebohongannya. Bagi seorang Mythomaniac yang terpenting adalah dia bisa dapet perhatian dari sekelilingnya atas pengakuan yang berdasarkan 'kenyataan' imajinasi dia demi melarikan diri dari kenyataan sebenernya.

Jelas ganggu dan bahaya banget kalau ada orang di hidup kita yang ternyata seorang Mythomaniac, ya? Parahnya, banyak kasus yang terjadi kalau penderitanya sendiri nggak sadar dia menderita Mythomania. Well, bisa sedikit membantu, nih! Kalau kamu kenal dengan seseorang yang punya ciri-ciri kayak di bawah, maka bisa jadi orang tersebut adalah seorang Mythomaniac atau pembohong patologis. Apa aja itu? Nih pelototoin, bray!
  1. Suka membesar-besarkan sesuatu
  2. Selalu menimpali bahwa dirinya lebih baik dari apapun yang kita ceritakan
  3. Menciptakan realitas sendiri untuk dirinya
  4. Karena mereka nggak menghargai kejujuran, mereka juga nggak bakal menghargai kepercayaan
  5. Bisa jadi dia juga seorang hypochondriac, yaitu orang yang selalu merasa sakit (dibuat-buat) karena ingin diperhatikan
  6. Sering kontradiktif dengan pernyataan sebelumnya atau nggak konsisten
  7. Bisa berbohong hanya untuk hal sepele
  8. Selalu membesar-besarkan setiap kalimat
  9. Bisa mengubah-ubah cerita setiap saat
  10. Sangat defensif ketika dipertanyakan pernyataannya
  11. Sangat percaya apa yang dikatakannya benar padahal jelas nggak benar buat orang lain
  12. Berbohong ketika sebenernya sangat mudah untuk menceritakan kebenaran
  13. Berbohong untuk mendapat simpati dan terlihat baik
  14. Selalu mendapat nilai baik pada pandangan pertama tapi selanjutnya nggak bisa dipercaya
  15. Memiliki gangguan kepribadian
  16. Jago memanipulasi
  17. Ketahuan bohong berkali-kali
  18. Nggak pernah mengakui kebohongan (ya iyalah... mana ada maling teriak maling?)
  19. Menganggap dirinya legenda
Lantas, apa penyebab seseorang bisa menderita Mythomania? Menurut berbagai sumber yang gue baca, penyebabnya bisa karena berbagai faktor. Sebagian besar faktor utamanya adalah kegagalan demi kegagalan dalam kehidupannya, mulai dari hal studi, masalah keluarga, kisah-kisah sentimental (salah satunya mungkin cinta... yang penderitaannya tiada akhir! :p), bahkan kegagalan dalam hal pekerjaan. Jadi, dia pengen melarikan diri dari segala problematika itu dan mulai merangkai kebohongan demi melepas image dirinya sendiri yang nggak dia sukai. Alasan lainnya adalah melindungi diri dari celaan, mendapat keuntungan pribadi, menghindari hukuman, dan kepentingan hubungan sosial. Dia akan mengesankan kalau dirinya adalah pribadi positif nan sempurna pada orang lain.

Seorang Mythomaniac butuh bantuan psikolog/psikiater untuk menyembuhkan 'penyakitnya'. Tapi bagi penderita kronis, bukan cuma butuh terapi medis aja tapi juga butuh terapi spiritual (agama) untuk jangka waktu yang lama dan berkesinambungan. Kalau itu masih nggak mempan juga, saran gue sih mending jadi aktor/aktris aja, deh! Kan kerjaan kayak gitu dibutuhin bakat alam untuk bisa akting di depan orang lain. Jelas yang namanya akting kan pasti cuma bohongan. Jadi, itung-itung menyalurkan kebohongan pada tempatnya lah! Nyahahaha! :D



Source: berbagai sumber

Minggu, 01 Desember 2013

Pesta Pernikahan yang Keren Itu... Simple, Sweet, and Intimate!

Okay, frontal banget kan judulnya? Sesuai sama pernikahan impian ala gue...

