Jumat, 25 April 2014

Review Dokumentasi: Infra Photoworks

Pesta pernikahan yang disiapin mati-matian dan menguras banyak energi, pikiran, keringat, air mata, waktu, dan uang nantinya cuma bakal tersisa dalam lembaran foto dan video. Oke, pahami itu dulu, ya! Udah? So, itulah alasan kenapa bagi gue dokumentasi sangat penting. Berbanding terbalik dengan pemilihan vendor lain, gue nggak mau gambling untuk mendelegasikan atau diintervensi pihak lain dalam pemilihan vendor dokumentasi. Gue nggak mau nyesel seumur-umur gara-gara setelah segala hektiknya pernikahan, wujud kenangan terakhirnya malah nggak memuaskan, bok!

Gue udah tau Infra Photoworks sejak tahun 2012. Awalnya sih cuma gara-gara nyasar ke facebooknya waktu lagi browsing vendor foto di Bandar Lampung. Pas ceki foto-fotonya, ealaaah... eike langsung sukria, cyiin!! Tone dan angle fotonya selera gue banget. Sempet parno jangan-jangan harganya ntar ngajak berantem, etapiii... pas gue inbox Mas Irfan si ownernya Infra buat tanya harga, ternyata paket yang ditawarkan doi cincay bajay! Cucok bingits sama kantong manten pelit irit kayak gue ini! Hoho. Tapi berhubung hari H gue waktu itu masih jauuuh, jadi kita belum ada deal. Sebagai referensi, gue sih masih suka bolak-balik browsing, tanya sana-sini, dan berulang kali survei berbagai vendor foto lainnya. Tapi entah kenapa, sampe koprol jungkir balik juga teteup di hati tuh yang feel-nya dapet cuma Infra doang. Uhuk! *ketelen lemari*

Sebelum mutusin pake Infra, gue dan Pipi minta ketemuan dulu sama Mas Irfan. Kami pengen liat dulu sample fisik album hardcover, sample fisik foto yang dicetak, tanya lebih lanjut soal harga, deesbre deesbra. Maklum, Infra Photoworks ini studionya ada di Metro, jadi ya doi nggak bisa setiap saat nongkrong di Bandar Lampung dan nggak setiap saat juga kami bisa maen ke studionya. Setelah ketemuan dan ngobrol sama Mas Irfan, ternyata orangnya asik dan doyan becandaan mulu, bok! Makin dapet aja deh chemistry-nya! Uhuk! *ketelen lemari lagi* Jadilah pemirsa, cuma dengan 'kopi darat' yang sekali itu doang, kami langsung deal pake Infra!

Awalnya sih cuma pengen ambil paket pre wedding aja di Infra. Tapi secara gue udah cucok ditambah kelewat males survei vendor foto lain, akhirnya kami ambil paket wedding juga, plus tambahan dokumentasi sehari untuk acara seserahan. Ditotal-total, kocek yang kami keluarin untuk dokumentasi di Infra nggak sampe 10 jeti, udah include video liputan hari H dan transport. Murce bingits, kan? :D

Oh baidewei, waktu mau deal, khusus prewed gue dikasih harga paket lama dari Mas Irfan. Mestinya sih udah kena harga baru yang lebih mehong, tapi berhubung gue udah ceki harga sejak setahun sebelumnya, makanya gue di-charge harga yang lama. Untuk hari H pun gue masih dikasih bonus foto lagi dan no charge at all. Aduhay! Baek banget dikau, cyiin!! *kelabangin jenggot Mas Irfan*

Kalau pengen tau harga dan paket apa aja yang ditawarkan Infra Photoworks, monggo diceki brosurnya di bawah. Harga ini berlaku per Februari 2014. Fyi, kalau ada tambahan dokumentasi yang kamu pengen, Mas Irfan fleksibel untuk menyesuaikan harganya dengan budget yang kamu punya dan gue jamin masih sangat affordable! :)


Oya, beberapa hari lalu gue bbm-an sama Mas Irfan dan doi kasih info harga terbaru untuk paket pre wedding per April 2014:
  1. Paket Rp1.500.000,- : dapet 10 file edit dan 1 cetak 22R antigores+frame.
  2. Paket Rp2.500.000,- : dapet 10 file edit, bonus 10 file (no edit), 1 cetak 22R antigores+frame, dan video clip prewed.
  3. Paket Rp10.000.000,- : lokasi Singapore, tiket pesawat PP dan penginapan 3 hari 2 malam ditanggung Infra (biaya makan dan lainnya ditanggung klien), dapet 15 file edit, 2 cetak 22R antigores+frame, dan semua file masuk CD.

