Selasa, 15 April 2014

Lima Tahun Lalu...

Masih ingatkah, sayang? Apa yang terjadi antara kita lima tahun lalu? Bagaimana awal dari dimulainya kisah kita?

Mungkin konyol dan memalukan, tapi inilah kisah kita. Mungkin kita akan tertawa saat mengingatnya, tapi inilah kisah kita. Sebuah warna-warni yang dilukiskan Tuhan untuk kita dan mengajari kita tentang misteri jodoh.

Ya, sayang. Bagiku, semua masih terasa begitu segar. Terbingkai rapi dalam otakku...

* * *

5 April 2009

Festival Kebudayaan Jepang (Bunkasai) V adalah saat pertama kali kita bertemu. Oh, tentu saja setidaknya akulah yang menganggap begitu. Kau salah satu peserta J-band dan aku hanya kebetulan datang untuk melihat acara bersama seorang sahabat. Kau tidak menyadari kehadiranku, tapi aku memperhatikan aksimu membetot bass di atas panggung. Cosplay ala Reita--bassis dari v-kei band Jepang the Gazette--yang kau tampilkan hari itu, kuakui aku menyukainya. Kau tampil lengkap dengan noseband putih, bleaching stylist hair, dan segala aksesoris khas Reita. Kau memang berhasil membuatku penasaran, tapi tidak cukup membuatku berniat mengajakmu berfoto bersama seperti banyak pengunjung lainnya. Dan aku berhambur pulang sesaat setelah kau turun dari panggung.

Tapi tahukah kau, sayang? Di perjalanan pulang, aku dan sahabatku iseng mengomentari penampilan bandmu. Mulai dari lagu yang kalian bawakan hingga style masing-masing personil. Dan tahukah kau, sayang? Bibir ini tiba-tiba berujar, "Si 'Reita' untuk gue.". Lalu kami tertawa. Menertawakan keisengan kami yang berlagak seperti komentator musik. Ya, sungguh saat itu aku hanya iseng. Bahkan ucapan "Si 'Reita' untuk gue" pun, itu hanya iseng. Aku berani sumpah. Tapi kini aku berpikir, mungkinkah saat itu ada malaikat yang menguping obrolan iseng kami, lalu mencatat ucapan isengku, lalu melaporkannya pada Tuhan untuk di-ACC? Haha. Entahlah. Yang pasti sejak saat itu sosokmu tidak lagi mengusikku sama sekali--SAMA SEKALI--sampai hari itu tiba...

* * *

12 April 2009

Untuk kepentingan liputan komunitas Jepang di salah satu media cetak lokal, seorang wartawan yang merupakan kakak tingkat di kampus menghubungiku. Ya, saat itu teman-teman kuliahku telah mengenalku sebagai seorang penggila budaya Jepang dan tergabung dalam sebuah komunitas Jepang. Aku menghubungi seorang teman komunitas, menginfokan peliputan tersebut, dan meminta bantuannya untuk mengkoordinir teman-teman sekomunitas lainnya. Saat itu dia menawarkan juga peliputan sebuah band yang dimanagerinya. Band yang kebetulan beraliran musik v-kei dan pemenang pertama J-band Bunkasai minggu lalu. Entah bagaimana, obrolan tiba-tiba berujung pada sebuah nomor yang diberikannya padaku. Dia bilang itu nomor salah satu personil bandnya. Entah siapa, tapi aku diminta menghubungi nomor itu. Well, ini bukan untuk kepentingan peliputan, lebih kepada hal yang personal.

Sesaat setelah mendapatkan nomor itu, aku hanya diam. Memandangi nomor yang tertulis pada secarik kertas di tanganku dan tidak tahu mesti apa. Sedetik berikutnya aku meraih ponsel, mengetik pesan singkat, dan send. Tidak, aku tidak mengirimkan SMS pada nomor entah-siapa itu tapi pada teman yang memberikan nomor tersebut. Aku menulis pesan kalau aku menolak menghubungi nomor entah-siapa itu. Aku seorang perempuan dan pantang bagiku memulai lebih dulu menghubungi seorang lelaki entah-siapa pemilik nomor itu. Tidak akan pernah.

Tidak ada balasan.

Tapi lalu tiba-tiba ponselku mengeluarkan suara. Menampilkan sebuah pesan elektronik--dari nomor yang tidak kukenal.

Hy...
Neh chinchan ya :-)
Neh rukie..Hhe

SMS pertama darimu... masuk ke nomorku... dari nomor yang tidak kukenal... dari nomor yang ternyata milik entah-siapa yang diberikan temanku tadi...