Mestinya sih ini bakal jadi postingan nggak penting. Secara ya kewongan gue udah lewat dan alhamdulillah berlangsung lancar kayak tol. Bukan maksud hati juga nggak bersyukur sama kewongan kemarin, tapi gue cuma pengen nulis apa yang belum sempet gue tulis tentang pernikahan yang pernah gue impikan saat belum jadi bini orang.

Beberapa hari lalu gue baru aja cerita tentang resepsi pernikahan gue. Di postingan itu gue curhat kalau resepsi gue nggak begitu sesuai ekspektasi dan niat awal gue. Simple? Yes! Sweet? Eum... bisalah! Apalagi mantennya... sweet banget! Hahay! Okay, skip! Intimate? A big nope! Absolutely nope! Yang ini bener-bener melenceng dari planning semula. Sorry to say.

Cewek mana yang nggak pengen pernikahannya dihelat semewah putri kerajaan? Hampir semua cewek. Gue salah satunya. Jujur aja. Tapi apa daya, kantong tak sampai. Hihi. Meski begitu, gue pernah punya konsep pernikahan lain yang bikin gue jauh lebih ngiler: pernikahan sederhana. Yup, konsep pernikahan yang kontras banget sama pernikahan impian sejuta cewek kayak yang gue sebut sebelumnya.

Buat gue pernikahan sederhana itu jauh lebih istimewa. Alih-alih terjebak hingar bingar pesta, kita justru mendapatkan kekhidmatan dan meresapi makna pernikahan itu sebenernya.

Ya, gue emang penggila pernikahan sederhana. Sederhana dengan dekorasi simpel nan manis yang bikin teduh mata yang lihat. Sederhana dengan hanya mengundang keluarga dan orang-orang tersayang yang bener-bener kita kenal dan kenal kita. Sederhana dengan segala kehangatan dan keintiman. Itulah sebenernya pernikahan yang gue impikan selama ini dan bener-bener bikin gue ngiler setengah busyet. Oya, lokasinya kudu di outdoor. Di sebuah taman atau kebun yang rindang dengan suara kicauan burung dan mungkin ada kolam ikan lengkap dengan air mancurnya. Bisa dibilang mirip romantic garden party ala bule-bule gitu. Aww...!! Tuh kan baru nulis gini aja gue udah ngences. *brb mau ambil tissue dulu*





Nyatanya? Budaya. Yah, gue kepentok sama budaya yang udah ada dari zaman mbah gue pleigrup. Budaya yang sebagian besar bertentangan dengan ide gue tentang segala kerennya pesta pernikahan impian ala gue. Ditambah lagi sikon yang nggak mendukung yang ada di sekitar gue. Mau nggak mau, gue pun harus membuang salah satu wishlist dari dalam kotak harta karun yang selama ini gue simpan di dalam mimpi gue. Gue harus kompromi sama kenyataan--walau agak berat.