Yang belum tau dan penasaran sama foto-foto karya Infra Photoworks di kewongan gue, kamu cek aja posting-posting lama gue:






Jadi sodara-sodara, gue sangat merekomendasikan vendor ini. Dengan harga yang damai di kantong, kamu bisa dapetin kualitas foto dan video yang nggak abal-abal. Mas Irfan dan timnya juga seru mampus, jadi kalau mau diskusi soal foto atau hal lainnya sama mereka bakalan nyaman banget. Gue pribadi sih malah ngerasa sharing sama temen aja gitchu! Hehe. Oya, mereka nggak cuma melayani wilayah kota Metro dan Bandar Lampung aja, tapi juga luar kota, luar negeri, malah kalau perlu sampe luar angkasa juga! Wkwkwk! Tapi yang terakhir ini gue serius, ya... cuma satu kata dari gue soal Infra Photoworks: PUAS! :D

Tim Infra Photoworks. Yang namanya Mas Irfan itu yang paling ujung kiri. You guys rock!

Sekian reviewnya. Next, gue mau cerita vendor tenda gue. Okehtengsbai!

Infra Photoworks
Jl. A. Yani, No.116. 15A Simpang Kampus, Metro, Lampung
CP: 08568103810 / 085379787330 / 08990522187 (Mas Irfan)
FB: Infra Photoworks atau Irfan Chan 

Sabtu, 19 April 2014

Review Catering: Catering Kartini

Untuk merit, gue dan nyokap sepakat investasi lebih ke makanan demi kepuasan para tamu. As we know it, mayoritas tamu yang dateng ke pesta pernikahan lebih mengincar makanan dibanding hal lain dan menyimpulkan bagus atau nggaknya pesta ya berdasarkan kualitas makanan yang disajikan.

Berhubung gue ribet ngurus printilan lain, maka khusus untuk catering gue percayakan semua ke nyokap. Yah, berdasarkan alasan yang udah disebutin tadi bahwa makanan adalah yang paling krusial dalam sebuah resepsi, jadi mending urusan catering diserahkan sepenuhnya sama yang ahli ajalah ya, nek? :p *ngeles*

Catering Kartini udah jadi inceran nyokap sejak lama untuk vendor nikahan gue. Gue nggak survey vendor catering manapun lagi karena percuma juga, soalnya nyokap keukeuh pengen pake catering ini aja. Titik. Alasannya?

Well, Catering Kartini adalah salah satu catering lawas di Bandar Lampung. Nama catering diambil dari nama ownernya, Ibu Kartini. Tapi karena beliau udah lama stroke, jadi sekarang diambil alih anaknya, Mas Ari. Walau ganti generasi, cita rasa masakan catering ini dari masa ke masa nggak berubah. Waktu mutusin pilih catering ini pun kita nggak pake test food segala, secara nyokap udah sering banget nyicip masakannya di berbagai acara. Itulah kenapa walau banyak catering lain, nyokap ogah pindah ke lain hati. Dan akhirnya tanpa banyak cing to the cong, nyokap pun tentunya langsung transfer DP ke Mas Ari dengan hati berbunga-bunga, sodara-sodara!

Gue ambil paket mulai dari nasi box untuk pengajian, prasmanan acara seserahan, sampe buffet dan pondokan untuk hari H. Karena negonya dibantu saudara gue yang tetanggaan sama Mas Ari, gue dikasih banyak diskon dan bonus. Harganya menurut gue masih terjangkau banget. Mereka menawarkan beberapa paket yang bisa dipilih, dengan range mulai dari Rp30.000-an per pack. Harga masih bisa menyesuaikan kalau pilihan menunya mau divariasi sesuka kita. Fyi, ini adalah paketan yang gue dapet per awal tahun 2013. Denger-denger sih untuk tahun 2014 harga udah naik.