Itulah awal perkenalan kita, sayang. Sebuah perkenalan yang hanya melalui pesan singkat elektronik. Aku hanya mendapatkan nomormu. Tidak diberitahu siapa namamu, seperti apa dirimu, apa posisimu di band, atau hal lainnya. Tidak ada. Hanya sebuah nomor.

Tahukah kau, sayang? Detik itu, aku bahkan belum menyadari, kalau aku tengah berkirim SMS dengan seorang 'Reita' yang sempat 'kuinginkan' kemudian terlupakan, seminggu yang lalu...

* * *

14 April 2009

Ingatkah sayang, apa yang terjadi di siang hari tanggal 14 April, lima tahun lalu? Ya, itu tepat di saat baru dua hari kita berkenalan dan saling berkirim SMS...

...

...

...

Saya mau melamar di perusahaan ibu.

Kira-kira begitulah isi SMS yang kau kirim ketika itu.

Kau pasti masih ingat, sayang. Saat itu kita tengah bercanda tentang bagaimana aku akan mencari seorang kekasih. Yang akan kulakukan adalah membuka lowongan bagi siapa saja yang ingin mendaftar. Seperti layaknya pencari kerja, tiap orang harus membawa CV-nya. Aku melontarkan itu sebagai candaan untukmu. Tapi sepertinya kau tidak sependapat denganku. Kau tiba-tiba mengajukan 'lamaranmu'. Dan kau serius.

Jadi begitulah. Kau seketika menyatakan perasaanmu sebagai respon candaan konyol yang kulontarkan. Sebuah pengakuan hati yang diungkapkan dengan cara menggelikan.

Tidak ada candle light dinner.

Tidak ada surprise romantis.

Tidak ada bunga, coklat, atau boneka. 

Hanya SMS.

Tapi aku tahu kau tulus. Entahlah. Aku tidak bisa menjelaskan, hanya mampu merasakan.

Dan sayang... mungkin setelah hari itu, sekarang dan seterusnya, kita akan menertawakan bagaimana konyolnya SMS kita. Yah, tapi setidaknya kekonyolan SMS itu yang akhirnya secara ajaib membuat aku dan kamu kini menjadi kita. Bukan begitu, sayang?

* * * 

16 April 2009

Tepat dua hari setelah kita memutuskan bersama tapi belum pernah bertemu lagi sejak Bunkasai. Ya, kita berkenalan, lalu berpacaran, tapi masih belum saling mengetahui wajah masing-masing. Oke, ini kekonyolan lain yang sepertinya akan kita tertawakan bersama tentang bagaimana awal hubungan kita dimulai dahulu.

Malam hari itu kau menjalani interview pertamamu bersama personil bandmu di salah satu stasiun radio swasta di Bandar Lampung. Kau memintaku datang menemani. Kau ingin bertemu denganku setelah resmi menjadi kekasihku. Aku katakan aku tidak bisa keluar malam tapi aku akan tetap mendengar interviewmu di radio.

Apa kau masih ingat, sayang? Di salah satu sesi interview, seorang pendengar mengirim SMS dan bertanya apakah kau sudah memiliki pacar. Kau tahu, sayang? Aku menunggu jawabanmu dengan hati berdebar.

"Udah."

Singkat. Tapi jawabanmu telah cukup memberiku kebahagiaan. Tanpa ragu kau ucapkan itu. Kau mengakuiku, mengakui kita, di depan umum.

Selewat interview, kau bercerita bagaimana personil bandmu terkejut mendengar jawabanmu. Tentu saja. Karena yang mereka tahu kau masih single dan belum resmi memperkenalkanku pada mereka. Setidaknya hingga detik itu. Ah, ini kekonyolan hubungan kita lagi yang mesti kita tertawakan bersama, sayang!

* * *

18 April 2009

Akhirnya, hari itu kita berjanji akan bertemu untuk yang pertama kali setelah resmi berpacaran di salah satu stasiun televisi lokal. Saat itu kau tengah mengikuti babak final sebuah kompetisi band di sana. Aku malu mengakui ini, tapi aku mengalami morning sickness sebelum kita bertemu. Aku tidak bisa menelan sarapanku dan merasa mual. Sepertinya aku terlalu gugup.