Kalau mau dijabarin kenapa akhirnya pesta pernikahan impian gue yang keren itu pupus, mungkin sampe teteknya Jupe kempes juga nggak bakalan kelar. *lha... mesyum kumat... bawa-bawa tetek -__-" *. Tapi beberapa intinya sih begindang, pemirsa...
  • Pertama, lokasinya nggak cucok, bok! Secara niat awal pengen resepsian di rumah aja biar hemat bin irit, kalau mau pake tema pernikahan ala gue itu--yang kudu outdoor kebon--bakalan nganar kalau diadain di rumah gue. Sebabnya rumah gue adalah tipe-perumahan-mepet-tembok-tanpa-halaman-cuma-ada-teras-itupun-sempit-dan-jalan-depannya-aspal-blas. Solusinya sih ya cari lokasi lain yang lebih pas, kayak di restoran bernuansa garden. Tapi pasti harga sewanya mahal, cing! Nah, biar lebih hemat, undang tamunya sedikit aja kali! Undang sedikit tamu? Langsung merosot ke poin kedua aja, deh!
  • Undang sedikit tamu dan jadilah anak durhaka! Oh okay, itu premis yang berlebihan. Orang tua gue nggak sampe ngutuk gue kayak gitu. Syukurnya. Tapi waktu gue mengutarakan niat mulia gue untuk mengundang beberapa orang aja, ekspresi nyokap jadi kayak pengen masukin gue ke perutnya lagi. Bokap juga langsung kayak pengen bantuin nyokap masukin gue ke perutnya nyokap. Dan akhirnya gue pun cuma bisa pasrah. Ya iyalah... daripada gue balik lagi ke perut? Nggak sih, cing! Intinya mah orang tua gue nggak mau jadi bahan gosip empuk orang-orang yang nggak diundangnya. See? Elo nggak undang mereka di hajatan elo, maka siap-siap jadi selebriti dadakan. Pastinya in a negative way. That's the fact. Shit. Rempongnya resepsi kalau udah dihadapkan pada budaya sosial macam gini, ya? *ngobrol sama plastik kresek*
  • Garden party itu budaya bule, kita mah nggak kayak gitu. Ya emang iya. Gue inget kakak gue pernah bilang kalau garden party kayak yang gue pengen itu nggak sesuai sama budaya dan adat kita. Di mana nggak sesuainya juga gue nggak ngerti. Emang sih pesta dengan konsep garden party begindang masih jarang banget diadain di tempat gue--yang masyarakatnya cenderung mainstream bahwa pernikahan adalah pesta formal--jadi mungkin bakal janggal dan ada rasa aneh bagi tamu. Tapi buat gue sih justru unik. Dan gue emang suka segala hal yang di luar kebiasaan umum. Ah, percuma. Tetep aja ide gue dianggep ngasal. -__-
Seandainya--boleh kan berandai-andai walaupun nggak bakal kejadian juga--seandainyaaa... aja kalau waktu itu resepsi gue bisa digelar sesuai konsep yang gue pengen, gue pengen banget garden party dengan tema njawani yang kental. Dekorasinya tetep simpel tapi semua kudu bernuansa etnik Jogja. Ada loro blonyo, gamelan, sepeda ontel, jarik batik, gunungan, dan printilan lain yang mendukung tema. Keren tuh pasti! Warnanya tetep pilihan gue ke maroon. Tapi pastel or putih juga cucok abis untuk pesta kebon begindang. Ah... sutralah...



Yah... akhirnya sih kita udah sama-sama paham kalau tiap orang punya dream wedding-nya masing-masing. Tapi kita juga kudunya nyadar diri untuk nggak menyesali sesuatu yang nggak semestinya disesali sampe berlarut-larut kalau apa yang dimau nggak kesampean. Meski nggak sepenuhnya sesuai pengennya gue, pernikahan gue tetep berkesan buat gue. Sampe kapan pun. Hari terpenting di hidup gue, nggak mungkin nggak berkesan, kan? Gue bersyukur karena gue masih bisa mengadakan resepsi dan mengundang banyak tamu. Banyak orang di luar sana yang boro-boro resepsi, bisa bayar administrasi KUA tanpa ngutang aja udah syukur. Atau orang-orang lainnya yang mungkin bisa mengadakan resepsi perfect dan mewah, tapi pernikahannya berakhir dengan perceraian. Jadi, apa lagi alesan gue untuk nggak mensyukuri rezeki dan semuanya yang melancarkan pernikahan gue? :-)

Gue juga mengingatkan diri gue sendiri bahwa pernikahan bukan cuma antara kita dan dia. Tapi juga ada orang tua dan keluarga di sana. Orang tua membebaskan gue untuk memilih sendiri laki-laki yang pantas gue jadikan suami. Ada restu orang tua yang nggak mungkin bisa gue gantikan hanya demi ego atas sebuah simple, sweet, and intimate garden party semata. Yah... meskipun pendapat gue tetep belum berubah kalau konsep pernikahan kayak gitu emang keren, tapi... orang tua gue dan restunya itu lebih keren, cing! (eh, itu nggak salah beneran gue yang nulis kan, ya?) *takjub sendiri*


*) Gambar: berbagai sumber
 

Blog Template by BloggerCandy.com

Full Edited by lovelyshironeko.blogspot.com