Waktu itu gue pesen 1.300 porsi untuk 600 undangan di hari H, udah include 100 porsi buffet akad dan 100 porsi buffet keluarga. Alhamdulillah makanan berlebih padahal tamu yang dateng lebih rame dari undangan yang disebar. Sisa makanannya malah masih cukup untuk dibagiin ke keluarga dan tetangga, plus untuk stok lauk beberapa hari. Cius ini mah! :D

Untuk dekorasi, meja buffet dan pondokannya dibikin sesimpel mungkin. Cukup dihias bunga segar di dalam pot ukuran medium aja. Ini karena menyesuaikan konsep nikahan gue yang diadakan sederhana di rumah. Warna kainnya gue rikues kudu mengikuti tema acara yang bernuansa merah maroon dan putih. Oya, gue dapet bonus sepasang meja penerima tamu dengan warna kain tetep sesuai rikues gue.



Berdasarkan testi yang disampein ke gue dari temen-temen yang dateng ke resepsi, mereka sepakat kalau makanan di nikahan gue itu: enak, nagih, pengen nambah tapi malu (eeaaa... ini versinya Ko Josef yang entah kelaperan atau doyan! :p), dan banyak yang tanya pake catering apa. Ah... girangnya denger komen-komen aduhay mereka! Ihiks!

Tapiii... berhubung yang urus catering sepenuhnya nyokap, jadi gue nggak inget detail menunya apa aja. Hadeeh... maapkeun otak karatan gue yang nggak berguna ini yak, pemirsa! *nelen keyboard*

Eum... gimana kalau dipelototin aja foto hasil jepretan Infra Photoworks di bawah? Nggak nampil semuanya sih, tapi kayaknya cukup mewakili penampakan sebagian dari entah-berapa menu yang ada di acara gue. Wkwkwk! *menghilang dengan cantik*

Menu acara seserahan:






Menu Hari H:







Jadi kesimpulannya, jaminan mutu catering ini nggak perlu diragukan, harganya pun terjangkau. Pilihan nyokap emang top markotop banget, deh! Puas eike, bok! Recommended lah nih catering! :D

Semoga review ini bisa sedikit membantu para capeng yang berlokasi di Bandar Lampung dan lagi galau cari vendor catering kualitas maksimal dengan budget minimal. Berikutnya gue bakal bahas vendor dokumentasi. Okehtengsbai! ^_^

Catering Kartini
Jl. Griya Persada Z, No. 14, Way Halim, Bandar Lampung
Telp. 0721-702338

Selasa, 15 April 2014

Lima Tahun Lalu...

Masih ingatkah, sayang? Apa yang terjadi antara kita lima tahun lalu? Bagaimana awal dari dimulainya kisah kita?

Mungkin konyol dan memalukan, tapi inilah kisah kita. Mungkin kita akan tertawa saat mengingatnya, tapi inilah kisah kita. Sebuah warna-warni yang dilukiskan Tuhan untuk kita dan mengajari kita tentang misteri jodoh.

Ya, sayang. Bagiku, semua masih terasa begitu segar. Terbingkai rapi dalam otakku...

* * *

5 April 2009

Festival Kebudayaan Jepang (Bunkasai) V adalah saat pertama kali kita bertemu. Oh, tentu saja setidaknya akulah yang menganggap begitu. Kau salah satu peserta J-band dan aku hanya kebetulan datang untuk melihat acara bersama seorang sahabat. Kau tidak menyadari kehadiranku, tapi aku memperhatikan aksimu membetot bass di atas panggung. Cosplay ala Reita--bassis dari v-kei band Jepang the Gazette--yang kau tampilkan hari itu, kuakui aku menyukainya. Kau tampil lengkap dengan noseband putih, bleaching stylist hair, dan segala aksesoris khas Reita. Kau memang berhasil membuatku penasaran, tapi tidak cukup membuatku berniat mengajakmu berfoto bersama seperti banyak pengunjung lainnya. Dan aku berhambur pulang sesaat setelah kau turun dari panggung.