Tahukah kau, sayang? Di tengah perjalanan, aku terus berpikir: seperti apa dirimu, bagaimana reaksimu melihat wajahku nanti, dan sebagainya. Mungkin aku tipe yang terlalu mengkhawatirkan segala yang belum pasti. Tapi jika ini adalah pertemuan pertama setelah berpacaran nyaris seminggu dan ada kemungkinan kecewa saat melihat fisik masing-masing, bukankah wajar jika aku merasa cemas?

Dan... di sanalah kita akhirnya bertemu.

Pertemuan fisik pertama setelah resmi berpacaran nyaris seminggu.

Kau berlari kecil menjemputku di area parkir. Sosokmu semakin jelas, semakin dekat. Mataku terpaku padamu. Berusaha meneliti tiap sisi dirimu secara tepat. Dan seketika aku kaku. Tanganku berkeringat, terasa sedingin es. Aku tidak mampu merasakan apapun lagi, kecuali kibasan sayap seekor kupu-kupu yang terus-menerus terbang berputar menggelitik dalam perutku. Jantungku berdetak begitu kencang hingga aku takut kau mendengarnya. Sepertinya morning sickness-ku kumat.

Berusaha menutupi kegugupanku--dan kebahagiaanku, tentu saja--aku tersenyum kecil padamu. Kau balas tersenyum hangat. Seraya mencoba memulai obrolan pertama kita dengan gugup, kau pun membimbingku masuk menuju stasiun televisi itu.

Dan apa kau tahu, sayang? Detik itu rasanya aku ingin menjerit di depan wajahmu, "Ya Tuhan... kau adalah 'Reita' yang pernah 'kuinginkan' di Bunkasai dulu!"

* * *

Lima tahun lalu... kita tidak saling mengenal.
Lima tahun lalu... aku hanya kebetulan melihatmu di sana.
Lima tahun lalu... kau hanya kebetulan menyedot perhatianku di atas panggung itu.
Lima tahun lalu... nomormu yang tidak kukenal, nyaris kubuang.
Lima tahun lalu... entah kenapa, kau membuatku nyaman sehingga betah meladeni SMS-mu.
Lima tahun lalu... aku hanya berpikir kalau ini adalah cinta buta, karena aku tidak tahu siapa kamu.
Lima tahun lalu... aku tidak pernah berpikir kalau candaanku akan menjadi awal sebuah "KITA".

Dan sayang, sungguh... aku tidak pernah menyangka kalau sosok yang kukagumi di atas panggung waktu itu kelak akan menjadi jodohku.
Dan sayang, sungguh... aku tidak pernah menyangka kalau sosok yang kukagumi di atas panggung waktu itu justru menawarkan diri untuk kumiliki.

Sayang, kita tahu... begitu banyak tawa dan air mata yang telah kita lewati--dan akan terus kita lewati--bersama.
Sayang, kita tahu... pernah kita hampir menyerah dengan hubungan ini, tapi lalu merasa begitu sesak saat salah satu dari kita menghilang.
Sayang, kita tahu... mungkin kita bisa membohongi satu sama lain, tapi tidak hati kita. Tidak akan pernah.

Aku tahu kau bukan lelaki romantis. Jarang merayu dengan untaian kata indah, jarang menghadiahiku dengan bunga atau coklat. Tapi kau telah melakukan banyak hal--hanya demi aku. Saat aku sakit, kau siap merawatku hingga sembuh, tanpa peduli apakah penyakitku bisa menularimu atau tidak. Saat aku sedih, kau siap menawari bahumu untuk aku bersandar dan memberi penghiburan agar senyumku kembali terlihat. Bahkan saat aku berada di titik terendah dalam hidupku, kau masih setia di sampingku, meyakinkanku bahwa kau tidak akan pernah meninggalkanku. Kau tahu, sayang? Semua yang kau lakukan jauh lebih romantis dari apapun juga.

Karena itu, sayang...
Terima kasih atas ketulusan hatimu.
Terima kasih untuk selalu ada di sana untukku.
Terima kasih untuk lima tahun yang membahagiakan bersamamu.
Terima kasih karena kau telah membuktikan janjimu dulu: memilihku sebagai pendamping hidupmu dan ibu dari anak-anakmu kelak.

Semoga aku bisa mendampingimu selalu, bukan hanya di dunia, tapi juga di akhirat. Aamiin.

Happy 5th Anniversary, sayang.


Dari istri yang selalu menyayangimu,
Mimi

Kita lima tahun lalu...



0 komentar:

Posting Komentar

 

Blog Template by BloggerCandy.com

Full Edited by lovelyshironeko.blogspot.com