Tapi tahukah kau, sayang? Di perjalanan pulang, aku dan sahabatku iseng mengomentari penampilan bandmu. Mulai dari lagu yang kalian bawakan hingga style masing-masing personil. Dan tahukah kau, sayang? Bibir ini tiba-tiba berujar, "Si 'Reita' untuk gue.". Lalu kami tertawa. Menertawakan keisengan kami yang berlagak seperti komentator musik. Ya, sungguh saat itu aku hanya iseng. Bahkan ucapan "Si 'Reita' untuk gue" pun, itu hanya iseng. Aku berani sumpah. Tapi kini aku berpikir, mungkinkah saat itu ada malaikat yang menguping obrolan iseng kami, lalu mencatat ucapan isengku, lalu melaporkannya pada Tuhan untuk di-ACC? Haha. Entahlah. Yang pasti sejak saat itu sosokmu tidak lagi mengusikku sama sekali--SAMA SEKALI--sampai hari itu tiba...

* * *

12 April 2009

Untuk kepentingan liputan komunitas Jepang di salah satu media cetak lokal, seorang wartawan yang merupakan kakak tingkat di kampus menghubungiku. Ya, saat itu teman-teman kuliahku telah mengenalku sebagai seorang penggila budaya Jepang dan tergabung dalam sebuah komunitas Jepang. Aku menghubungi seorang teman komunitas, menginfokan peliputan tersebut, dan meminta bantuannya untuk mengkoordinir teman-teman sekomunitas lainnya. Saat itu dia menawarkan juga peliputan sebuah band yang dimanagerinya. Band yang kebetulan beraliran musik v-kei dan pemenang pertama J-band Bunkasai minggu lalu. Entah bagaimana, obrolan tiba-tiba berujung pada sebuah nomor yang diberikannya padaku. Dia bilang itu nomor salah satu personil bandnya. Entah siapa, tapi aku diminta menghubungi nomor itu. Well, ini bukan untuk kepentingan peliputan, lebih kepada hal yang personal.

Sesaat setelah mendapatkan nomor itu, aku hanya diam. Memandangi nomor yang tertulis pada secarik kertas di tanganku dan tidak tahu mesti apa. Sedetik berikutnya aku meraih ponsel, mengetik pesan singkat, dan send. Tidak, aku tidak mengirimkan SMS pada nomor entah-siapa itu tapi pada teman yang memberikan nomor tersebut. Aku menulis pesan kalau aku menolak menghubungi nomor entah-siapa itu. Aku seorang perempuan dan pantang bagiku memulai lebih dulu menghubungi seorang lelaki entah-siapa pemilik nomor itu. Tidak akan pernah.

Tidak ada balasan.

Tapi lalu tiba-tiba ponselku mengeluarkan suara. Menampilkan sebuah pesan elektronik--dari nomor yang tidak kukenal.

Hy...
Neh chinchan ya :-)
Neh rukie..Hhe

SMS pertama darimu... masuk ke nomorku... dari nomor yang tidak kukenal... dari nomor yang ternyata milik entah-siapa yang diberikan temanku tadi...

Itulah awal perkenalan kita, sayang. Sebuah perkenalan yang hanya melalui pesan singkat elektronik. Aku hanya mendapatkan nomormu. Tidak diberitahu siapa namamu, seperti apa dirimu, apa posisimu di band, atau hal lainnya. Tidak ada. Hanya sebuah nomor.

Tahukah kau, sayang? Detik itu, aku bahkan belum menyadari, kalau aku tengah berkirim SMS dengan seorang 'Reita' yang sempat 'kuinginkan' kemudian terlupakan, seminggu yang lalu...

* * *

14 April 2009

Ingatkah sayang, apa yang terjadi di siang hari tanggal 14 April, lima tahun lalu? Ya, itu tepat di saat baru dua hari kita berkenalan dan saling berkirim SMS...

...

...

...

Saya mau melamar di perusahaan ibu.

Kira-kira begitulah isi SMS yang kau kirim ketika itu.

Kau pasti masih ingat, sayang. Saat itu kita tengah bercanda tentang bagaimana aku akan mencari seorang kekasih. Yang akan kulakukan adalah membuka lowongan bagi siapa saja yang ingin mendaftar. Seperti layaknya pencari kerja, tiap orang harus membawa CV-nya. Aku melontarkan itu sebagai candaan untukmu. Tapi sepertinya kau tidak sependapat denganku. Kau tiba-tiba mengajukan 'lamaranmu'. Dan kau serius.

Jadi begitulah. Kau seketika menyatakan perasaanmu sebagai respon candaan konyol yang kulontarkan. Sebuah pengakuan hati yang diungkapkan dengan cara menggelikan.

Tidak ada candle light dinner.

Tidak ada surprise romantis.

Tidak ada bunga, coklat, atau boneka. 

Hanya SMS.

Tapi aku tahu kau tulus. Entahlah. Aku tidak bisa menjelaskan, hanya mampu merasakan.

Dan sayang... mungkin setelah hari itu, sekarang dan seterusnya, kita akan menertawakan bagaimana konyolnya SMS kita. Yah, tapi setidaknya kekonyolan SMS itu yang akhirnya secara ajaib membuat aku dan kamu kini menjadi kita. Bukan begitu, sayang?

* * * 

16 April 2009

Tepat dua hari setelah kita memutuskan bersama tapi belum pernah bertemu lagi sejak Bunkasai. Ya, kita berkenalan, lalu berpacaran, tapi masih belum saling mengetahui wajah masing-masing. Oke, ini kekonyolan lain yang sepertinya akan kita tertawakan bersama tentang bagaimana awal hubungan kita dimulai dahulu.

Malam hari itu kau menjalani interview pertamamu bersama personil bandmu di salah satu stasiun radio swasta di Bandar Lampung. Kau memintaku datang menemani. Kau ingin bertemu denganku setelah resmi menjadi kekasihku. Aku katakan aku tidak bisa keluar malam tapi aku akan tetap mendengar interviewmu di radio.

Apa kau masih ingat, sayang? Di salah satu sesi interview, seorang pendengar mengirim SMS dan bertanya apakah kau sudah memiliki pacar. Kau tahu, sayang? Aku menunggu jawabanmu dengan hati berdebar.

"Udah."

Singkat. Tapi jawabanmu telah cukup memberiku kebahagiaan. Tanpa ragu kau ucapkan itu. Kau mengakuiku, mengakui kita, di depan umum.

Selewat interview, kau bercerita bagaimana personil bandmu terkejut mendengar jawabanmu. Tentu saja. Karena yang mereka tahu kau masih single dan belum resmi memperkenalkanku pada mereka. Setidaknya hingga detik itu. Ah, ini kekonyolan hubungan kita lagi yang mesti kita tertawakan bersama, sayang!

* * *

18 April 2009

Akhirnya, hari itu kita berjanji akan bertemu untuk yang pertama kali setelah resmi berpacaran di salah satu stasiun televisi lokal. Saat itu kau tengah mengikuti babak final sebuah kompetisi band di sana. Aku malu mengakui ini, tapi aku mengalami morning sickness sebelum kita bertemu. Aku tidak bisa menelan sarapanku dan merasa mual. Sepertinya aku terlalu gugup.

Tahukah kau, sayang? Di tengah perjalanan, aku terus berpikir: seperti apa dirimu, bagaimana reaksimu melihat wajahku nanti, dan sebagainya. Mungkin aku tipe yang terlalu mengkhawatirkan segala yang belum pasti. Tapi jika ini adalah pertemuan pertama setelah berpacaran nyaris seminggu dan ada kemungkinan kecewa saat melihat fisik masing-masing, bukankah wajar jika aku merasa cemas?

Dan... di sanalah kita akhirnya bertemu.

Pertemuan fisik pertama setelah resmi berpacaran nyaris seminggu.

Kau berlari kecil menjemputku di area parkir. Sosokmu semakin jelas, semakin dekat. Mataku terpaku padamu. Berusaha meneliti tiap sisi dirimu secara tepat. Dan seketika aku kaku. Tanganku berkeringat, terasa sedingin es. Aku tidak mampu merasakan apapun lagi, kecuali kibasan sayap seekor kupu-kupu yang terus-menerus terbang berputar menggelitik dalam perutku. Jantungku berdetak begitu kencang hingga aku takut kau mendengarnya. Sepertinya morning sickness-ku kumat.

Berusaha menutupi kegugupanku--dan kebahagiaanku, tentu saja--aku tersenyum kecil padamu. Kau balas tersenyum hangat. Seraya mencoba memulai obrolan pertama kita dengan gugup, kau pun membimbingku masuk menuju stasiun televisi itu.

Dan apa kau tahu, sayang? Detik itu rasanya aku ingin menjerit di depan wajahmu, "Ya Tuhan... kau adalah 'Reita' yang pernah 'kuinginkan' di Bunkasai dulu!"

* * *

Lima tahun lalu... kita tidak saling mengenal.
Lima tahun lalu... aku hanya kebetulan melihatmu di sana.
Lima tahun lalu... kau hanya kebetulan menyedot perhatianku di atas panggung itu.
Lima tahun lalu... nomormu yang tidak kukenal, nyaris kubuang.
Lima tahun lalu... entah kenapa, kau membuatku nyaman sehingga betah meladeni SMS-mu.
Lima tahun lalu... aku hanya berpikir kalau ini adalah cinta buta, karena aku tidak tahu siapa kamu.
Lima tahun lalu... aku tidak pernah berpikir kalau candaanku akan menjadi awal sebuah "KITA".

Dan sayang, sungguh... aku tidak pernah menyangka kalau sosok yang kukagumi di atas panggung waktu itu kelak akan menjadi jodohku.
Dan sayang, sungguh... aku tidak pernah menyangka kalau sosok yang kukagumi di atas panggung waktu itu justru menawarkan diri untuk kumiliki.

Sayang, kita tahu... begitu banyak tawa dan air mata yang telah kita lewati--dan akan terus kita lewati--bersama.
Sayang, kita tahu... pernah kita hampir menyerah dengan hubungan ini, tapi lalu merasa begitu sesak saat salah satu dari kita menghilang.
Sayang, kita tahu... mungkin kita bisa membohongi satu sama lain, tapi tidak hati kita. Tidak akan pernah.

Aku tahu kau bukan lelaki romantis. Jarang merayu dengan untaian kata indah, jarang menghadiahiku dengan bunga atau coklat. Tapi kau telah melakukan banyak hal--hanya demi aku. Saat aku sakit, kau siap merawatku hingga sembuh, tanpa peduli apakah penyakitku bisa menularimu atau tidak. Saat aku sedih, kau siap menawari bahumu untuk aku bersandar dan memberi penghiburan agar senyumku kembali terlihat. Bahkan saat aku berada di titik terendah dalam hidupku, kau masih setia di sampingku, meyakinkanku bahwa kau tidak akan pernah meninggalkanku. Kau tahu, sayang? Semua yang kau lakukan jauh lebih romantis dari apapun juga.

Karena itu, sayang...
Terima kasih atas ketulusan hatimu.
Terima kasih untuk selalu ada di sana untukku.
Terima kasih untuk lima tahun yang membahagiakan bersamamu.
Terima kasih karena kau telah membuktikan janjimu dulu: memilihku sebagai pendamping hidupmu dan ibu dari anak-anakmu kelak.

Semoga aku bisa mendampingimu selalu, bukan hanya di dunia, tapi juga di akhirat. Aamiin.

Happy 5th Anniversary, sayang.


Dari istri yang selalu menyayangimu,
Mimi

Kita lima tahun lalu...


Senin, 14 April 2014

HAPPY 5TH ANNIVERSARY FOR US, DEAR!

Di tahun ini aku bukan lagi kekasihmu.

Di tahun ini aku bukan lagi tunanganmu.

Di tahun ini aku adalah istrimu.

Kelima kalinya bertemu tanggal ini sejak kau sampaikan perasaanmu padaku dan kita memutuskan bersama menjalani sebuah hubungan.

Tahun-tahun berlalu dan alhamdulillah kita berhasil melewatinya hingga sekarang. 

Tidak ada kata yang sebanding untuk menyampaikan betapa bahagianya memiliki lelaki sepertimu selama ini.

Terima kasih, Pipi.

Sangat menyanyangimu, selalu...


with love,
XOXO
Mimi 

Rabu, 02 April 2014

Review Make Up: Salon Shinta

Pengalaman gue sebelum merit tahun lalu, gue agak kesulitan googling vendor-vendor pernikahan yang berlokasi di Bandar Lampung. Giliran dapet, setelah diceki harganya selangit, bok! Padahal dari awal gue cuma pengen pernikahan sederhana dan jangan sampe over budget. *derita rakyat jelata T_T*

Bermodal nekad dan niat tulus *uhuk!*, akhirnya gue mutusin me-launching review ini dengan maksud bisa menambah referensi bagi para capeng yang sama-sama berlokasi di Bandar Lampung tapi tight on budget kayak gue. Hehe. Yah, walaupun udah kadaluwarsa baru posting hari gini mah tapi tetep masih layak dibaca kan, ya? Iya ajalah! Nyahahaha! *nggak ngerasa dosa*

Okay, everybodeh... gue mulai reviewnya dari vendor make up dulu aja, deh! Sisanya menyusul di posting lain, yak! :p

Well, proses pemilihan vendor make up termasuk cepet. Gue dapet rekomen sebuah salon untuk vendor make up kewongan gue dari 'sejuta umat'. Mulai dari temen-temen nyokap, saudara gue, sampe budenya Pipi menggiring gue untuk pake salon tersebut. Salon rekomen 'sejuta umat' yang dimaksud adalah Salon Shinta. Alesannya kata mereka Salon Shinta udah dikenal sebagai salah satu salon lawas yang bagus untuk adat Jawa di Bandar Lampung. Awalnya gue masih ragu. Tapi setelah liat hasil make up seorang manten yang manglingi di foto salah satu klien fotografer gue si Mas Irfan (Infra Photoworks)--which is setelah gue tanya sama manten yang bersangkutan ternyata doi pake jasa salon ini juga--akhirnya manutlah eike memilih Salon Shinta sebagai vendor make up kewongan. *tipe yang mudah dihasut*

Ibu Sundari selaku pemilik salon termasuk sesepuh di Bandar Lampung dalam merias pernikahan adat Jawa. Orangnya ramah dan kalau ngomong tuh halus njawani banget. Jujur, saking njawani-nya, gue jadi ngerasa kayak preman kalau lagi ngobrol sama beliau! -__-"

Kolase Make Up Preparation by Infra Photoworks

Gue pake Salon Shinta dari acara seserahan sampe resepsi. Menurut orang-orang yang liat hasil riasannya, katanya gue manglingi. Well, manglingi itu cuma ada dua penjelasan logis: gue tambah kece atau gue aslinya ancur seancur-ancurnya. Oke, nggak perlu dijawab. Gue udah tau jawabannya. End of story. *gantung diri*

Gue suka hasil riasannya yang nggak medok, soft, dan natural. Tapi khusus riasan mata, kayaknya gue prefer kalau dibikin lebih smokey. Duh, gue lupa rikues dari awal, sih! Huhu. But it's not a big deal soalnya kayak gini aja gue udah mempesona, kan? Ihiks! *dilarang protes*

Salon Shinta punya koleksi baju yang lumayan banyak. Stoknya bisa diceki langsung di sanggarnya. Tapi kalau mau dateng ke sana, usahakan jangan weekend karena di saat itu mereka biasanya full job dan enaknya sih telepon dulu untuk janji ketemuan. 

Untuk harga, Salon Shinta cukup affordable dan negotiable. Tapi berhubung mereka nggak ada paket-paketan, harganya disesuaikan sama apa aja yang dibutuhin terus baru ditotal damage cost semuanya. List yang gue minta waktu itu, antara lain: make up gue dan nyokap untuk acara seserahan, beskap Pipi untuk acara seserahan, make up dan beskap akad, make up dan baju pengantin 2x ganti untuk resepsi, make up para ibu di hari H, beskap para ayah, make up dan kebaya para adik perempuan, beskap para kakak laki-laki, beskap keluarga besar, adat Panggih Jogja dan Bubak Kawah, Tari Karonsih, pergola kayu di pintu masuk timur, serta dekorasi pelaminan dan kamar pengantin. Untuk semua itu, harga yang gue dapet sangat damai di kantong. Nominal pastinya nggak bisa gue sebut karena too privacy, tapi pokoknya nggak sampe puluhan jeti. Oya, khusus pengantin dipegang langsung sama Ibu Sundari. Jadi nggak perlu khawatir untuk tambah charge karena harga yang ditawarkan udah include make up by owner. Nah, yang paling bikin enak tuh kalau mau DP ke Salon Shinta nggak mesti bayar 50% dulu, berapa aja yang penting ada 'tanda jadi'. Pelunasannya pun bisa diselesaikan setelah acara. Girang banget dah gue kalau poin ini mah! :D *elus-elus manja kartu ATM*

Yang bikin gue tambah girang, Salon Shinta memberikan bonus 2x perawatan gretong seminggu sebelum hari H kepada semua capeng yang booking jasa salon ini. Cihuy tho? Ya iyalah, cing! Secara bisa mengurangi budget untuk perawatan di luar--yang untungnya waktu itu belum jadi gue ambil paketnya di tempat spa langganan gue. Hahaha! *manten pelit*

Tapi Salon Shinta tetep ada minusnya. Waktu hari H, mereka datengnya nggak on time. Janjinya start make up sekitar jam 3-an, tapi baru nongol di rumah jam 4 subuh bertepatan saat gue juga baru bangun tidur (oke, gue ngaku salah karena gue tidur kayak kebo! :p). Padahal sebelumnya Ibu Sundari sendiri bilang kalau pengerjaan make up paes ageng lukis (bukan tempel) makan waktu sekitar 4 jam-an. Alhasil prada paes ageng gue agak berantakan karena dikerjakan ngebut dalam injury time akad yang kudu mulai jam 7 pagi! T_T

Terakhir, sekedar saran aja, bagi capeng yang pengen pake salon ini sebaiknya hubungi mereka beberapa bulan sebelum hari H dan jangan mendadak. Pengalaman gue waktu mau DP salon ini di bulan Desember 2012 untuk tanggal 22-23 Juni 2013, jadwal mereka ternyata udah nyaris full-booked untuk tahun 2013. Untungnya di tanggal yang gue minta, mereka masih free. Tapi ternyata nggak lama setelah gue, menyusul capeng lain yang ikutan booking untuk akad di tanggal 22 Juni. Berhubung akad tuh capeng pagi hari, jadi nggak ada bentrok waktu karena acara seserahan gue diadakan siangnya. The date was saved! :D

Daaan... finally, nih gue pamerin penampakan make up manten versi Salon Shinta:

Before: Sebagai perbandingan, pelototin dulu muka natural gue yang manis nan unyu ini! *hoek!*


After: Nah, ini dia muka gue yang katanya manglingi setelah dipermak Ibu Sundari!

Make up Acara Seserahan

Make up Akad

Make up Resepsi

Make up Resepsi

All Make up & Costumes. Photos by Infra Photoworks.

Before-After. Bandingin foto selfie gue di kiri sesaat sebelum make up, dengan foto di kanan yang udah dipermak abis. :D

Next: review vendor catering. Okehtengsbai! ^_^

Shinta Salon dan Kursus
Jl. Srikandi 47, Sawah Brebes, Tanjung Karang Timur, Bandar Lampung (masuk gang yang ada gapura depan lapangan bola Kampung Sawah)
Telp. 0721-263663 (CP: Ibu Sundari atau adiknya si Mbak Yuni)
 

Blog Template by BloggerCandy.com

Full Edited by lovelyshironeko.blogspot.com